Selasa, 20 Maret 2012

Maret Berangin


Saya kembali. Untuk tulisan saya terakhir di tiga bulan lalu. Untuk tiga bulan setelah tiga bulan lalu. Untuk bulan Maret yang ternyata bulan ke tiga di tahun ini dan setiap tahun. Untuk hari Rabu yang juga hari ke tiga di setiap minggu. Untuk tahun lalu dimana hati saya dibagi menjadi tiga fase. Untuk angka 3 yang di buat kembar lalu direkatkan akan menjadi angka 8. Tentunya, untuk tiga paket spesial di hidup saya yang tidak pernah lepas untuk saya doakan di setiap seper-tiga malam; Keluarga, Indonesia, Kamu.

Ah, Maret.
Entah ada apa di bulan ke tiga ini. Bulan angin ini membawa saya kembali menulis. Biasanya di musim hujan saya lebih giat, namun tidak dengan kali ini.

Sekarang, rasanya seperti butiran air di setiap ujung bunga dandelion. Di musim angin ini, hidup saya seperti di setir olehnya. Terbang. Kadang angin membawa saya ke keadaan normal, saya hidup seperti air yang jatuh menjadi titik hujan, melewati kisi-kisi jendela, melompati ujung daun hijau muda, bermain perosotan di atas payung setengah lingkaran, hingga meresap ke dalam tanah lalu mengalir begitu saja dari hilir ke hulu, menuju ke laut, di kondensasikan oleh awan dan menjadi hujan lagi. Begitu seterusnya. Itulah normal.

Kadang kala, saya di terbangkan angin ke keadaan yang sangat normal, bahkan terlalu normal untuk saya. Setelah sekian panjang perjalanan, saya hanya butuh dikondensasikan menjadi hujan yang rintiknya jatuh tidak jauh darimana awal saya berasal. Sungguh, saya tidak harus, tidak perlu, bahkan tidak mau jika harus menetes sambil membeku menjadi salju. Itu terlalu.... Saya belum siap.

Dan, seringnya, saya selalu mau untuk di ajak terbang dengan sengaja ke keadaan kurang normal. Keadaan yang sangat tidak normal. Saya mau saja untuk menetes ke padang pasir, Jauh dari asal muasal saya dari daerah tropis. Tapi di keadaan ini, justru saya kecanduan. Saya ingin melakukannya terus dan terus. Menghujani daerah gersang itu. Ya, memang terkadang tidak dianggap. Mungkin terlalu cepat saya diserap di sana atau mungkin memang tidak tau berterima kasih atau jangan-jangan padang gersang di luar sana memang tidak butuh hujan. Mungkin kamu tidak butuh saya. Tapi saya suka. Rasanya di keadaan abnormal ini saya dibawa di kehidupan yang tidak monoton. Tentunya, karena ada kamu yang menambahkan berbagai rasa di sini. Di bulan Maret. Di musim angin ini.

Maret berangin, saya mulai tau, bahwa saya lebih butuh untuk melakukan apa yang hati saya inginkan daripada apa yang logika saya butuhkan.




Selasa, 20 Maret 2012, 19.20 WIB; Satu tanggal di bulan ini sengaja saya lupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar