Selasa, 18 Oktober 2011

Facebook


Tumben sekali saya dapat menikmati sore oranye seperti ini. Karena biasanya nyawa saya baru terkumpul sepenuhnya ketika penutup senja. Merasakan semilir angin di teras belakang, pandangan mata matahari yang tajam seakan enggan untuk tenggelam, puluhan burung sriti, duduk di bangku rotan, air mineral. Dengan mengenakan kaos 'lengan bloon' warna oranye dan celana pendek kuning tiga jengkal di atas lutut, membuat sore ini semakin segar saja.

Saya membuka laptop lama saya di sana. Yang hampir satu tahun tidak terlalu intensif saya gunakan, karena takut kehilangan satu dan lain hal; kamu dan halaman Facebook itu. Di layar dan setiap sisi tombol keyboard-nya banyak debu. Sementara itu saya mengumpulkan nyali dan menarik nafas panjang. Saya buat rileks hati. Saya ikhlaskan pikiran. Saya mantapkan situasi dan kondisi yang lain juga.

Lalu, akhirnya saya buka juga halaman Facebook. Warnanya masih sama, biru, warna favoritmu, warna mayoritas pria-pria lain juga yang pernah menetap di hatiku. Juga masih dengan akun Facebook yang dari satu tahun lalu belum saya 'keluarkan'. Dan saya akan tetap hati-hati agar tidak 'keluar'. Ya, saya hanya berani begini-begini saja. Mengecek notifications, mengecek friend request, mengecek message, mengecek album foto yang sengaja disembunyikan, mengecek status hubungan yang juga disembunyikan, mengecek apapun yang secara tidak jantan kamu sembunyikan. Dan hanya bisa saya lihat ketika saya -terpaksa- membuka -lagi- halaman Facebook di laptop yang satu tahun lalu pernah menginap di kamar kos mu sewaktu hujan itu. Saya tidak berani berbuat lebih. Karena saya tidak memiliki hak lebih atas akun Facebook itu, atas dirimu.

Tumben sekali sore ini ada yang berbisik banyak, seperti
"Cepat ganti passwordnya!"
"Kalau berani, kirim 'In A Relationship' status ke akun Facebook milikmu."
"Remove atau Block sekaligus saja teman-teman wanitanya yang cantik dan seksi itu."
"Setting ulang saja akun Facebooknya itu sesuka hatimu."
"Ayo berikan 'Like' untuk link blog perempuanhujan-mu atas nama akun Facebooknya."

Bisikan-bisikan itu seperti menantang. Tidak, bukannya saya tidak berani. Karena percuma adalah ketika saya sepenuhnya dapat menjalankan hidupmu yang jauh namun sedikitpun tak dapat meraih hatimu yang cukup dekat itu. Seperti berbangga hati telah memiliki mu namun kenyataan berkata saya hanya sedang memiliki 'boneka' yang 'mirip' dengan mu saja. Karena menurut saya, raga bukan apa-apa tanpa hati dan logika. Sementara yang paling saya butuhkan adalah memiliki mu seutuh-utuh-utuh-nya, sekaligus detail hidupmu juga.





Teras Belakang. Sabtu, 15 Oktober 2011, 17;09 ; Masih ada saya di antara daftar teman yang ingin menjadi teman mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar