Senin, 18 November 2013

Membotolkan-mu

                                 

Hujan hidup lagi setelah beberapa bulan entah mati atau vakum.
Hujan masih sama. Masih suka membuat genangan kenangan. Masih suka membuat dingin yang menusuk tulang. Masih suka membangunkanku di sepertiga malam untuk sekedar pamer 'ini aku bisa melukis wajahnya di kaca jendela kamarmu dengan embunku'.

Aku tidak tau mengapa hujan yang jatuh selalu membuat jatuh hati. Sama seperti aku tidak tau mengapa jatuh hati begitu sulit didefinisikan. Aku hanya tau tentang dua hal; yang pertama bahwa memikirkanmu cukup membuat hatiku nyeri dan yang kedua aku tidak mau kamu jatuh sakit. Sesederhana itukah aku mendefinisikan jatuh hatiku kepadamu? Ya!

Dari semuanya, aku hanya ingin kamu menjauh dari hujan. Pakai mantel yang tersimpan di kendaraan roda duamu dengan baik. Bawalah payung lipat kemanapun kamu pergi. Jika perlu gunakan plastic-shoes jikalau hujan suka nakal menerobos sepatumu. Maaf Hujan, aku lebih sayang kepada sang calon Nahkoda kapal kami.

Jika saja kamu mau, aku akan membotolkan-mu. 

Berharap aku dapat memilikimu seutuhnya, menahanmu tetap di sini, melakukan satu atau lebih kegilaan baru, menjagamu, mendengarkan musik bersama, saling membaca dan dibacakan buku, mengobrol banyak. Menghangatkanmu. Lalu, meminum-mu.

Sudah aku bilang, kelak kita adalah satu.

Jadi, cepatlah ambil keputusan...







Rumah, Semarang, 18 November 2013, 20:01 ;
Sebelum musim hujan selesai, sebelum jatuh hatiku selesai.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar