Minggu, 17 November 2013

Sayang-nya Naksir

Jika hidupku adalah kamus, mungkin hanya ada tiga buah kata di sini: Aku, Kamu, dan Naksir yang sudah diurutkan sesuai alphabet.

Aku naksir berat dengan segala sesuatu yang ada padamu. Rambut ombak berantakan, kulit hitam keringatan, badan kekar tinggi besar, berjambang dan kumisan. Ah mirip penyanyi luar negeri favoritku. Aku suka ketika kita berpapasan atau hanya berjalan depan-belakang.

Ya begitu saja. Sudah.
Aku naksir kamu sebatas itu saja. Sebatas serat-serat tubuhmu yang mampu kujangkau. Sebatas bahasa tubuh yang terlihat begitu mengayomi. Sebatas suara berat yang lebih sering digunakan untuk tertawa. Sebatas tangan hangat yang ahli mengenggam rokok bermerek hitam.

Tanpa pernah aku berpikir sedikitpun bahwa kelak kamulah yang akan bicara ngalor-ngidul kepada Bapak untuk meminang putri tunggalnya, atau tentang pernikahan sakral yang menjadi mimpi terbesar sebagian orang, tentang membesarkan buah hati bersama, bahkan tak sedikitpun terbayangkan bahwa kelak tanganmulah yang kugenggam erat di saat menopause datang melanda.

Tidak pernah kutitipkan salam pada angin yang terhempas, pada tanah yang bergetar, pada air yang menetes, pada langit yang terik, di saat kita berpapasan aku hanya bahagia tanpa keinginan untuk menyapa. Seperti saat ini, aku hanya naksir tanpa keinginan untuk sayang.







Rumah, 17 November 18:37 ; Ya, untuk saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar