Senin, 25 November 2013

Masih dan Akan Terus

"Usia saya 50 tahun. Setengah hidup ini saya habiskan untuk mencintai satu orang laki-laki yang sama di setiap detiknya."

"Hebat! Hingga detik ini?"

"Ya, hingga detik ini saya masih dan akan terus mencintainya dan berharap dia tau."

Kedua mataku berkaca, beberapa tetes air justru menyembul dari ekor mata. Senyum lembut ikut tersimpul di antara bibir ini.
Wanita terkuat yang pernah kutemui perlahan melenggang pergi menjauh.









Rumah, 25 November 2013, 22:38 ; Mbrebes mili.

Senin, 18 November 2013

Membotolkan-mu

                                 

Hujan hidup lagi setelah beberapa bulan entah mati atau vakum.
Hujan masih sama. Masih suka membuat genangan kenangan. Masih suka membuat dingin yang menusuk tulang. Masih suka membangunkanku di sepertiga malam untuk sekedar pamer 'ini aku bisa melukis wajahnya di kaca jendela kamarmu dengan embunku'.

Aku tidak tau mengapa hujan yang jatuh selalu membuat jatuh hati. Sama seperti aku tidak tau mengapa jatuh hati begitu sulit didefinisikan. Aku hanya tau tentang dua hal; yang pertama bahwa memikirkanmu cukup membuat hatiku nyeri dan yang kedua aku tidak mau kamu jatuh sakit. Sesederhana itukah aku mendefinisikan jatuh hatiku kepadamu? Ya!

Dari semuanya, aku hanya ingin kamu menjauh dari hujan. Pakai mantel yang tersimpan di kendaraan roda duamu dengan baik. Bawalah payung lipat kemanapun kamu pergi. Jika perlu gunakan plastic-shoes jikalau hujan suka nakal menerobos sepatumu. Maaf Hujan, aku lebih sayang kepada sang calon Nahkoda kapal kami.

Jika saja kamu mau, aku akan membotolkan-mu. 

Berharap aku dapat memilikimu seutuhnya, menahanmu tetap di sini, melakukan satu atau lebih kegilaan baru, menjagamu, mendengarkan musik bersama, saling membaca dan dibacakan buku, mengobrol banyak. Menghangatkanmu. Lalu, meminum-mu.

Sudah aku bilang, kelak kita adalah satu.

Jadi, cepatlah ambil keputusan...







Rumah, Semarang, 18 November 2013, 20:01 ;
Sebelum musim hujan selesai, sebelum jatuh hatiku selesai.




Minggu, 17 November 2013

Sayang-nya Naksir

Jika hidupku adalah kamus, mungkin hanya ada tiga buah kata di sini: Aku, Kamu, dan Naksir yang sudah diurutkan sesuai alphabet.

Aku naksir berat dengan segala sesuatu yang ada padamu. Rambut ombak berantakan, kulit hitam keringatan, badan kekar tinggi besar, berjambang dan kumisan. Ah mirip penyanyi luar negeri favoritku. Aku suka ketika kita berpapasan atau hanya berjalan depan-belakang.

Ya begitu saja. Sudah.
Aku naksir kamu sebatas itu saja. Sebatas serat-serat tubuhmu yang mampu kujangkau. Sebatas bahasa tubuh yang terlihat begitu mengayomi. Sebatas suara berat yang lebih sering digunakan untuk tertawa. Sebatas tangan hangat yang ahli mengenggam rokok bermerek hitam.

Tanpa pernah aku berpikir sedikitpun bahwa kelak kamulah yang akan bicara ngalor-ngidul kepada Bapak untuk meminang putri tunggalnya, atau tentang pernikahan sakral yang menjadi mimpi terbesar sebagian orang, tentang membesarkan buah hati bersama, bahkan tak sedikitpun terbayangkan bahwa kelak tanganmulah yang kugenggam erat di saat menopause datang melanda.

Tidak pernah kutitipkan salam pada angin yang terhempas, pada tanah yang bergetar, pada air yang menetes, pada langit yang terik, di saat kita berpapasan aku hanya bahagia tanpa keinginan untuk menyapa. Seperti saat ini, aku hanya naksir tanpa keinginan untuk sayang.







Rumah, 17 November 18:37 ; Ya, untuk saat ini.