Senin, 23 Desember 2013

Nahkoda



Belakangan saya merasa iri dengan beberapa orang yang memiliki quality-time yang begitu quality-time dengan kakak ipar atau adik iparnya. Saya jadi kepingin.

Saya ingin punya anggota keluarga baru. Canda baru, suasana baru, hari baru, hidup baru. Pokoknya saya mau punya anggota keluarga baru. Karena kakak atau adik ipar tidak mungkin saya miliki, maka... kamu saja!
Apa saya juga perlu melakukan racruitment untuk memiliki? Untuk memilikimu?

Jadi, wahai makhluk berpostur tinggi besar dengan kulit -yang semakin- hitam, maukah kamu menjadi anggota keluarga saya? Bagian dari keluarga inti saya. Jadi menantu tunggal Ibuk dan Bapak.

Untuk menemani Ibuk ke pasar setiap pagi buta, menemani Bapak nongkrong sambil melihat kilauan lampu kota, membantu Bapak mengurus ayam-ayamnya dan Ibuk dengan ikan-ikannya. Memasakkan kopi untuk Bapak dan merebus pisang untuk Ibuk. Memainkan beberapa putung rokok di tangan beraama Bapak  dan memerhatikan Ibuk yang semakin mahir dengan Game Vector-nya. Menjadi penutup mata untuk saya saat puluhan film horor   menghantui untuk dilihat.

 Lepas dari itu semua, jadilah nahkoda tangguh untuk kapal kita yang akan berlayar ke ujung dunia. Sembari menanti anak buah kapal yang sudah menggedor perut anaknya Ibuk. Tidak ada yang bilang ini semua mudah. Dari perahu untuk menjadi kapal pesiar tentulah butuh komitmen dan kerjasama yang baik.

Pelabuhan akan selalu menunggu kita. Bersamamu, aku tidak lagi takut menjadi asisten nahkoda.




Teras Belakang, 23 Desember 2012, 21:07 WIB ; Kira-kira kita butuh berapa Anak Buah Kapal, wahai Nahkodaku?