Jumat, 07 Oktober 2011

Nyaman


Sore ini saya duduk di sebuah bengkel. Bersama matahari oranye yang seakan ingin membakar penatnya hari ini. Menemani Bapak yang dulu pernah menjadi seorang montir juga. Namun kali ini konteksnya berbeda, kami hanya mengganti oli saja. Lalu, saya pilih untuk duduk di bangku-besi-hijau-panjang yang sepertinya sengaja ditanam kuat di bagian samping teras bengkel. Hanya ada satu yang saya dengar, pantat saya berkata; nyaman.

Bengkelnya di pinggir jalan. Pada jam pulang kerja begini, memang antara macet dan klakson sulit dipisahkan. Bising! Andai saja saya dapat melukiskan bagaimana kondisi sebenarnya. Licin, oli dimana-mana. Sampah bungkus makanan, kardus-kardus bekas, dapat ditemui di setiap ujungnya. Putung rokok, asbak, kopi, air mineral, kacang kulit, seperti sudah tidak layak konsumsi. Bahkan dekat ujung kaki saya, seperti ada bekas orang meludah di sana. Ah sudahlah. Bapak dulu sewaktu menjadi montir juga begitu; asal-asalan. Terkadang saya masih sering heran, apakah yang membuat Ibu betah dengan setiap sore di beri 'oleh-oleh' pakaian kotor dengan banyak oli milik Bapak dulu? Lagi-lagi cinta harus tanpa alasan.

Namun, jujur. Tidak sedikitpun tersirat untuk pergi dari tempat yang notabene jauh dari kata nyaman. Justru di situ saya merasa nyaman. Nyaman dengan apapun yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kali ini, pantat juga otak ikut berkata; nyaman.

Lalu tiba-tiba saya ingat sesuatu... Hei, teman-teman dekat, sekarang saya sudah punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan kalian tempo hari itu. Tentang bagaimana saya bisa jatuh hati kepadanya. Di satu sisi kalian berfikir dia yang kurang tampan, dia yang kurang tinggi, dia yang sedikit hitam, tatanan rambutnya yang berantakan, perutnya yang buncit, kepribadiannya yang -menurut kalian- 'engga banget', dia yang gengsi, juga tentang hari-harinya yang diisi oleh tidur, lagu, dan...apapun itu yang kalian fikir dia masih banyak kekurangan.

Sayangnya, saya terlanjur nyaman.

Nyaman dengan apapun yang menjadi ciri khasnya. Yang banyak orang berfikir itu adalah kekurangannya, justru di sisi lain saya anggap itu ke-unikan-nya.


Karena nyaman, bukan tentang kuantitas sekalipun kualitas. Namun tentang apa yang sedari tadi saya coba definisikan namun terus gagal, mungkin karena sedang tidak ada kamu di sini.





Bengkel Bintang Makmur, Sriwijaya. Selasa, 4 Oktober 2011, 16:14 ; Kenyataannya, 'Nyaman' diawali dengan huruf 'N'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar