Rabu, 26 Desember 2012

Iqbali Wildan



Dasar bocah perempuan, imajinasinya selalu merekah.
Dasar calon ibu, imajinasinya mengalahkan kenyataan.




Semarang, 27 Desember 2012, 11:39; Ha? Mau?

@tubifora





Untuk yang tersayang wahai pemilik akun twitter @tubifora;
Ijinkan aku jatuh cinta dengan ke-universal-an-mu. Kamu yang open-minded.
Ada sesuatu yang ingin aku kirimkan kepadamu via voice notes, tidak bisa aku tuliskan di sini, karena perbedaan kita adalah sesuatu yang 'sensitif'.


Kamis, 15 November 2012

#Ungu Obrolan






Mendekatlah, aku tidak akan menggigit!

Reflek ucap ku setelah melihat mu hanya tersenyum dari jauh. Seperti sebelumnya, kali ini kamu tersenyum ke arah ku, aku yakin, sangat yakin. Bibir khas perokok mu membuat simpul senyum yang membuat aku lekas menyimpulkan hati mu sedang dihujani bunga. Mata bulat mu juga terlihat sayu malu-malu. Pipi mu lebih merah daripada rombongan jerawat yang menutupinya. Jika aku tengok lebih jauh, cacing di dalam perut mu mungkin telah berubah menjadi kupu-kupu yang menggelitikki dada.

Kamu masih tersenyum dari sebrang sana.

Mari berkenalan, sebatas nama juga tak masalah! Paling tidak, agar kamu tidak bingung ketika nanti Tuhan menanyakan siapa jodoh mu.

Aku terkikik melihat mu hanya menganggukan kepala. Menganggukkan kepala itu ambigu. Bisa 'iya' atau 'iya' yang sekedar menenangkan. Kamu masih duduk di sana, senyum juga masih menghiasi bibir hitam mu. Benar-benar... kamu lebih dari kalimat pasif yang pernah aku pelajari.

Cobalah memulai obrolan dengan ku, siapa tau bisa kepincut! Sudah aku siapkan dua gelas kopi pekat. Kunang-kunang bersama cinta merah jambu juga sudah siap di dalam toples kaca untuk menerangi obrolan kita senja ini. Tanggalkan segala keraguan mu, buang jauh-jauh masa lalu mu, ijinkan hati kita memilih topik obrolan yang tepat. Boleh tertawa sampai jungkir balik dengan obrolan dan sedikit candaan. Boleh serius ketika obrolan menjurus ke masa depan. Juga boleh menangis, karena mengobrol adalah gerbang dari sebuah ke-transparan-an hubungan.



Kamis, 15 November 2012, 20:23 ; Sesekali mengobrol dan sesekali menjadi pendengar mu saja.

Senin, 12 November 2012

#Ungu Halte



 
Memperhatikan mu menggulung sedikit demi sedikit lengan kemeja panjang mu. Mengobrak-abrik rambut mu di mana hujan masih bergelayutan pada setiap ujungnya. Mencari sapu tangan yang masih terlipat segiempat rapih di dalam saku celana untuk mengeringkan muka. Melepas kedua sepatu fantovel yang sudah seperti genangan hujan. Kamu adalah gelandangan ter-kece.

Bertahanlah di sini barang sejenak, mungkin halte ini bisa sedikit membantu.

Kamu tersenyum kecut di bawah kanopi halte. Mungkin kamu baru saja dihempaskan masa lalu yang kamu pikir dia dapat merangkap sekaligus menjadi masa depan mu. Apapun itu aku suka ketika kamu menaikkan alis dan mengangguk-anggukkan kepala, seolah segalanya akan membaik karena ada kamu yang lebih baik dari yang terbaik.

Apakah kamu tidak takut dengan kehilangan?

Kata mu polos sambil menyeruput kopi sisa pulang kantor tadi. Reflek, aku gigiti bibir bawah ku; rancu. Aku tau, maksud mu mengunjungi halte ini hanya untuk berteduh. Hanya untuk melupakan masalah yang ada. Berbicara tentang kehilangan, aku satu dari sekian banyak orang yang takut dengan kata itu. Aku takut kehilangan. Aku takut dengan ketidak-abadian. Lebih-lebih aku takut jika kamu bahagia bukan bersama ku.

Bertahanlah di sini barang sejenak. Jadikanlah aku sebuah pelampiasan dan berpura-puralah mencintaiku sampai kamu lupa bahwa sedang berpura-pura.

Aku masih memandangi mu, kaku. Ekor mata ku mulai berair. Serius, ini bukan air hujan. Kamu membenarkan posisi duduk, mungkin mau berpikir. Berpikir untuk kembali ke masa lalu, atau berlari cepat ke masa depan, namun bukankah lebih baik menghargai apa yang ada di dirimu sekarang; aku.

Karena hatiku adalah halte di mana banyak orang berlalu lalang pergi datang pergi datang, maka aku harap kamu adalah gelandangan yang pandai menyimpan kenangan. Maka, bertahanlah disini sayang, untuk jangka waktu yang melampaui segala sekat ruang.



Senin, 12 November 2012, 19:37 ; Sekuat apapun, halte juga bisa berkarat.

Sabtu, 03 November 2012

Meja Makan



Untuk saya pribadi, bagian terfavorit dari dalam rumah adalah kamar mandi yaitu tempat dimana kamu bisa telanjang tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Namun untuk kali ini, saya butuh ngobrol banyak dengan mu. Membicarakan segelintir masalah yang mungkin tidak terlalu berat untuk wanita dewasa di luar sana. Mari berjalan pelan dengan saya menuju meja makan!

Saya suka meja makan berbentuk lingkaran dengan bangku enam sampai delapan yang mengelilinginya. Satu bangku untuk mu, lalu tepat di sebrang mu ada saya yang masih sibuk mempersiapkan banyak hal agar meja makan tampak ramai dengan makanan, minuman, camlilan, satu toples permen telur cicak warna-warni, sendok dan garpu yang sudah berpasnag-pasangan, juga masing-masing dari masa lalu kita yang dibiarkan ikut nimbrung di atas bangku lainnya.

Meja makan dan lingkaran adalah perpaduan dua hal yang sangat menarik yang telah saya cita-cita kan jauh sebelum saya mengerti tentang 'ketidak-terbatasan' yang diajarkan oleh lingkaran. Di atas bangku meja makan berbentuk lingkaran ini, sebenarnya saya hanya sedang menunggu untuk mengambil menu makan favoritmu lalu kemudian secara tidak sengaja tangan kita bersentuhan di atas piring makan yang sama lalu mata kita bertemu dan ujung dada menjadi nyeri lagi, lalu dalam diam kita sepakat untuk merefleksikan cinta yang sempat dikalahkan oleh ke-abu-abuan masa lalu.

Biarlah masing-masing dari masa lalu kita menikmati perdebatan kecil mereka di atas bangku yang tersisa. Bagaimanapun hasilnya tetaplah berjanji untuk menjadi kepala keluarga bijaksana yang selalu duduk di sebrang saya melingkari meja makan ini.

Kemudian, mari lanjutkan makan kita, sayang. Dengan tangan kanan yang sibuk menyuap dan tangan kiri yang saling menggenggam erat melampaui diamater meja makan lingkaran.



Minggu, 3 November 2012, 1:14 ; Bukan makanannya, tetapi kamu yang membuat meja makan selalu 'ngangenin'.

Kamis, 01 November 2012

#Ungu Bertahan






Bukankah memiliki teman tidur se-keren kamu adalah menyenangkan?


Kalimat ku pendek sambil mencelupkan teh celup berkali-kali ke dalam gelas warna putih tulang favoritmu. Tapi bibir ku bergetar menahan air mata yang hampir tumpah. Aku sengaja berdiri lama di depan meja makan berbentuk lingkaran ini dan membelakangi mu. Pagi ini mungkin salah satu pagi yang kurang cerah untukku dan untuk mu yang masih berdiri di depan cermin koridor rumah.

Cuman itu?

 Kamu sepertinya masih ragu dengan jawaban ku dari pertanyaan awal mu, mengapa aku memepertahankan mu sampai sejauh ini. Dengan handuk yang melingkar di leher, kamu menyentuh bahu ku lembut. Tangan hangat mu melelehkan segala bulir kedinginan yang mulai jatuh di pipi ku. Deru nafasmu terdengar berat, aku tau segalanya memang harus selesai bersamamu, tapi aku tidak mau terlalu membebani pikiran mu.

Paling tidak, dapatkah kau rangkai beberapa alasan yang indah agar aku tetap bertahan?

Merespon pertanyaan mu hanya dengan gelengan. Aku masih mengaduk teh yang sebenarnya lupa aku beri gula. Aku kalut. Aku ingin memepertahankan mu lebih lama bahkan selamanya, tapi hidup lebih berhak untuk mengajak mu kemana saja dan dengan siapa saja yang baru di luar sana.

Pergilah mandi, akan aku selesaikan teh ini dengan menambah gula dan menyaring endapannya. Juga akan ku selesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan berdua.

 

Kamis, 1 November 2012, 11:40 ; Bertahanlah untuk mempertahankan yang pantas dipertahankan.

Tunggu!




Tunggu!


Suaraku melengking. Aku masih duduk di atas sofa, melihatmu berjalan menuju pintu. Aku tau kemana tujuan mu. Kau ingin membuka pintu yang kuncinya pernah dengan sengaja aku hilangkan itu bukan? Jangan khawatir, aku akan membebaskan mu berkelana, mencari hidup yang menghidupkan mu. Akan kuberikan kunci ini kepadamu.

Kau tidak menoleh, hanya berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.

Saat itu juga aku ingin menggenggam tangan mu erat tempat aku mempercayakan harapan ku untuk kau genggam. Mengecup lembut kening mu dimana keringat kehidupan mengucur disana. Memeluk mu erat dan menyandarkan kepala ku di atas bahu yang ternyata masih sebagai secuil tempat ternyaman di dunia. Akan aku bisikkan kepada mu tentang suatu hal.

Aku lebih suka di-pandang daripada me-mandang. Aku lebih suka di-peluk daripada me-meluk. Aku lebih suka menjadi objek daripada subjek! Namun untuk kata dasar 'tunggu' aku rela menjadi subjek, aku tidak harus di-tunggu, tak apalah jika memang aku harus me-nunggu mu barang sejenak.

Tapi aku masih kaku di atas sofa tanpa sepatah kata. Aku mulai menangis tersedu, belajar merelakan seseorang yang dicintai untuk berbahagia bukan dengan kita memang sulit bahkan cenderung tidak bisa. Tapi kali terakhir ini aku harus bisa!

Tunggu!

Kau menoleh dan lekas aku berikan kuncinya.

Jangan langsung kau kembalikan, aku takut mengunci orang yang salah. Kalau perlu, bawalah kunci ini sampai ke kampus sebrang. Karena aku masih me-nunggu untuk kau masuk lagi dan menutup pintu yang terlanjur terbuka ini... Masih engkau.





Kamis, 1 November 2012, 21:40 ; Kelak aku akan di-tunggu.

Selasa, 30 Oktober 2012

Hutan




Saya kelewat merasa biasa saja dengan pertemuan pertama. Saya malas mencatat banyak hal di pertemuan pertama. Saya tidak terlalu memperhatikan detail tentang kamu atau detail dalam diri kamu. Ini bukan tentang hutan yang ternyata perantara Tuhan untuk mempertemukan kita pertama kali, tapi ini tentang saya yang mencoba melihatmu secara biasa. 


Waktu itu, saya belum kepincut dengan aroma tubuhmu yang ternyata perpaduan keringat bercampur dengan minyak wangi refill. Saya belum merasa sejuk ketika melihat empat matamu yang teduh seperti hutan dimana sinar matahari susah mencuri celahnya. Dari bibir tebal mu yang sedikit menghitam, saya masih salah mengambil kesimpulan bahwa yang sebenarnya hobi mu bukan menyulut rokok dalam-dalam atau bahkan ngopi di teras dengan kaki terlipat ke atas. Kamu perfeksionis? Ah ternyata kamu bandel.

Lalu keesokan paginya, masih pagi buta. Mendadak embun di kaca jendela kamar membentuk siluet wajah mu. Aroma tubuhmu menyeruak dalam-dalam. Saya kangen saat mata kita bertemu tidak sengaja dalam jeda waktu yang lebih singkat daripada detik di bawah pohon tengah hutan.

Sementara ada satu hal yang membuat aku kepincut, boleh ditambah banget; kamu pendiam mungkin cenderung pasif. Bukankah itu justru bersensasi? Seolah kantung teh celup bekas yang biasa saya gunakan untuk mengompres mata setelah begadang, seperti membosankan padahal hangat dan penuh sensasi.

Untuk pertemuan selanjutnya, mari masing-masing siapkan kertas dan pensil. Goreskan pensil di atas kertas agar mengeluarkan suara khas untuk memecah keheningan mu dan kebisuan cinta ini juga untuk membentuk susunan huruf yang saling menyanjung dalam diam...di dalam hutan. Mungkin...




Selasa, 30 Oktober 2012, 11:37 : Kelak, mari buat foto pre-wedding di hutan itu, Sayang.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ala...y


Mungkin ternyata aku termasuk salah satu bagian di dalamnya sekalipun aku suka mendadak sakit perut ketika mendengar kata yang akhirnya ku putuskan untuk menjadi judul postingan kali ini.

Aku bukan tipe wanita yang membalas pesan singkat dalam waktu yang singkat. Aku hanya seorang wanita biasa yang membalas pesan singkat dengan sangat singkat.

Psssttt...
Sementara untuk mu, sayang, banyak hal yang sengaja ku buat berbeda.
Ketika LED Ungu memancar dari telepon pintar ini maka dengan segera akan aku tinggalkan semangkuk mie instant rebus ekstra bawang buatan Ibu yang asapnya masih menari kemana-mana, akan aku tinggalkan hujan yang sedari tadi mencari perhatian lewat kisi-kisi jendela, akan aku tinggalkan bulan yang masih terkunci dalam botol kaca, akan aku tinggalkan kunang-kunang yang sudah tulus menerangi hidupku dari pantatnya yang paling dalam. Juga akan aku tinggalkan masa lalu bahkan ku lupakan masa depan karena kamu sudah mewakili dari segala sisi kehidupan.

Maaf sayang, kali ini aku harus benar-benar menambahkan banyak huruf yang sejujurnya tidak terlalu dibutuhkan dalam sebuah kata; alay. Aku hanya sedang terlalu bersemangat untuk mengetiknya. Hujan menarik tangan ku untuk berkali menari di atas tuts. Bulan dengan tubuh bulatnya memaksa jari ku untuk menekan banyak tuts. Bahkan kunang-kunang ikut menerangi banyak huruf yang akhirnya harus aku ketik dan aku kirim untuk mu.

Karena pesan singkat untuk mu akan selalu aku kirim se-berlebihan mungkin. Seperti cinta ku kepada mu yang masih 'kegemukkan'.

Senin, 20 Agustus 2012

Terakhir


Kemarin lusa, timeline dan recent updates seperti dipenuhi dengan kata 'terakhir'. Puasa terakhir. Dan aku tetap keukeuh untuk menyebutnya sebagai penutupan puasa. Sudah ku bilang, aku tidak suka dengan kata itu!!!

Terakhir itu terkesan pesimis.
Aku...seorang anak tunggal yang -menuurt ramalan Jawa- tidak boleh menikah dengan pria sebagai anak terakhir di keluarganya, sementara kau adalah anak kedua dari dua bersaudara, ini alasan pertama mengapa aku tidak kepincut dengan kata itu. Menjadi seseorang yang di-terakhir-kan dalam hidupnya, sementara kita adalah lakon dari hidup kita masing-masing. Merayakan satu tanggal yang diulang setiap tahunnya untuk dirayakan terakhir kali. Terakhir itu tidak ada yang tau. Sudahlah, jangan menuhankan diri sendiri dengan kata itu!

Hanya di dalam dirimu, aku temukan kata 'terakhir' muncul sebagai oksigen yang menghidupkan pesimis yang mematikan. Karena ketika bersama mu, terakhir itu terkesan optimis.

Mengambil nama terakhir mu untuk diimbuhkan di nama belakang anak kita kelak dengan berusaha menjadikan mu yang terakhir di hidup ku.



Selasa, 21 Agustus 2012, 00:50 ; Akhirnya masih harus kamu!

Mencintai



Siapapun boleh anggap judul postingan saya kali ini terlalu standar, termasuk engkau.

Sementara untukku, mencintai itu memberi. Memberi tatapan untuk meyakinkan segala keraguan mu. Memberi senyuman ketika hari mu terlalu abu. Memberi bahu yang menjinakkan segala emosi logika mu. Memberi kedua lengan karena dingin terlalu menusuk tulang. Memberi celah jari tangan sebagai tempat jari-jari tangan mu yang lain karena kita adalah pelengkap. Memberi hati yang sengaja aku kosongkan agar kelak kau dan perut buncit mu tidak kesempitan untuk hidup di dalam sana. Memberi kebiasaan bahwa lebih baik memulai hari dengan kaki kanan. Memberi sesuatu yang memang hanya kau yang harus menjadi pemilik pertama sekaligus terakhirnya.

Sementara pepatah, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Sedangkan mencintai, sama sekali tidak menjadikan saya sebagai pemilik tangan di atas ataupun tangan di bawah itu.
Karena mencintai adalah menjadikan saya menjadi pemberi sekaligus penerima.

Asal berdua dengan mu, mencintai itu takkan sekedar cinta yang diberi imbuhan me-i.



Senin, 20 Agustus 2012, 11:50 ; Sekalipun mencintai terkadang seperti tiga huruf dibelakangnya.

Rabu, 28 Maret 2012

Password


Kata kunci... Eum apa ya?
Aku pernah membayangkan ketika aku dapat mengetahui kata kunci -terutama jejaring sosial- milik setiap orang. Pasti menggelikan. Ada yang huruf atau angka diulang berkali-kali. Ada yang tanggal lahir. Ada yang tanggal spesial. Malah, ada juga yang memjadikan nama seseorang sebagai kata kuncinya. Atau salah satu dari kalian ada yang sama sepertiku; terbodohi dengan angka dan huruf yang dikeramatkan sendiri.

Untukku, kata kunci bukan sekedar menekan tuts enam sampai duabelas kali, kalau hanya itu siapapun bisa. Kata kunci bukan sekedar mengetik tanggal lahir yang diketahui banyak orang. Kata kunci bukan sekedar mengetik angka atau huruf berulang-ulang agar tidak mudah lupa. Kata kunci bukan sekedar mengetik nama seseorang, yang jika patah hati, mau tidak mau harus mengganti kata kunci lagi dan lagi.

Kata kunci lebih dari sekedar itu semua. Kata kunci harus ada maknanya agar terpelihara dengan baik di antara otak dan di dalam hati.

Aku memilih huruf dan angka yang ku keramatkan dengan ribuan makna di dalamnya, sebagai kata kunci ku. Dari setiap angka dan huruf itu, sudah pasti, ada tentang kamu yang tersirat di sana. Kamu tersirat! Aku memilih kamu yang ku-tersirat-kan dengan ribuan alasan yang menjadikan mu sebagai kata kunci ku.

Untuk inisial mu, untuk inisial ku juga, untuk tanggal lahir, untuk plat nomor, untuk nomor absen, untuk angka di jam digital. Untuk huruf dan angka yang menyangkut tentang kamu, tentang aku, kita. Terimakasih sudah menjadikan password yang ku buat ini lebih bermakna.




Rabu, 28 Maret 2012, 00:00 ; Mengetik password dengan perasaan campur aduk, selalu.

Selasa, 20 Maret 2012

Akuarium


Akuarium di teras belakang rumah ku. Ibu mengisi dengan ikan-ikan kecil. Kata penjualnya, yang oranye itu betina, yang hitam keabuan itu jantan. Aku dan Ibu membelinya di pasar tradisional akhir tahun kemarin. Sengaja atau tidak, penjual tepat memberi 25 ekor betina dan 25 ekor jantan lalu di masukkan ke dalam plastik, mungkin ini sudah jodoh. Tapi jodoh bukan di tangan penjual ikan, mungkin dia hanya perantara Tuhan.

Ibu merawatnya dari sore hingga bertemu sore lagi. Dengan sabar membersihkan air akuarium yang menghijau dalam waktu yang relatif singkat, sengaja, Ibu tidak memberi alat oksigen untuk sirkulasi, katanya pendek, "Ini hidup, Ung." Mungkin maksudnya tentang perjuangan hidup.

Perjuangan hidup. Awalnya aku berpikir, bagaimana mau memperjuangkan hidup jika Ibu terus mengurung ikan-ikan itu di dalam kotak kaca 1x1 meter itu. Memang, Ibu rawat mereka dengan benar, tapi di satu sisi, mereka butuh berenang bebas di air yang tidak terbatas, melewati serunya berburu makan, menyaksikan sinar matahari sampai tetesan hujan langsung dari bawah permukaan laut. Mereka tidak ingin dipelihara di akuarium.

Aku juga begitu, sebuah malam di awal tahun ini, kami, antara aku dan Ibu sempat berdiskusi di bangku rotan teras belakang dekat dengan akuarium yang airnya sudah menghijau itu. Aku harus ke luar kota, menempuh ilmu di sana, aku harus belajar mandiri, aku harus...harus melakukan apa yang selama ini belum tentu aku lakukan di rumah. Enam sampai tujuh alasan panjang aku ungkapkan dengan suara meninggi. Namun, beliau tetap keukeuh dengan pendapatnya bahwa tidak ada tempat yang lebih indah daripada rumah sendiri.

Aku dan ikan-ikan kecil di dalam akuarium. Kami sama-sama belum ada kesempatan untuk menjelajah keluar, tapi tidak masalah, karena sekarang aku paham betul maksud Ibu malam itu.
Ibu, terimakasih sudah menjadi lebih transparan daripada kaca akuarium untuk ikan-ikan yang butuh dipelihara dengan hati. Terimakasih juga, sudah menjadi rumah yang bukan sekedar bangunan untuk saya.

Maret Berangin


Saya kembali. Untuk tulisan saya terakhir di tiga bulan lalu. Untuk tiga bulan setelah tiga bulan lalu. Untuk bulan Maret yang ternyata bulan ke tiga di tahun ini dan setiap tahun. Untuk hari Rabu yang juga hari ke tiga di setiap minggu. Untuk tahun lalu dimana hati saya dibagi menjadi tiga fase. Untuk angka 3 yang di buat kembar lalu direkatkan akan menjadi angka 8. Tentunya, untuk tiga paket spesial di hidup saya yang tidak pernah lepas untuk saya doakan di setiap seper-tiga malam; Keluarga, Indonesia, Kamu.

Ah, Maret.
Entah ada apa di bulan ke tiga ini. Bulan angin ini membawa saya kembali menulis. Biasanya di musim hujan saya lebih giat, namun tidak dengan kali ini.

Sekarang, rasanya seperti butiran air di setiap ujung bunga dandelion. Di musim angin ini, hidup saya seperti di setir olehnya. Terbang. Kadang angin membawa saya ke keadaan normal, saya hidup seperti air yang jatuh menjadi titik hujan, melewati kisi-kisi jendela, melompati ujung daun hijau muda, bermain perosotan di atas payung setengah lingkaran, hingga meresap ke dalam tanah lalu mengalir begitu saja dari hilir ke hulu, menuju ke laut, di kondensasikan oleh awan dan menjadi hujan lagi. Begitu seterusnya. Itulah normal.

Kadang kala, saya di terbangkan angin ke keadaan yang sangat normal, bahkan terlalu normal untuk saya. Setelah sekian panjang perjalanan, saya hanya butuh dikondensasikan menjadi hujan yang rintiknya jatuh tidak jauh darimana awal saya berasal. Sungguh, saya tidak harus, tidak perlu, bahkan tidak mau jika harus menetes sambil membeku menjadi salju. Itu terlalu.... Saya belum siap.

Dan, seringnya, saya selalu mau untuk di ajak terbang dengan sengaja ke keadaan kurang normal. Keadaan yang sangat tidak normal. Saya mau saja untuk menetes ke padang pasir, Jauh dari asal muasal saya dari daerah tropis. Tapi di keadaan ini, justru saya kecanduan. Saya ingin melakukannya terus dan terus. Menghujani daerah gersang itu. Ya, memang terkadang tidak dianggap. Mungkin terlalu cepat saya diserap di sana atau mungkin memang tidak tau berterima kasih atau jangan-jangan padang gersang di luar sana memang tidak butuh hujan. Mungkin kamu tidak butuh saya. Tapi saya suka. Rasanya di keadaan abnormal ini saya dibawa di kehidupan yang tidak monoton. Tentunya, karena ada kamu yang menambahkan berbagai rasa di sini. Di bulan Maret. Di musim angin ini.

Maret berangin, saya mulai tau, bahwa saya lebih butuh untuk melakukan apa yang hati saya inginkan daripada apa yang logika saya butuhkan.




Selasa, 20 Maret 2012, 19.20 WIB; Satu tanggal di bulan ini sengaja saya lupakan.