Selasa, 30 Oktober 2012

Hutan




Saya kelewat merasa biasa saja dengan pertemuan pertama. Saya malas mencatat banyak hal di pertemuan pertama. Saya tidak terlalu memperhatikan detail tentang kamu atau detail dalam diri kamu. Ini bukan tentang hutan yang ternyata perantara Tuhan untuk mempertemukan kita pertama kali, tapi ini tentang saya yang mencoba melihatmu secara biasa. 


Waktu itu, saya belum kepincut dengan aroma tubuhmu yang ternyata perpaduan keringat bercampur dengan minyak wangi refill. Saya belum merasa sejuk ketika melihat empat matamu yang teduh seperti hutan dimana sinar matahari susah mencuri celahnya. Dari bibir tebal mu yang sedikit menghitam, saya masih salah mengambil kesimpulan bahwa yang sebenarnya hobi mu bukan menyulut rokok dalam-dalam atau bahkan ngopi di teras dengan kaki terlipat ke atas. Kamu perfeksionis? Ah ternyata kamu bandel.

Lalu keesokan paginya, masih pagi buta. Mendadak embun di kaca jendela kamar membentuk siluet wajah mu. Aroma tubuhmu menyeruak dalam-dalam. Saya kangen saat mata kita bertemu tidak sengaja dalam jeda waktu yang lebih singkat daripada detik di bawah pohon tengah hutan.

Sementara ada satu hal yang membuat aku kepincut, boleh ditambah banget; kamu pendiam mungkin cenderung pasif. Bukankah itu justru bersensasi? Seolah kantung teh celup bekas yang biasa saya gunakan untuk mengompres mata setelah begadang, seperti membosankan padahal hangat dan penuh sensasi.

Untuk pertemuan selanjutnya, mari masing-masing siapkan kertas dan pensil. Goreskan pensil di atas kertas agar mengeluarkan suara khas untuk memecah keheningan mu dan kebisuan cinta ini juga untuk membentuk susunan huruf yang saling menyanjung dalam diam...di dalam hutan. Mungkin...




Selasa, 30 Oktober 2012, 11:37 : Kelak, mari buat foto pre-wedding di hutan itu, Sayang.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ala...y


Mungkin ternyata aku termasuk salah satu bagian di dalamnya sekalipun aku suka mendadak sakit perut ketika mendengar kata yang akhirnya ku putuskan untuk menjadi judul postingan kali ini.

Aku bukan tipe wanita yang membalas pesan singkat dalam waktu yang singkat. Aku hanya seorang wanita biasa yang membalas pesan singkat dengan sangat singkat.

Psssttt...
Sementara untuk mu, sayang, banyak hal yang sengaja ku buat berbeda.
Ketika LED Ungu memancar dari telepon pintar ini maka dengan segera akan aku tinggalkan semangkuk mie instant rebus ekstra bawang buatan Ibu yang asapnya masih menari kemana-mana, akan aku tinggalkan hujan yang sedari tadi mencari perhatian lewat kisi-kisi jendela, akan aku tinggalkan bulan yang masih terkunci dalam botol kaca, akan aku tinggalkan kunang-kunang yang sudah tulus menerangi hidupku dari pantatnya yang paling dalam. Juga akan aku tinggalkan masa lalu bahkan ku lupakan masa depan karena kamu sudah mewakili dari segala sisi kehidupan.

Maaf sayang, kali ini aku harus benar-benar menambahkan banyak huruf yang sejujurnya tidak terlalu dibutuhkan dalam sebuah kata; alay. Aku hanya sedang terlalu bersemangat untuk mengetiknya. Hujan menarik tangan ku untuk berkali menari di atas tuts. Bulan dengan tubuh bulatnya memaksa jari ku untuk menekan banyak tuts. Bahkan kunang-kunang ikut menerangi banyak huruf yang akhirnya harus aku ketik dan aku kirim untuk mu.

Karena pesan singkat untuk mu akan selalu aku kirim se-berlebihan mungkin. Seperti cinta ku kepada mu yang masih 'kegemukkan'.