Senin, 03 Oktober 2011

Matahari Fajar


Alarm di handphone ku bunyi. Dengan lagu berjudul Kangen milik Chrisye lalu aku lihat hanya emoticon wanita jatuh cinta di layarnya. Oh bukannya itu alarm yang aku aktifkan semenjak Maret lalu. Waktu itu aku memang sedang se-jatuh-cinta-cinta-nya. Juga waktu itu setiap awal bulan, kamu minta aku bangun di saat fajar dan kita 'ketemuan'.

Fajar kali ini, dengan tali be-ha ungu ku yang masih lari kesana kemari, dengan celana futsal hitam-kuning, dengan kaos barong ungu oleh-oleh mu dari Bali yang mulai menyempit di bagian lengan, dengan rambut berantakan seperti rambutmu yang jarang tertata rapih, tanpa cuci muka atau gosok gigi, aku langsung ke tempat itu. Tempat yang dulu pernah kita sepakati untuk bertemu.

Tempat istimewa. Bukan bukit berbunga dengan pemandangan pantai luas yang dapat untuk menikmati matahari fajar secara bebas. Namun kita justru memilih bukit kersen -sejenis buah ceri. Bentuk pohon kersen yang tinggi dan cabangnya tumbuh kemana-mana. Matahari harus mencuri celah pepohonan untuk masuk. Di sana memang lembab, seringkali ada genangan air hujan sisa semalam. Jangankan bunga, lumutpun terpaksa tumbuh di sana. Eum apa ya? Aku suka saja, ya begitu.


Siapa bilang tidak romantis!
Justru di sana, kita dapat menghargai hal sekecil apapun yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma. Mencari matahari fajar dari sela-sela cabang pohon. Mengintip burung yang sedang menikmati buah kersen. Belajar banyak dari genangan hujan yang tersirat sebagai genangan kenangan. Duduk berdua melipat kaki tanpa alas apapun. Memejamkan mata. Mencari tempat yang tepat, agar sinar matahari fajar langsung menyilaukan mata. Sembari kita bercerita apa yang terjadi sebulan belakangan ini. Indah...

Ini pertama kalinya aku mencoba ke sana lagi, setelah beberapa lama kita sempat melepaskan segalanya yang dulu pernah terhubung. Siapa tau kau sudah ada di sana. Aku lari cepat. Lebar langkahku dua kali dari biasanya. Dan...hei itukah kamu? Dari jauh aku lihat kaos futsal hitam-kuning favorit mu yang terkena sedikit matahari yang semakin menyilaukan mata, tepat dimana tempat mu biasa menyilangkan kaki berdua dengan ku, dulu. Namun, ternyata kudekati, itu bukan kamu. Hanya kaos itu sengaja dibiarkan menggantung berdiri dengan sanggahan tongkat bambu. Di depannya, tepat dibagian dada kaos itu, yang biasanya sangat dekat dengan dada mu, kali ini kutemukan tulisan 'Selamat Tinggal' di amplop yang -jujur- sampai sekarang belum kuberanikan untuk membaca lebih dalam apa isinya.



Minggu, 2 Oktober 2011, 04:44 ; Mungkin aku telat sehari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar