Jumat, 23 September 2011

Bahu


Benar-benar kutemukan sebuah dunia kecil nan cantik di sana.

Masih terobsesi dengan huruf ‘B’. Ada beberapa. Yang pertama, jelas engkau, sayang, yang berinisial huruf kedua dari alphabet itu. Lalu ada Bali, sebuah tempat yang tertunda ku kunjungi, namun aku yakin bahwa suatu hari aku akan tetap pergi ke sana di waktu dan bersama seseorang yang lebih tepat. Belle dan Beast, tokoh favorit yang mengajarkan kepadaku bahwa cinta tak selamanya tentang kesempurnaan fisik. Juga salah satunya ada bahu. Ah dasar B! selalu membuatku tak karuan.

Ngomong-ngomongm bahu mu, ya…ujung bahu mu itu. Aku suka bersandar manja di sana. Mendengarkan dag…dig…dug…yang entah suara apa terdengar jelas sekali dari sana. Merasakan sebuah getaran lembut dari dalam dada bidang mu. Melihat mata teduh mu dan senyum gugup mu dari sudut bawah adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan oleh pelukis manapun. Mendekapmu utuh dengan menangis atau tertawa sungguh tiada beadanya. Karena berada di sana memang sudah solusinya. Tidak! Kau tidak perlu berbicara panjang lebar, bahu mu sudah menjelaskan banyak keadaan.

Lalu, kelak, suatu waktu nanti kau akan butuh bahu. Pakailah bahu ku! Bersandarlah di sini. Bahwa kau akan merasakan suara-suara yang sedikit ramai daripada sebuah karnaval. Seperti jeritan-jeritan kedamaian. Karena aku damai ketika menjadi dan berada di bahu mu. Akan ku tunjukan, ada sesuatu di sana, yang lebih dari sekedar segalanya. Rasanya, rasa itu , menuntun hati dan logika ku untuk berjalan sejajar bebarengan menuju sebuah pintu jawaban. Ya, bahu, bahu mu itu, seolah sebuah solusi dari segala solusi terbaik yang pernah ada.

Asal kau tau, aku kerasan untuk tinggal di bahu mu. Sebuah petakan kecil yang berhasil membuatku merasa ‘liburan’ ke Bali setiap kali ku berkunjung ke sana. Menyeret air mata ku keluar yang sedari tadi mengintip di ekor mata, bahwa aku ingin syukur haru sepenuhnya kepada Tuhan karena telah menciptakan dan membawaku ke sebuah tempat yang tidak pernah memandang bagaimanakah aku itu.

Dan aku harap, bahu mu menjadi satu-satunya tempat di mana kepala dan hati ku bisa berdiskusi barang sejenak. Izinkan aku pergi ke sana untuk berbagi apapun dengan mu, karena aku menemukan sebuah dunia kecil nan cantik di bahu mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar