Senin, 03 Oktober 2011

Kopi Dan Rokok


Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Bapak pernah bercerita. Dulu Bapak juga seperti kamu. Seharian rela tidak makan di sekolah untuk membeli sebatang rokok, jaman itu. Sembunyi-sembunyi setiap mau merokok. Sudah begitu kalau ketauan, besoknya Bapak tidak diberi uang jajan. Di mobil, waktu Bapak menceritakannya, saya ketawa sembunyi-sembunyi. Saya mendadak ingat kamu. Belakangan semenjak saya kenal kamu, gaya mu juga begitu, Tidak pernah berfikir panjang, seperti anak-anak bungsu lainnya.

Lalu, kopi. Kamu suka memesan kopi hitam dengan sedikit gula tanpa cream. Sepertinya kamu jarang jatuh cinta. Dilihat dari komposisi kopi favoritmu, hidupmu monoton sekali. Sayangnya, Bapak juga begitu. Malah kadang kopinya dimasak dan ditambah garam. Ah tidak mengerti dengan jalan pikiran pria-pria macho seperti kalian.

Seperti kamu dan Bapak. Kopi dan rokok. Dua hal yang saling terikat satu sama lain. Suka dunia malam. Suka begadang. Suka kacang kulit. Suka teras belakang. Suka sepi. Suka menaikkan kaki di atas bangku rotan panjang. Suka pemandangan lampu-lampu malam. Saling melengkapi. Yang satu hitam pekat, yang satu bercahaya. Satu api satu air, namun tidak saling menjatuhkan. Keduanya punya aroma menyengat yang berhasil membuat saya ketagihan. Sama-sama membuat mata merah, gigi kuning, kuku kotor, juga penyakit dalam lainnya yang lebih sakit daripada sakit hati.

Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Saya pasif hidup di antaranya.





Teras Belakang, Minggu, 2 Oktober 2011, 22:20 ; Menghirup asap dari kopi dan rokok. Jadi kangen!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar