Selasa, 04 Oktober 2011

Petrichor


"Bagaimana aromanya? Kamu suka?"

Tetap tidak saya temukan jawaban mu. Kamu masih menyalakan tv, menekan-nekan remote dari angka 1 hingga 9 hingga 0 lalu kembali lagi ke angka 1, terus. Padahal kali ini tv sedang semutan. Gambarnya naik turun. Suaranya serak. Antena mungkin sedang asyik mengobrol bersama petir. Maklum di luar sedang hujan deras. Bukannya ini yang kamu mau? Katanya kamu kangen hujan.

Justru malam ini kamu sedang engga-banget. Endapan kopi yang biasanya kamu tambah air panas lagi, malah kali ini sengaja kamu jadikan asbak untuk ke-empat putung rokok mu. Yang biasanya Jazz, jadi Alternative Rock. Bantal sofa sudah kemana-mana. Lampu sengaja tidak kamu nyalakan sejak penutup senja tadi. Kamu tanggalkan semua kebiasaan-kebiasaan kita.

Yang membuat saya semakin heran, mengapa suasana wajah mu juga ikut se-tidak-karuan ruangan ini?

Saya lepaskan perlahan remote tv dari tangan kiri mu. Saya mencoba menyelipkan ke-lima jari-jari tangan kanan saya ke celah-celah itu. Mungkin benar, celah tangan sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk saling memenuhi dan dipenuhi satu sama lain. Lalu, saya coba genggam -erat. Kamu menonton acara tv, namun hanya kekosongan yang saya temukan di mata mu. Saya bersandar perlahan di bahu kiri mu. Saya mengumpulkan nyali untuk sekedar menatap mu dari sudut bawah. Kamu masih berbeda dari sebelumnya. Memang tidak ada bentuk perlawanan dari mu namun bahasa tubuhmu kaku!

Lalu saya coba tanya,
"Bagaimana tentang petrichor? Kamu suka?"

Masih tidak ada jawaban. Lalu perlahan saya seperti disadarkan bahwa saya terlalu memaksakan dunia saya kepada mu. Tentang angin, tentang gerimis, tentang hujan, tentang pelangi, tentang genangannya, tentang petrichor. Ya sudah, saya pergi saja.

Entah semenjak malam itu apakah kamu sudah menyadarinya atau belum. Kalau saya meninggalkan botol kaca seukuran tiga ruas jari di depan cermin dekat meja tv. Sengaja saya letakkan di sana, agar kamu yang setiap sebelum mandi bercermin dulu bisa melihatnya. Sebenarnya botol itu berisi petrichor. Saya kumpulkan dari teras belakang di saat hujan pertama kali musim ini. Kalau masalah aromanya....saya tidak mampu menuangkannya dalam kata-kata. Yang jelas, jangan kamu sia-siakan petrichor itu. Karena itu parfum terbaik, termahal, terawet, terlangka, dan terakhir yang saya hadiahkan untuk mu di hari '3-tahunan' mu dengan wanita itu.

"Sudah kamu coba? Bagaimana aromanya? Kamu suka?"




Sabtu, 25 Juni 2011, 22:28 ; Kalau saya suka sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar