Senin, 03 Oktober 2011

Rokok


Senja ini aku bergegas meninggalkan tempat tidur. Tidur siang tadi terlalu nyenyak hingga aku harus bangun terlambat. Tanpa mandi atau apa itu sudah biasa. Hanya cuci muka sekedar untuk menghilangkan siluet bantal di sekitar pipi, dan sesuatu yang telah mengering di sekitar bibir. Katanya, Bapak ingin mengajakku makan sate. Bapak akan mentraktirku. Bapak memang sering begini, suka baik sekali jika sedang tidak banyak pikiran. Atau mungkin Bapak lagi jatuh cinta malam ini. Hahaha. Sudahlah...

Di warung sate pinggir jalan yang antreannya lumayan panjang. Hanya butuh 20 tusuk sate saja harus menunggu tiga kali lipatnya. Akhirnya kami hanya duduk. Aku membaca koran sekenanya, yang sebagian besar sudah ketumpahan kecap. Kalau Bapak sudah tidak perlu ditanya. Di waktu membosankan begini, pasti mengeluarkan senjata andalannya; Rokok.

Soal rokok, aku jadi ingat seseorang yang merk rokoknya sama seperti Bapak.
Hei, kamu apa kabar? Ingat tidak, hujan siang itu, waktu aku pakai jaket kulit coklat yang bau rokok. Serius, berkali aku bilang, itu jaket Bapak. Bapak memang perokok -sangat- aktif. Kamu tidak juga percaya, kamu pikir aku perokok juga, seperti kamu dan Bapak. Sampai pernah menawariku sebatang rokok juga. Jadi ingin cekikikan jika mengingatnya.

Lalu kita bercanda kecil tentang rokok. Tentang api dan abunya. Tentang abu yang tidak bisa menjadi apa-apa tanpa api. Tentang abu yang dibuang setelahnya. Tentang cahaya kecil di ujung namun bisa menghabiskan sampai mulutmu juga. Tentang kamu yang selalu lupa membalas pesan pendekku. Tentang sapu-tangan hijau yang di ujung dekat pita merahnya berlubang kecil. Tentang mata mu yang mulai memerah. Tentang kuku mu yang sering kotor. Tentang gigi mu yang menguning. Tentang nafas mu yang...ah. Semua itu karena rokok!

Aku jauh mengerti kamu daripada rokok. Sekalipun prioritas mu tetap rokok.



Sabtu, 1 Oktober 2011, 18:38 ; Bungkus rokok Marlboro mu masih ku sembunyikan di meja rias ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar