Jumat, 30 Desember 2011

Ungu


Sejak dulu, saya jatuh hati dengan warna ungu. Saya letakkan itu di belakang setelah perasaan saya untuk mu. Karena kamu masih sebagai prioritas alasan mengapa hati saya harus jatuh; jatuh hati.

Saya seperti merah pekat. Hidup saya monoton dan gelap. Lalu diperjalanan, saya menemukan mu. Mengenalmu di sudut pandang lain sebagai biru. Biru langit yang cerah, sumringah, berubah-ubah. Saya butuh sosok sepertimu di sini. Untuk membantu mencerahkan apapun yang awalnya kelam. Mendekap saya lekat dan membiarkan bahasa tubuh kita berbicara. Mencari sebuah getar luar biasa jauh di dalam mata. Menikmati nyeri di ujung dada yang semakin semena-mena. Mensyukuri cinta kita yang ‘kegemukkan’.

Saya Merah. Hei, Biru, mari membuat dunia ungu dengan saya.

Tidak perlu lebih pekat merah ataupun lebih banyak biru. Karena kali ini tujuannya untuk membuat saya dan kamu sebagai kita, juga menyatukan apapun yang dulu masih masing-masing.



Sabtu, 31 Desember 2011, oo:o8. Kamar Ungu ; Sambil menunggu LED Ungu BlackBerry saya berkedip-kedip.

Sabtu, 24 Desember 2011

Selamat Hari Malaikat Tak Bersayap


*Banyak yang bilang beliau mirip wanita Batak
dan saya mirip bocah Cina
(sewaktu masih putih dulu).
Namun wanita dan calon wanita di atas
adalah keturunan Jawa asli tepatnya
di Candi Losmen yang siap
mendobrak dunia.





*Ibu, saya, dan Ma'e (panggilan orang Jawa untuk seorang Nenek)
Calon seorang Ibu sukses duduk di antara pendaran kasih sayang Ibu dan Nenek sukses.
Merayakan pesta ulang tahun yang sangat sederhana sekali di ruang tamu yang tidak kalah sederhananya dengan kue buah karya Ma'e, jajaran tas jajanan yang dengan sabar di-lipat dan di-lem satu persatu oleh Ibu, karpet, rok kami yang mewah pada waktu itu, meja yang kacanya pecah setengah, kursi sudut yang seratnya mulai terlihat dan sering saya sobek sedikit demi sedikit, balon yang ditiup Bapak, juga kasih sayang dari mereka untuk saya dan dari saya untuk mereka yang ikut berkumpul bernyanyi, meniup terompet, makan dan minum sepuasnya, berdoa dan berharap banyak untuk kebahagiaan saya.
Seolah keadaan ekonomi waktu itu dapat di-jeda beberapa jam special untuk ulang tahun saya seperti dua kali pesta di tahun-tahun sebelumnya.
Wanita tiga generasi di atas cukup bahagia hanya dengan saling bertukar cinta.




*Saya posting 15 menit sebelum memasuki tanggal dua puluh dua desember. Dengan harapan esok paginya saya ada nyali untuk mengucapkan langsung kepada beliau.
Lalu seharian penuh saya seperti berdiri di antara gengsi dan takut -melihat air mata terharu Ibu.
Hingga 17 kali dari 83 kali Hari Ibu, tak satupun kata saya ucapkan kepadanya tentang Terimakasih dan Maaf -dua kata sederhana yang sangat sulit diucapkan- untuk 17 tahun belakangan ini.




Karena bicara tentang Ibu tiada habisnya, maka, ini saya pinjami earphone warna pink, lalu pasang di kedua telinga Ibu dan dengarkan banyak di sela-sela waktu Ibu menjadi Ibu rumah tangga.


Dari
Cinta penghabisanmu,

Ung