Rabu, 26 Oktober 2011

Kangen


Aduh saya malu. Saya sudah sok tau. Saya kira 16 adalah nomor absen mu, ternyata bukan. Padahal di Surat Kaleng #16 saya sudah berkomitmen mati-matian. Namun, Tuhan ada maksud lain -untuk kita. Mungkin tuhan ingin agar saya tidak berhenti menulis dengan kamu sebagai inspirasinya. Mungkin, jauh-jauh hari, Tuhan sudah faham bahwa satu tahun ini harus dibagi menjadi empat fase untuk saya dan kamu. Jatuh cinta, patah hati, rancu. Hingga tiga bulan terakhir di tahun ini, saya mantap untuk jatuh cinta dengan mu lagi -untuk waktu yang tidak terbatas.

Pagi buta yang tidak sebuta cinta saya, kali ini cukup dingin. Maklum semalam hujan. Namun ujung dada ini justru terasa panas, nyeri lagi. Semalam mimpi tentang kamu sedikitpun tidak, lalu kamu juga belum ada di atas bantal yang sengaja saya siapkan di sebelah kiri bantal saya. Dan pagi ini seperti ada firasat kuat yang memaksa saya untuk tidak dapat melanjutkan tidur. Sementara pukul 3 kali ini, saya perhatikan embun di kaca jendela kamar saya melukiskan wajahmu. Pantulan lampu jalan raya di dinding ungu membentuk tubuh lengkap dengan perut buncit mu. Sebotol air mineral yang selalu saya siapkan di sebelah bantal, juga ikut berusaha mencoba membuat siluet mu. Lalu, gerimis tipis yang meresap di selimut berbisik, katanya, saya hanya sedang kangen dengan kamu.

Berharap, kamu juga sedang tidak bisa tidur karena saya. Karena saya yang sudah mulai kamu izinkan untuk membuat nyeri ujung dada mu; jatuh cinta. Lalu kamu juga menjadi bingung tentang perasaan mu di pagi buta ini. Dan gerimis, juga, ikut meresap di selimutmu mewakili saya, bilang, bahwa sebenarnya kamu hanya sedang kangen dengan wanita yang juga sedang -lebih- kangen dengan mu; saya.



Kamar Ungu, Sabtu, 22 Oktober 2011, 03:19 ; aduH Kangen!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar