Kamis, 01 November 2012

Tunggu!




Tunggu!


Suaraku melengking. Aku masih duduk di atas sofa, melihatmu berjalan menuju pintu. Aku tau kemana tujuan mu. Kau ingin membuka pintu yang kuncinya pernah dengan sengaja aku hilangkan itu bukan? Jangan khawatir, aku akan membebaskan mu berkelana, mencari hidup yang menghidupkan mu. Akan kuberikan kunci ini kepadamu.

Kau tidak menoleh, hanya berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.

Saat itu juga aku ingin menggenggam tangan mu erat tempat aku mempercayakan harapan ku untuk kau genggam. Mengecup lembut kening mu dimana keringat kehidupan mengucur disana. Memeluk mu erat dan menyandarkan kepala ku di atas bahu yang ternyata masih sebagai secuil tempat ternyaman di dunia. Akan aku bisikkan kepada mu tentang suatu hal.

Aku lebih suka di-pandang daripada me-mandang. Aku lebih suka di-peluk daripada me-meluk. Aku lebih suka menjadi objek daripada subjek! Namun untuk kata dasar 'tunggu' aku rela menjadi subjek, aku tidak harus di-tunggu, tak apalah jika memang aku harus me-nunggu mu barang sejenak.

Tapi aku masih kaku di atas sofa tanpa sepatah kata. Aku mulai menangis tersedu, belajar merelakan seseorang yang dicintai untuk berbahagia bukan dengan kita memang sulit bahkan cenderung tidak bisa. Tapi kali terakhir ini aku harus bisa!

Tunggu!

Kau menoleh dan lekas aku berikan kuncinya.

Jangan langsung kau kembalikan, aku takut mengunci orang yang salah. Kalau perlu, bawalah kunci ini sampai ke kampus sebrang. Karena aku masih me-nunggu untuk kau masuk lagi dan menutup pintu yang terlanjur terbuka ini... Masih engkau.





Kamis, 1 November 2012, 21:40 ; Kelak aku akan di-tunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar