Jumat, 15 Agustus 2014

Kecanduan





Gelisah, takut, tidak bisa diam, tidak nafsu makan, hingga semangat menggebu semuanya menjasi satu. Di kota orang jauh dari sana-sini penyakit ini kambuh. Candu. Saya kecanduan.
Sebeginikah dalamnya kau pengaruhi urat syarafku?

Ingin makan pun rasanya iri dengan sendok dan garpu yang berduaan saling setia. Bukannya lemas karena tidak makan, justru tubuh ingin terus bergerak tidak mau diam, kontraksi-kontraksi otot terasakan kembali. Kedua tangan menggenggam handphone erat, otot menguncinya. Namun, masih tetap saja tak saya temukan nama lengkapmu berhuruf kapital muncul di layarnya. Sekedar bertukar kabar pun tidak. Bukan hanya ingin, saya benar-benar butuh. Saya sakau. Jangankan di kota orang, di kota sendiri pun taknpernah bertemu di satu titik. Oh Tuhan, titip salam, titip rindu, titip dia. Betapa gelisah dan khawatir tak satupun tanda alam menyampaikan kabar tentangmu.

Menjajaki tahunnya yang ke-empat, dosis ini semakin tinggi. Bahkan jarak dan waktu tak berkuasa untuk mengobati candu ini. Andai kau dapat melihat dirimu dari sudut pandang saya, betapa dirimu sungguh membuat candu.

Saya positif terjangkit.
Mari candui satu sama lain, saya (masih) tunggu!



Salatiga, 16 Juli 2014, Kamar Kos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar