Rabu, 26 Oktober 2011

Sim-Card


Melipat tangan di atas meja kayu coklat. Mencoba mengontrol emosi di ujung dada. Memakai sweater rajutan warna ungu di siang terik ini. Memasang headset di kedua telinga namun tak satupun lagu aku putar. Sengaja. Aku hanya sedang kangen dengan nada bicara mu yang dilagukan itu. Lucu. Ingin tertawa seperti dulu, sekalipun sekarang tidak harus dengan mu lagi. Namun aku tidak terlalu ingin memperlihatkannya -kepedulianku.

Ada dua handphone di depan mu. Milik ku, milik mu. Katanya, kamu masih simpan aku di sana. Entah harus bahagia atau apa. Namun kata mereka, aku harus bersyukur. Bersyukur masih kamu simpan. Sementara hanya ada beberapa orang saja yang kamu simpan di Sim-Card. Aku salah satunya. Sim-Card yang tidak akan kamu ganti sekalipun nanti kamu akan berganti handphone. Mungkin maksud mu, agar aku tidak akan terganti.

Aku juga masih menyimpan mu. Spesial untuk kamu, aku simpan di Sim-Card juga. Karena aku tidak akan berganti nomor handphone, lagi-lagi untuk memudahkanmu. Kamu masih akan selalu aku simpan. Dengan nama yang paling istimewa dari yang lain. Dengan ringtone berbeda dari yang lain juga. Dengan LED ungu warna favoritku. Dengan sebuah foto, yang jerawatmu tidak terlalu terlihat jelas di sana. Dengan sebuah catatan kecil yang aku ketik di ujung paling bawah profil kontak mu. Lalu sepertinya, cukup aku, blackberry ungu ini, dan Tuhan saja yang faham apa isinya. Lalu wallpaper, background pesan pendek, semuanya kubuat sedemikian rupa untuk sekedar mewakili perasaan ini bahwa kamu...masih spesial.

Bagaimana jika kita saling menyimpan. Aku meyimpan mu dengan berbagai keistimewaan -yang sedikit berlebihan. Kamu menyimpan ku secara sederhana di Sim-Card yang tetap ada di dirimu sekalipun nanti kamu harus berganti handphone.



Sabtu, 22 Oktober 2011, 11:45 ; Pertanyaannya, kamu akan lebih dulu berganti handphone atau justru nomor handphone?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar