Rabu, 14 September 2011

Rumah


Dari dulu, aku ingin menjadi rumah mu.

Menjadi keset di depan pintu yang hanya bisa berkata 'Selamat Datang' setelah sekian lama kau lupa pulang. Menjadi daun pintu yang terbuka lebar saat kau jenuh dan tak tau harus pulang ke mana. Menjadi ruang tamu yang berisi sambutan mawar segar agar kau tak kapok berkunjung dan tak pergi-pergi lagi. Menjadi ruang keluarga, sesuatu yang selalu menyambutmu hangat dengan pelukan erat dan dukungan hebat. Menjadi ruang makan yang selalu tercium aroma semangat setiap saat. Menjadi dapur yang menuntut mu untuk mencari makan sendiri ketika tak satupun dapat kau jadikan sandaran. Menjadi kisi-kisi jendela agar kau bisa tetap menikmati rokok mu di sana. Menjadi gorden pembatas yang berarti bahwa aku membebaskan mu namun tetap dalam batas kewajaran. Menjadi teras yang bisa membuat mu rileks sekedar menikmati hujan dan menghilangkan penat. Menjadi taman rumput segar, petrichor, parfume paling mahal itu sudah menunggu mu di sana. Menjadi ruang ibadah, sebuah tempat penting untuk menyusun batu bata yang akhirnya menjadi tiang penyangga yang kuat. Menjadi ruang kerja, tempatmu mengukir masa depan. Menjadi kamar mandi, sebuah ruang yang membuat mu bisa 'telanjang' tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Menjadi pagar yang memelukmu lekat.

Aku juga ingin menjadi....kamar tidur utama mu, sebuah tempat di mana kau bisa seharian mengurung diri di sana. Tersenyum-senyum sendiri, berkaca, menangis, terharu, atau sekedar menekuk kedua kaki di paling sudut ruangan dengan tidak tau apa yang harus dilakukan kecuali berbicara lirih dan jujur tentang perasaan mu yang paling rahasia.

Aku ingin menjadi rumah untuk mu yang lebih detail daripada sebuah rumah. Karena rumah bukan sekedar bangunan. Namun di mana aku juga menjadi sebuah alasan utama mu untuk bersegera 'pulang'.

Dari dulu, aku masih ingin menjadi sebuah rumah untuk mu. Dari dulu, mengapa kau masih belum tau juga? Dari dulu, sebenernya aku belum memberi tau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar