Selasa, 04 Oktober 2011

Angin Malam


Rambut sebahu ku dan rambut mu yang mulai gondrong tertiup angin. Bergerak ke arah kanan, yang berarti angin malam kali ini datang dari arah barat. Bibir tebal mu cemberut, lucu. Aku ingin ketawa terbahak seperti biasanya kita bercanda. Namun kali ini, tersenyum pun rasanya tabu. Kau sedang banyak masalah bukan? Mungkin di antaranya ada tentang aku yang terselip di sana.

Aku masih berusaha banyak. Tidak sepertimu yang pasif itu. Aku coba memelukmu dari arah belakang. Perutku buncit, perutmu apalagi, tangan ku sedikit tidak sampai. Tapi bukan masalah. Aku hanya sedang ingin menyandarkan kepala ku di punggung mu. Karena sepertinya bahu mu -tempat favoritku- sudah ada yang menempati.

Angin malam, aku ingin minta tolong, sekali ini saja. Perlahan bersandarlah tepat di daun telinganya. Lalu ceritakan semua yang kau dengar dari dalam hati ku, yang kau baca dari air mataku, dan sesuatu di ujung dada yang bergetar lebih cepat dari biasanya. Karena aku canggung, kalau harus memulai percakapan dengan dia duluan.

Angin malam, entah kenapa malam ini dia lebih dingin daripada dirimu. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang. Aku bingung, bahkan tidak tau, mengapa dia mendadak menjadi pendiam kaku begini. Seolah sebagian besar masalahnya karena aku. Yang jelas, aku sudah pernah minta maaf.

Angin malam, bantu aku memecahkan setiap masalahnya. Agar aku dapat bercanda panjang, mencubiti perutnya, menendangi kakinya, menariki rambutnya, dan apapun itu yang sepertinya menyakitkan namun tidak se-menyakitkan cinta. Juga menikmati angin malam bersama hingga kami tertidur di kursi rotan dan aku berbantalan lengannya serta melingkarkan tangan ku di perutnya. Lalu jika waktu akan berpihak lagi, akan ku peluk dia sekali lagi -erat, susah lepas.



Jum'at, 30 September 2011 ; Sekarang hanya ada angin malam dan aku yang memeluk bayang mu erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar