Rabu, 26 Oktober 2011

Mendadak


Saya sedang suka melamun lama di sudut kamar tepat di samping jendela sambil mendengarkan semua lagu Kahitna dan Chrisye. Jendela masih saya buka sebagian, karena siang jelang sore kali ini matahari masih cukup terik. Tidak ada mendung, angin, apalagi gerimis. Namun mendadak hujan datang keroyokan. Jendela semakin saya buka lebar. Seperti biasa, saya memainkan tangan di tetesan hujan. Saya ambil nafas dalam untuk menghirup petrichor. Saya saksikan ribuan hujan yang kali ini jatuh dengan cukup ragu -tidak semantap hati saya yang mendadak jatuh cinta padamu.

Mendadak saya ingat kamu dan tulisan-tulisan saya beberapa waktu lalu yang terlalu meng'elu-elu'kan dirimu. Ingin tertawa malu, sembunyi saja. Takut hujan tau bahwa mendadak saya butuh kamu di sini. Mendadak saya menyerngitkan dahi dan sedikit berfikir tentang banyak pertanyaan. Tidak ada jawaban. Mendadak saya ingat lagi, bahwa jawaban dan alasan seutuhnya ada di kamu.

Seperti hujan, yang awalnya saya pikir kamu mudah ditebak namun justru serba mendadak. Mendadak begini. Mendadak begitu. Mendadak saya tertarik untuk tau tentang kamu lebih dalam. Mari bersama saya mengahapus kelam yang mendadak datang dan susah hilang.



Kamar Ungu. Sabtu, 22 Oktober 2011, 15:08 ; Hidupkan bluetooth di handphone mu, akan saya kirimkan lagu-lagu favorit saya itu.

Kangen


Aduh saya malu. Saya sudah sok tau. Saya kira 16 adalah nomor absen mu, ternyata bukan. Padahal di Surat Kaleng #16 saya sudah berkomitmen mati-matian. Namun, Tuhan ada maksud lain -untuk kita. Mungkin tuhan ingin agar saya tidak berhenti menulis dengan kamu sebagai inspirasinya. Mungkin, jauh-jauh hari, Tuhan sudah faham bahwa satu tahun ini harus dibagi menjadi empat fase untuk saya dan kamu. Jatuh cinta, patah hati, rancu. Hingga tiga bulan terakhir di tahun ini, saya mantap untuk jatuh cinta dengan mu lagi -untuk waktu yang tidak terbatas.

Pagi buta yang tidak sebuta cinta saya, kali ini cukup dingin. Maklum semalam hujan. Namun ujung dada ini justru terasa panas, nyeri lagi. Semalam mimpi tentang kamu sedikitpun tidak, lalu kamu juga belum ada di atas bantal yang sengaja saya siapkan di sebelah kiri bantal saya. Dan pagi ini seperti ada firasat kuat yang memaksa saya untuk tidak dapat melanjutkan tidur. Sementara pukul 3 kali ini, saya perhatikan embun di kaca jendela kamar saya melukiskan wajahmu. Pantulan lampu jalan raya di dinding ungu membentuk tubuh lengkap dengan perut buncit mu. Sebotol air mineral yang selalu saya siapkan di sebelah bantal, juga ikut berusaha mencoba membuat siluet mu. Lalu, gerimis tipis yang meresap di selimut berbisik, katanya, saya hanya sedang kangen dengan kamu.

Berharap, kamu juga sedang tidak bisa tidur karena saya. Karena saya yang sudah mulai kamu izinkan untuk membuat nyeri ujung dada mu; jatuh cinta. Lalu kamu juga menjadi bingung tentang perasaan mu di pagi buta ini. Dan gerimis, juga, ikut meresap di selimutmu mewakili saya, bilang, bahwa sebenarnya kamu hanya sedang kangen dengan wanita yang juga sedang -lebih- kangen dengan mu; saya.



Kamar Ungu, Sabtu, 22 Oktober 2011, 03:19 ; aduH Kangen!

Sim-Card


Melipat tangan di atas meja kayu coklat. Mencoba mengontrol emosi di ujung dada. Memakai sweater rajutan warna ungu di siang terik ini. Memasang headset di kedua telinga namun tak satupun lagu aku putar. Sengaja. Aku hanya sedang kangen dengan nada bicara mu yang dilagukan itu. Lucu. Ingin tertawa seperti dulu, sekalipun sekarang tidak harus dengan mu lagi. Namun aku tidak terlalu ingin memperlihatkannya -kepedulianku.

Ada dua handphone di depan mu. Milik ku, milik mu. Katanya, kamu masih simpan aku di sana. Entah harus bahagia atau apa. Namun kata mereka, aku harus bersyukur. Bersyukur masih kamu simpan. Sementara hanya ada beberapa orang saja yang kamu simpan di Sim-Card. Aku salah satunya. Sim-Card yang tidak akan kamu ganti sekalipun nanti kamu akan berganti handphone. Mungkin maksud mu, agar aku tidak akan terganti.

Aku juga masih menyimpan mu. Spesial untuk kamu, aku simpan di Sim-Card juga. Karena aku tidak akan berganti nomor handphone, lagi-lagi untuk memudahkanmu. Kamu masih akan selalu aku simpan. Dengan nama yang paling istimewa dari yang lain. Dengan ringtone berbeda dari yang lain juga. Dengan LED ungu warna favoritku. Dengan sebuah foto, yang jerawatmu tidak terlalu terlihat jelas di sana. Dengan sebuah catatan kecil yang aku ketik di ujung paling bawah profil kontak mu. Lalu sepertinya, cukup aku, blackberry ungu ini, dan Tuhan saja yang faham apa isinya. Lalu wallpaper, background pesan pendek, semuanya kubuat sedemikian rupa untuk sekedar mewakili perasaan ini bahwa kamu...masih spesial.

Bagaimana jika kita saling menyimpan. Aku meyimpan mu dengan berbagai keistimewaan -yang sedikit berlebihan. Kamu menyimpan ku secara sederhana di Sim-Card yang tetap ada di dirimu sekalipun nanti kamu harus berganti handphone.



Sabtu, 22 Oktober 2011, 11:45 ; Pertanyaannya, kamu akan lebih dulu berganti handphone atau justru nomor handphone?

Selasa, 18 Oktober 2011

Facebook


Tumben sekali saya dapat menikmati sore oranye seperti ini. Karena biasanya nyawa saya baru terkumpul sepenuhnya ketika penutup senja. Merasakan semilir angin di teras belakang, pandangan mata matahari yang tajam seakan enggan untuk tenggelam, puluhan burung sriti, duduk di bangku rotan, air mineral. Dengan mengenakan kaos 'lengan bloon' warna oranye dan celana pendek kuning tiga jengkal di atas lutut, membuat sore ini semakin segar saja.

Saya membuka laptop lama saya di sana. Yang hampir satu tahun tidak terlalu intensif saya gunakan, karena takut kehilangan satu dan lain hal; kamu dan halaman Facebook itu. Di layar dan setiap sisi tombol keyboard-nya banyak debu. Sementara itu saya mengumpulkan nyali dan menarik nafas panjang. Saya buat rileks hati. Saya ikhlaskan pikiran. Saya mantapkan situasi dan kondisi yang lain juga.

Lalu, akhirnya saya buka juga halaman Facebook. Warnanya masih sama, biru, warna favoritmu, warna mayoritas pria-pria lain juga yang pernah menetap di hatiku. Juga masih dengan akun Facebook yang dari satu tahun lalu belum saya 'keluarkan'. Dan saya akan tetap hati-hati agar tidak 'keluar'. Ya, saya hanya berani begini-begini saja. Mengecek notifications, mengecek friend request, mengecek message, mengecek album foto yang sengaja disembunyikan, mengecek status hubungan yang juga disembunyikan, mengecek apapun yang secara tidak jantan kamu sembunyikan. Dan hanya bisa saya lihat ketika saya -terpaksa- membuka -lagi- halaman Facebook di laptop yang satu tahun lalu pernah menginap di kamar kos mu sewaktu hujan itu. Saya tidak berani berbuat lebih. Karena saya tidak memiliki hak lebih atas akun Facebook itu, atas dirimu.

Tumben sekali sore ini ada yang berbisik banyak, seperti
"Cepat ganti passwordnya!"
"Kalau berani, kirim 'In A Relationship' status ke akun Facebook milikmu."
"Remove atau Block sekaligus saja teman-teman wanitanya yang cantik dan seksi itu."
"Setting ulang saja akun Facebooknya itu sesuka hatimu."
"Ayo berikan 'Like' untuk link blog perempuanhujan-mu atas nama akun Facebooknya."

Bisikan-bisikan itu seperti menantang. Tidak, bukannya saya tidak berani. Karena percuma adalah ketika saya sepenuhnya dapat menjalankan hidupmu yang jauh namun sedikitpun tak dapat meraih hatimu yang cukup dekat itu. Seperti berbangga hati telah memiliki mu namun kenyataan berkata saya hanya sedang memiliki 'boneka' yang 'mirip' dengan mu saja. Karena menurut saya, raga bukan apa-apa tanpa hati dan logika. Sementara yang paling saya butuhkan adalah memiliki mu seutuh-utuh-utuh-nya, sekaligus detail hidupmu juga.





Teras Belakang. Sabtu, 15 Oktober 2011, 17;09 ; Masih ada saya di antara daftar teman yang ingin menjadi teman mu.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sengaja, Tanpa Judul, Teman!

: Tidak akan saya ceritakan sedikitpun. Untuk yang lalu, simpan untuk dirimu sendiri dan akan saya simpan untuk 'kita' selanjutnya.
*Karena ini rahasia teman baru.

Jumat, 07 Oktober 2011

Nyaman


Sore ini saya duduk di sebuah bengkel. Bersama matahari oranye yang seakan ingin membakar penatnya hari ini. Menemani Bapak yang dulu pernah menjadi seorang montir juga. Namun kali ini konteksnya berbeda, kami hanya mengganti oli saja. Lalu, saya pilih untuk duduk di bangku-besi-hijau-panjang yang sepertinya sengaja ditanam kuat di bagian samping teras bengkel. Hanya ada satu yang saya dengar, pantat saya berkata; nyaman.

Bengkelnya di pinggir jalan. Pada jam pulang kerja begini, memang antara macet dan klakson sulit dipisahkan. Bising! Andai saja saya dapat melukiskan bagaimana kondisi sebenarnya. Licin, oli dimana-mana. Sampah bungkus makanan, kardus-kardus bekas, dapat ditemui di setiap ujungnya. Putung rokok, asbak, kopi, air mineral, kacang kulit, seperti sudah tidak layak konsumsi. Bahkan dekat ujung kaki saya, seperti ada bekas orang meludah di sana. Ah sudahlah. Bapak dulu sewaktu menjadi montir juga begitu; asal-asalan. Terkadang saya masih sering heran, apakah yang membuat Ibu betah dengan setiap sore di beri 'oleh-oleh' pakaian kotor dengan banyak oli milik Bapak dulu? Lagi-lagi cinta harus tanpa alasan.

Namun, jujur. Tidak sedikitpun tersirat untuk pergi dari tempat yang notabene jauh dari kata nyaman. Justru di situ saya merasa nyaman. Nyaman dengan apapun yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kali ini, pantat juga otak ikut berkata; nyaman.

Lalu tiba-tiba saya ingat sesuatu... Hei, teman-teman dekat, sekarang saya sudah punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan kalian tempo hari itu. Tentang bagaimana saya bisa jatuh hati kepadanya. Di satu sisi kalian berfikir dia yang kurang tampan, dia yang kurang tinggi, dia yang sedikit hitam, tatanan rambutnya yang berantakan, perutnya yang buncit, kepribadiannya yang -menurut kalian- 'engga banget', dia yang gengsi, juga tentang hari-harinya yang diisi oleh tidur, lagu, dan...apapun itu yang kalian fikir dia masih banyak kekurangan.

Sayangnya, saya terlanjur nyaman.

Nyaman dengan apapun yang menjadi ciri khasnya. Yang banyak orang berfikir itu adalah kekurangannya, justru di sisi lain saya anggap itu ke-unikan-nya.


Karena nyaman, bukan tentang kuantitas sekalipun kualitas. Namun tentang apa yang sedari tadi saya coba definisikan namun terus gagal, mungkin karena sedang tidak ada kamu di sini.





Bengkel Bintang Makmur, Sriwijaya. Selasa, 4 Oktober 2011, 16:14 ; Kenyataannya, 'Nyaman' diawali dengan huruf 'N'.

Selasa, 04 Oktober 2011

Aneh!

: Dulu pertama kali kamu yang menutup, lalu sekarang mengapa saya harus membukanya pertama kali? Ah lemahnya cinta!

Angin Malam


Rambut sebahu ku dan rambut mu yang mulai gondrong tertiup angin. Bergerak ke arah kanan, yang berarti angin malam kali ini datang dari arah barat. Bibir tebal mu cemberut, lucu. Aku ingin ketawa terbahak seperti biasanya kita bercanda. Namun kali ini, tersenyum pun rasanya tabu. Kau sedang banyak masalah bukan? Mungkin di antaranya ada tentang aku yang terselip di sana.

Aku masih berusaha banyak. Tidak sepertimu yang pasif itu. Aku coba memelukmu dari arah belakang. Perutku buncit, perutmu apalagi, tangan ku sedikit tidak sampai. Tapi bukan masalah. Aku hanya sedang ingin menyandarkan kepala ku di punggung mu. Karena sepertinya bahu mu -tempat favoritku- sudah ada yang menempati.

Angin malam, aku ingin minta tolong, sekali ini saja. Perlahan bersandarlah tepat di daun telinganya. Lalu ceritakan semua yang kau dengar dari dalam hati ku, yang kau baca dari air mataku, dan sesuatu di ujung dada yang bergetar lebih cepat dari biasanya. Karena aku canggung, kalau harus memulai percakapan dengan dia duluan.

Angin malam, entah kenapa malam ini dia lebih dingin daripada dirimu. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang. Aku bingung, bahkan tidak tau, mengapa dia mendadak menjadi pendiam kaku begini. Seolah sebagian besar masalahnya karena aku. Yang jelas, aku sudah pernah minta maaf.

Angin malam, bantu aku memecahkan setiap masalahnya. Agar aku dapat bercanda panjang, mencubiti perutnya, menendangi kakinya, menariki rambutnya, dan apapun itu yang sepertinya menyakitkan namun tidak se-menyakitkan cinta. Juga menikmati angin malam bersama hingga kami tertidur di kursi rotan dan aku berbantalan lengannya serta melingkarkan tangan ku di perutnya. Lalu jika waktu akan berpihak lagi, akan ku peluk dia sekali lagi -erat, susah lepas.



Jum'at, 30 September 2011 ; Sekarang hanya ada angin malam dan aku yang memeluk bayang mu erat.

Petrichor


"Bagaimana aromanya? Kamu suka?"

Tetap tidak saya temukan jawaban mu. Kamu masih menyalakan tv, menekan-nekan remote dari angka 1 hingga 9 hingga 0 lalu kembali lagi ke angka 1, terus. Padahal kali ini tv sedang semutan. Gambarnya naik turun. Suaranya serak. Antena mungkin sedang asyik mengobrol bersama petir. Maklum di luar sedang hujan deras. Bukannya ini yang kamu mau? Katanya kamu kangen hujan.

Justru malam ini kamu sedang engga-banget. Endapan kopi yang biasanya kamu tambah air panas lagi, malah kali ini sengaja kamu jadikan asbak untuk ke-empat putung rokok mu. Yang biasanya Jazz, jadi Alternative Rock. Bantal sofa sudah kemana-mana. Lampu sengaja tidak kamu nyalakan sejak penutup senja tadi. Kamu tanggalkan semua kebiasaan-kebiasaan kita.

Yang membuat saya semakin heran, mengapa suasana wajah mu juga ikut se-tidak-karuan ruangan ini?

Saya lepaskan perlahan remote tv dari tangan kiri mu. Saya mencoba menyelipkan ke-lima jari-jari tangan kanan saya ke celah-celah itu. Mungkin benar, celah tangan sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk saling memenuhi dan dipenuhi satu sama lain. Lalu, saya coba genggam -erat. Kamu menonton acara tv, namun hanya kekosongan yang saya temukan di mata mu. Saya bersandar perlahan di bahu kiri mu. Saya mengumpulkan nyali untuk sekedar menatap mu dari sudut bawah. Kamu masih berbeda dari sebelumnya. Memang tidak ada bentuk perlawanan dari mu namun bahasa tubuhmu kaku!

Lalu saya coba tanya,
"Bagaimana tentang petrichor? Kamu suka?"

Masih tidak ada jawaban. Lalu perlahan saya seperti disadarkan bahwa saya terlalu memaksakan dunia saya kepada mu. Tentang angin, tentang gerimis, tentang hujan, tentang pelangi, tentang genangannya, tentang petrichor. Ya sudah, saya pergi saja.

Entah semenjak malam itu apakah kamu sudah menyadarinya atau belum. Kalau saya meninggalkan botol kaca seukuran tiga ruas jari di depan cermin dekat meja tv. Sengaja saya letakkan di sana, agar kamu yang setiap sebelum mandi bercermin dulu bisa melihatnya. Sebenarnya botol itu berisi petrichor. Saya kumpulkan dari teras belakang di saat hujan pertama kali musim ini. Kalau masalah aromanya....saya tidak mampu menuangkannya dalam kata-kata. Yang jelas, jangan kamu sia-siakan petrichor itu. Karena itu parfum terbaik, termahal, terawet, terlangka, dan terakhir yang saya hadiahkan untuk mu di hari '3-tahunan' mu dengan wanita itu.

"Sudah kamu coba? Bagaimana aromanya? Kamu suka?"




Sabtu, 25 Juni 2011, 22:28 ; Kalau saya suka sekali.

Senin, 03 Oktober 2011

Matahari Fajar


Alarm di handphone ku bunyi. Dengan lagu berjudul Kangen milik Chrisye lalu aku lihat hanya emoticon wanita jatuh cinta di layarnya. Oh bukannya itu alarm yang aku aktifkan semenjak Maret lalu. Waktu itu aku memang sedang se-jatuh-cinta-cinta-nya. Juga waktu itu setiap awal bulan, kamu minta aku bangun di saat fajar dan kita 'ketemuan'.

Fajar kali ini, dengan tali be-ha ungu ku yang masih lari kesana kemari, dengan celana futsal hitam-kuning, dengan kaos barong ungu oleh-oleh mu dari Bali yang mulai menyempit di bagian lengan, dengan rambut berantakan seperti rambutmu yang jarang tertata rapih, tanpa cuci muka atau gosok gigi, aku langsung ke tempat itu. Tempat yang dulu pernah kita sepakati untuk bertemu.

Tempat istimewa. Bukan bukit berbunga dengan pemandangan pantai luas yang dapat untuk menikmati matahari fajar secara bebas. Namun kita justru memilih bukit kersen -sejenis buah ceri. Bentuk pohon kersen yang tinggi dan cabangnya tumbuh kemana-mana. Matahari harus mencuri celah pepohonan untuk masuk. Di sana memang lembab, seringkali ada genangan air hujan sisa semalam. Jangankan bunga, lumutpun terpaksa tumbuh di sana. Eum apa ya? Aku suka saja, ya begitu.


Siapa bilang tidak romantis!
Justru di sana, kita dapat menghargai hal sekecil apapun yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma. Mencari matahari fajar dari sela-sela cabang pohon. Mengintip burung yang sedang menikmati buah kersen. Belajar banyak dari genangan hujan yang tersirat sebagai genangan kenangan. Duduk berdua melipat kaki tanpa alas apapun. Memejamkan mata. Mencari tempat yang tepat, agar sinar matahari fajar langsung menyilaukan mata. Sembari kita bercerita apa yang terjadi sebulan belakangan ini. Indah...

Ini pertama kalinya aku mencoba ke sana lagi, setelah beberapa lama kita sempat melepaskan segalanya yang dulu pernah terhubung. Siapa tau kau sudah ada di sana. Aku lari cepat. Lebar langkahku dua kali dari biasanya. Dan...hei itukah kamu? Dari jauh aku lihat kaos futsal hitam-kuning favorit mu yang terkena sedikit matahari yang semakin menyilaukan mata, tepat dimana tempat mu biasa menyilangkan kaki berdua dengan ku, dulu. Namun, ternyata kudekati, itu bukan kamu. Hanya kaos itu sengaja dibiarkan menggantung berdiri dengan sanggahan tongkat bambu. Di depannya, tepat dibagian dada kaos itu, yang biasanya sangat dekat dengan dada mu, kali ini kutemukan tulisan 'Selamat Tinggal' di amplop yang -jujur- sampai sekarang belum kuberanikan untuk membaca lebih dalam apa isinya.



Minggu, 2 Oktober 2011, 04:44 ; Mungkin aku telat sehari.

Kopi Dan Rokok


Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Bapak pernah bercerita. Dulu Bapak juga seperti kamu. Seharian rela tidak makan di sekolah untuk membeli sebatang rokok, jaman itu. Sembunyi-sembunyi setiap mau merokok. Sudah begitu kalau ketauan, besoknya Bapak tidak diberi uang jajan. Di mobil, waktu Bapak menceritakannya, saya ketawa sembunyi-sembunyi. Saya mendadak ingat kamu. Belakangan semenjak saya kenal kamu, gaya mu juga begitu, Tidak pernah berfikir panjang, seperti anak-anak bungsu lainnya.

Lalu, kopi. Kamu suka memesan kopi hitam dengan sedikit gula tanpa cream. Sepertinya kamu jarang jatuh cinta. Dilihat dari komposisi kopi favoritmu, hidupmu monoton sekali. Sayangnya, Bapak juga begitu. Malah kadang kopinya dimasak dan ditambah garam. Ah tidak mengerti dengan jalan pikiran pria-pria macho seperti kalian.

Seperti kamu dan Bapak. Kopi dan rokok. Dua hal yang saling terikat satu sama lain. Suka dunia malam. Suka begadang. Suka kacang kulit. Suka teras belakang. Suka sepi. Suka menaikkan kaki di atas bangku rotan panjang. Suka pemandangan lampu-lampu malam. Saling melengkapi. Yang satu hitam pekat, yang satu bercahaya. Satu api satu air, namun tidak saling menjatuhkan. Keduanya punya aroma menyengat yang berhasil membuat saya ketagihan. Sama-sama membuat mata merah, gigi kuning, kuku kotor, juga penyakit dalam lainnya yang lebih sakit daripada sakit hati.

Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Saya pasif hidup di antaranya.





Teras Belakang, Minggu, 2 Oktober 2011, 22:20 ; Menghirup asap dari kopi dan rokok. Jadi kangen!

Rokok


Senja ini aku bergegas meninggalkan tempat tidur. Tidur siang tadi terlalu nyenyak hingga aku harus bangun terlambat. Tanpa mandi atau apa itu sudah biasa. Hanya cuci muka sekedar untuk menghilangkan siluet bantal di sekitar pipi, dan sesuatu yang telah mengering di sekitar bibir. Katanya, Bapak ingin mengajakku makan sate. Bapak akan mentraktirku. Bapak memang sering begini, suka baik sekali jika sedang tidak banyak pikiran. Atau mungkin Bapak lagi jatuh cinta malam ini. Hahaha. Sudahlah...

Di warung sate pinggir jalan yang antreannya lumayan panjang. Hanya butuh 20 tusuk sate saja harus menunggu tiga kali lipatnya. Akhirnya kami hanya duduk. Aku membaca koran sekenanya, yang sebagian besar sudah ketumpahan kecap. Kalau Bapak sudah tidak perlu ditanya. Di waktu membosankan begini, pasti mengeluarkan senjata andalannya; Rokok.

Soal rokok, aku jadi ingat seseorang yang merk rokoknya sama seperti Bapak.
Hei, kamu apa kabar? Ingat tidak, hujan siang itu, waktu aku pakai jaket kulit coklat yang bau rokok. Serius, berkali aku bilang, itu jaket Bapak. Bapak memang perokok -sangat- aktif. Kamu tidak juga percaya, kamu pikir aku perokok juga, seperti kamu dan Bapak. Sampai pernah menawariku sebatang rokok juga. Jadi ingin cekikikan jika mengingatnya.

Lalu kita bercanda kecil tentang rokok. Tentang api dan abunya. Tentang abu yang tidak bisa menjadi apa-apa tanpa api. Tentang abu yang dibuang setelahnya. Tentang cahaya kecil di ujung namun bisa menghabiskan sampai mulutmu juga. Tentang kamu yang selalu lupa membalas pesan pendekku. Tentang sapu-tangan hijau yang di ujung dekat pita merahnya berlubang kecil. Tentang mata mu yang mulai memerah. Tentang kuku mu yang sering kotor. Tentang gigi mu yang menguning. Tentang nafas mu yang...ah. Semua itu karena rokok!

Aku jauh mengerti kamu daripada rokok. Sekalipun prioritas mu tetap rokok.



Sabtu, 1 Oktober 2011, 18:38 ; Bungkus rokok Marlboro mu masih ku sembunyikan di meja rias ku.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nyeri


Semakin saya ceritakan, semakin tidak ada habisnya. Malam minggu ini, saya masih tetap di kamar bersama nyamuk-nyamuk yang sudah berpasang-pasangan. Mungkin memang Tuhan belum menghadiahkan untuk saya seseorang yang seharusnya menjemput untuk sekedar menghilangkan penat di saat-saat seperti ini. Saya juga masih dengan kaos ungu muda khas Bali oleh-oleh dari teman saya yang sekarang sudah robek di sisi lengan bagian kiri, dengan pasangan celana pendek futsal kuning-hitam dengan nomor 25, entah apa, saya nyaman saja menggunakannya. Apalagi saat kondisi seperti ini, saat hujan jarang menyapa. Ah kangen hujan.



Saya gigiti kuku, hingga kutek biru tua yang menutupinya perlahan pudar -tidak sengaja. Mengikat rambut setinggi mungkin agar udara sejuk teras belakang sedikit bisa membantu menyegarkan. Air mineral yang tertinggal di dalam tas putih blacu siang tadi langsung saya habiskan. Melipat lutut dan bersandar di kursi rotan. Rasanya lebih dari grogi. Teman, mungkin ini semacam nyeri. Karena nyeri ini semakin menjadi-jadi. Saat mendengar nama mu saja, nyerinya sudah mulai terasa. Lalu perlahan mata ini tidak lagi fokus pada apa yang saya lihat, seperti berbayang. Juga ribuan semut seolah mengkrikiti otak bagian dalam saya, kepala saya berdenyut kencang. Tangan bergetar sejadinya. Menghela nafas berkali-kali. Membanting pintu lalu lari ke teras belakang tanpa lampu -menangis.


Seandainya kau ada di sini, sudah saya siapkan kuncinya agar kau bisa masuk dan sekedar mengintip. Hati ini seperti ingin melangkah maju namun masa lalu menahannya, sementara saya tak punya pegangan satupun untuk kedepannya. Kupu-kupu di dalam dada juga mulai bingung. Sedangkan saya sendiri hanya bisa memainkan ibu jari kaku di petakan tanah teras belakang. Saya menatap ke bawah, karena bulan dan bintang di langit sedang menikmati dunia mereka sendiri. Hingga mata saya mengarah ke bawah dan melihat dua onggok angka, nyeri bertambah, saya memutuskan untuk melihat pemandangan kota saja. Benar Teman, ini nyeri. Juga sudah saya ceritakan kepada Ibu, namun beliau bilang, tak perlu meminum obat karena saya lebih butuh istirahat. Mungkin di satu sisi, istirahat yang cukup memang lebih efisien daripada obat. Di sisi lain, Ibu juga wanita, mungkin nyeri seperti ini bukan sembarang nyeri, Teman.
Hey, kemari. Kenakan pakaian futsal mu juga. Saya sudah cukup senang meski kau tak pernah memamerkannya di tengah lapangan.



Teras Belakang. Sabtu, 1 Oktober 2011, 21:06 ; Ternyata sang pembuat nyeri justru obatnya.

Foto

Meski sekedar hitam-putih dan terdapat semburat keriput di kertas foto 3x4 tua itu, namun tak pernah lupa ku pandangi di setiap malam sebelum tidur. Maaf, beberapakali sempat aku cekikikan. Tidak, bukannya kau jelek, namun kau imut sekali. Pipi tomat mu. Mata telur mu. Hidung kacang mu. Bibir kentang mu. Kau yang tampil apa adanya. Seperti anak-anak seusia mu waktu itu juga. Akan selalu aku simpan di balik kupon universitas favoritku di dalam dompet ungu ini. Karena aku berjanji, aku akan meletakkan mu sejengkal tepat setelah masa depan ku.

Ah andai aku ada cukup nyali untuk memberitahukan kepada dunia, bagaimanakah kau waktu itu.



Jl. Karangrejo Raya, Semarang. Rabu, 22 September 2011, 13:57 ; Hanya tersisa maaf dan cinta setiap kali memandanginya yang polos itu.

Lagi...




Semalam, saya buka sebuah akun twitter yang dulu sempat menjadi kebutuhan saya. Saya buka lagi. Saya scroll hingga ujung paling bawah. Hingga tweet pertama mu sekitar awal tahun ini. Saya suka membacanya, saya nikmati di setiap kata hingga kalimatnya, atau sekedar tanda baca dan emoticon-emoticon lucu yang menggambarkan suasana hatimu benar-benar tak ingin saya lewatkan. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir memang tak ada gunanya dengan hanya membaca "Mandi dulu yeee" atau "Jangan telat lagi ah" lalu juga "Begadang lagi yo!". Namun yang saya tau, terkadang cinta di luar batas pikiran manusia.

Tulisan mu memang tak pernah seindah penulis-penulis di luar sana. Namun, justru saya kerasan. Seperti ada banyak tangan yang menggenggam tangan saya ini lalu menahannya agar saya tidak perlu kemana-kemana lalu mencoba memeluk saya dari belakang tetap dengan usaha untuk menahan lalu saya...jatuh cinta lagi...

Rasanya memang beda jauh dari sembilan bulan yang lalu. Dulu yang hanya bergetar, sekarang lebih ke arah 'nyeri' yang awalnya saya pikir semacam sesak nafas yang menyumbat dada. Kedua tangan tidak hanya mendingin, namun mendadak kaku. Dahi juga ekor mata ikut berkeringat bersamaan. Dulu sembari membaca tulisan hatimu itu, saya sering juga menikmati teh dan camilan manis, namun kini sudah tidak ada waktu, saya hanya memfokuskan segalanya kepadamu. Lalu, dulu, saking penasarannya saya dengan cerita-cerita mu selanjutnya, sampai saya tergesa membacanya, tidak dengan sekarang, karena saya tidak ingin ada satupun yang terlewat. Dilewati itu tidak enak.

Ya, begitu terus. Hingga akhirnya, tiga bulan pertama di awal tahun ini saya jatuh cinta. Lalu tiga bulan selanjutnya saya paksakan untuk menghapus inspirasi yang pernah ada. Namun, tiga bulan belakangan ini saya rancu. Hingga semalam, tepat tadi malam, saya mantapkan lagi untuk, ehem, jatuh cinta lagi...dengan kamu.

Tolong, jangan buat tiga bulan terakhir saya sebagai penutup tahun menjadi tak karuan. Jangan buat saya trauma dengan angka tiga seperti saya yang sempat trauma dengan hari ke-tiga di setiap minggunya. Ngomong-ngomong, berkali saya perhatikan dengan seksama, ternyata belum saya temukan satupun 'obrolan' kita. Mungkin lebih tepatnya tidak ada. Karena kamu tidak pernah mencoba untuk membuka, sekalipun kamu yang menutup.



Teras Belakang. Rabu, 28 September 2011, 22:47 ; Masih meringis mengumpulkan nyali dan menahan nyeri.