Sabtu, 01 Oktober 2011

Nyeri


Semakin saya ceritakan, semakin tidak ada habisnya. Malam minggu ini, saya masih tetap di kamar bersama nyamuk-nyamuk yang sudah berpasang-pasangan. Mungkin memang Tuhan belum menghadiahkan untuk saya seseorang yang seharusnya menjemput untuk sekedar menghilangkan penat di saat-saat seperti ini. Saya juga masih dengan kaos ungu muda khas Bali oleh-oleh dari teman saya yang sekarang sudah robek di sisi lengan bagian kiri, dengan pasangan celana pendek futsal kuning-hitam dengan nomor 25, entah apa, saya nyaman saja menggunakannya. Apalagi saat kondisi seperti ini, saat hujan jarang menyapa. Ah kangen hujan.



Saya gigiti kuku, hingga kutek biru tua yang menutupinya perlahan pudar -tidak sengaja. Mengikat rambut setinggi mungkin agar udara sejuk teras belakang sedikit bisa membantu menyegarkan. Air mineral yang tertinggal di dalam tas putih blacu siang tadi langsung saya habiskan. Melipat lutut dan bersandar di kursi rotan. Rasanya lebih dari grogi. Teman, mungkin ini semacam nyeri. Karena nyeri ini semakin menjadi-jadi. Saat mendengar nama mu saja, nyerinya sudah mulai terasa. Lalu perlahan mata ini tidak lagi fokus pada apa yang saya lihat, seperti berbayang. Juga ribuan semut seolah mengkrikiti otak bagian dalam saya, kepala saya berdenyut kencang. Tangan bergetar sejadinya. Menghela nafas berkali-kali. Membanting pintu lalu lari ke teras belakang tanpa lampu -menangis.


Seandainya kau ada di sini, sudah saya siapkan kuncinya agar kau bisa masuk dan sekedar mengintip. Hati ini seperti ingin melangkah maju namun masa lalu menahannya, sementara saya tak punya pegangan satupun untuk kedepannya. Kupu-kupu di dalam dada juga mulai bingung. Sedangkan saya sendiri hanya bisa memainkan ibu jari kaku di petakan tanah teras belakang. Saya menatap ke bawah, karena bulan dan bintang di langit sedang menikmati dunia mereka sendiri. Hingga mata saya mengarah ke bawah dan melihat dua onggok angka, nyeri bertambah, saya memutuskan untuk melihat pemandangan kota saja. Benar Teman, ini nyeri. Juga sudah saya ceritakan kepada Ibu, namun beliau bilang, tak perlu meminum obat karena saya lebih butuh istirahat. Mungkin di satu sisi, istirahat yang cukup memang lebih efisien daripada obat. Di sisi lain, Ibu juga wanita, mungkin nyeri seperti ini bukan sembarang nyeri, Teman.
Hey, kemari. Kenakan pakaian futsal mu juga. Saya sudah cukup senang meski kau tak pernah memamerkannya di tengah lapangan.



Teras Belakang. Sabtu, 1 Oktober 2011, 21:06 ; Ternyata sang pembuat nyeri justru obatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar