Kamis, 29 September 2011

Kopi


Awalnya aku tidak terlalu tertarik, karena kopi adalah sahabat mereka yang sedang dalam posisi sama dengan ku. Kopi itu…pasaran, tidak ada gregetnya. Mungkin mereka pikit, dengan meminum kopi, mereka sudah menjadi ‘sesuatu’ seperti kebanyakan remaja masa kini. Justru untukku, kopi adalah sekedar penghilang kantuk di beberapa malam yang aku rencanakan untuk terjaga.

Aku tidak pernah sukses dalam membuat kopi, itu alasan ku mengapa aku tidak terlalu memprioritaskannya. Terkadang pahit, takaran gula terlalu sedikit. Terkadang hambar, air panasnya berlebihan. Sesekali pekat, serasa bubur yang bisa dihabiskan semua hingga endapannya. Juga pernah mencoba memasak kopi seperti Bapak, namun hasilnya tetap saja nihil. Lalu dari situ, aku lebih memilih menikmati air mineral, walau aromanya tidak seharum aroma kopi, namun aku diberi jalan pintas untuk dapat sesegera menikmatinya di sana.

Kau itu seperti kopi. Atau mungkin kopi yang seperti mu. Kopi yang mengikuti gerak-gerik mu selama ini. Aku tau kok, sangat tau bahwa kau dan kopi seperti closet dan isinya; kompak! Mungkin aku juga tidak bisa untuk menjadi kopi untuk mu, yang selalu menjadi pemanis di malam-malam pekat mu, atau malam mu yang hambar, atau malam mu yang membosankan. Semua itu bukan karena aku tidak mampu atau apa, hanya saja kau belum pernah memberiku izin untuk menggantikan posisi kopi di hati mu.

Juga, kopi perlahan mulai tertular penyakit mu yang paling tidak aku sukai. Kopi mulai susah ditebak, mulai membuatku meringkuk di teras belakang menangis sendirian, lalu memberi warna hitam di hidupku. Namun, terkadang aku kangen. Aku kangen dengan suara sendok yang bertabrakan dengan sisi dalam gelas. Kangen dengan air panas yang asapnya bergandengan saling menari menjauh setelah ku usir dengan tiupan dari bibir ku. Kangen dengan semut-semut yang berebut gula dengan ku. Kangen dengan rokok yang di tidurkan di ujung gelas. Aku kangen dengan kopi seperti kau kangen dengan kopi, seperti kopi kangen dengan mu, seperti aku yang kangen dengan orang yang menghidupkan kopi; Bapak dan engkau.

Dan aku berjanji, akan membuat kopi dengan benar. Membuat tiga gelas kopi dengan takaran yang cukup di setiap gelasnya untuk setiap malam panjang. Satu gelas untukku, anak tunggal Bapak sebagai penikmat kopi baru. Lalu satu gelas lagi untuk Bapak. Dan satu gelas terakhir untuk calon menantu tunggalnya yang menginspirasi ku tentang kopi selama ini. Karena bagiku, tanpa mu dan Bapak, kopi hanya sebatas bubuk hitam yang memahit.

Jumat, 23 September 2011

Bahu


Benar-benar kutemukan sebuah dunia kecil nan cantik di sana.

Masih terobsesi dengan huruf ‘B’. Ada beberapa. Yang pertama, jelas engkau, sayang, yang berinisial huruf kedua dari alphabet itu. Lalu ada Bali, sebuah tempat yang tertunda ku kunjungi, namun aku yakin bahwa suatu hari aku akan tetap pergi ke sana di waktu dan bersama seseorang yang lebih tepat. Belle dan Beast, tokoh favorit yang mengajarkan kepadaku bahwa cinta tak selamanya tentang kesempurnaan fisik. Juga salah satunya ada bahu. Ah dasar B! selalu membuatku tak karuan.

Ngomong-ngomongm bahu mu, ya…ujung bahu mu itu. Aku suka bersandar manja di sana. Mendengarkan dag…dig…dug…yang entah suara apa terdengar jelas sekali dari sana. Merasakan sebuah getaran lembut dari dalam dada bidang mu. Melihat mata teduh mu dan senyum gugup mu dari sudut bawah adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan oleh pelukis manapun. Mendekapmu utuh dengan menangis atau tertawa sungguh tiada beadanya. Karena berada di sana memang sudah solusinya. Tidak! Kau tidak perlu berbicara panjang lebar, bahu mu sudah menjelaskan banyak keadaan.

Lalu, kelak, suatu waktu nanti kau akan butuh bahu. Pakailah bahu ku! Bersandarlah di sini. Bahwa kau akan merasakan suara-suara yang sedikit ramai daripada sebuah karnaval. Seperti jeritan-jeritan kedamaian. Karena aku damai ketika menjadi dan berada di bahu mu. Akan ku tunjukan, ada sesuatu di sana, yang lebih dari sekedar segalanya. Rasanya, rasa itu , menuntun hati dan logika ku untuk berjalan sejajar bebarengan menuju sebuah pintu jawaban. Ya, bahu, bahu mu itu, seolah sebuah solusi dari segala solusi terbaik yang pernah ada.

Asal kau tau, aku kerasan untuk tinggal di bahu mu. Sebuah petakan kecil yang berhasil membuatku merasa ‘liburan’ ke Bali setiap kali ku berkunjung ke sana. Menyeret air mata ku keluar yang sedari tadi mengintip di ekor mata, bahwa aku ingin syukur haru sepenuhnya kepada Tuhan karena telah menciptakan dan membawaku ke sebuah tempat yang tidak pernah memandang bagaimanakah aku itu.

Dan aku harap, bahu mu menjadi satu-satunya tempat di mana kepala dan hati ku bisa berdiskusi barang sejenak. Izinkan aku pergi ke sana untuk berbagi apapun dengan mu, karena aku menemukan sebuah dunia kecil nan cantik di bahu mu.

Kehilangan


Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Saya takut banyak orang salah persepsi tentang saya, tentang blog ini, terutama juga tentang seseorang di sebrang sana yang sedikit banyak telah menginspirasi. Beberapa pasti tau bahwa saya sempat kehilangan. Bukannya saya lupa menaruh, namun saya hanya teledor menjaganya. Kau pikir sengaja? Tidak kok, serius, yang benar saja saya sengaja menghilangkan mu yang notabene adalah hal terpenting di hidup ini. Waktu itu saya sepenuhnya tidak sengaja dan sedikit tidak peka dengan keadaan.

Kehilangan…

Kehilangan waktu itu rasanya lebih dari patah hati. Patah hati kebanyakan remaja labil yang memilih menangis setelahnya. Atau patah hati khusus mereka, mungkin kami, orang-orang yang jatuh cinta diam-diam yang setelahnya berhenti mendoakan. Atau mungkin patah hati yang entah siapa bisa sukses menyembunyikan semuanya dengan tampilan kuat di luar.

Bukan itu semua, teman.

Sudah saya bilang, kehilangan waktu itu rasanya benar-benar lebih dari patah hati. Saya yang uring-uringan sampai tidak dapat menangis, mungkin air mata terlanjur membeku di dalam dada. Saya yang tidak hanya sekedar mendoakan, namun juga yang selalu menceritakan mu dengan tersenyum kepada Tuhan. Saya yang tetap konsisten dengan tetap mengabaikan dunia ketika mata kita bertemu, malu, pura-pura tidak sengaja. Juga semua yang saya simpan sendiri lalu membusuk.

Teman, kehilangan mu seperti kehilangan hati dan logika ku sekaligus. Logika ku ini perlahan menjadi se-berantakan tatanan rambut mu itu. Kalau hati, entah apa kabar, sudah di bakar menjadi api dan di larung ke tengah laut. Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Entah apa yang pantas untuk memulai sebuah percakapan kecil dengan mu lagi,saya rancu, saya bimbang, kita gengsi!

Hanya di suatu waktu, saya ingin kau meluangkan waktu untuk mengintip busuknya bunga-bunga di diri ini yang dulu selalu kau hujani. Lalu, kau sadar, dank au akan dating lagi, tanpa alasan untuk pergi lagi, membawa segalanya yang dulu sempat kau bawa hilang.

Dan saya juga akan sadar, akan memanggil mu…teman. Karena kita memang teman tanpa kemajuan dalam lain hubungan.

Hati


Pelan-pelan aku menyelusup masuk ke dalam hati. Yang dulu aku sangat takut, kini mulai kuberanikan kembali. Karena aku bosan berada di posisi ‘Hambar’; titik di mana aku sedang tidak jatuh cinta apalagi path hati. Pelan, sangat pelan, aku menuju ke dalam hati, degup kaki ku juga tak terdengar dengan harapan segalanya yang tertidur dan asyik bermimpi tidak lagi terbangun untuk kenyataan yang jarang berpihak kepadanya. Berbekal sebuah kunci. Kunci yang dulu kau tanyakan namun aku berbohong berkata hilang, sebenarnya masih ada, masih ku simpan di labirin rahasia, yang ketika aku mencarinya, aku sempat tersesat di sana. Bukannya aku sengaja membuat mu geram, namun waktu itu aku benar-benar ingin menguncimu di dalam hati dan membuatkan mu rumah di sana, yang berseblahan dengan rumah baru Tuhan yang tidak lagi di masjid ataupun gereja; di dalam hatiku.

Akibatnya?

Kau memaksakan keluar, mendobrak pintu hati tanpa kunci. Hati ku rubuh. Untungnya kemarau belakangan ini, dengan ngos-ngosan, aku dibantu Tuhan membenahi segalanya yang dulu pernah rusak, agar di musim hujan berikutnya aku dapat memboyong mu lagi untuk masuk ke hati yang sudah siap huni.

Aku janji, sepenuhnya aku berjanji. Kelak, jika kau mau masuk ke ‘rumah’ itu lagi, akan ku berikan kunci aslinya ini untukmu. Agar kau tetap bisa merasa bebas, karena aku pikir, untuk apa memiliki seseorang yang raganya bersama ku namun hati dan pikirannya entah di mana dan bersama siapa. Menurutku, itu yang namanya kekalahan. Sebenarnya bukan sesuatu yang jauh dan tak dapat dicapai sekalipun berusaha, namun yang di genggam ternyata pergi diam-diam.

Oh iya, sepertinya kau tidak perlu takut. Waktu itu Tuhan tidak marah ketika kau tinggalkan sendiri di dalam hati, malah, senja selanjutnya Ia mengajakmu menikmati kopi bersama. Itu pesan-Nya untuk mu yang dititipkan kepadaku di sertai beberapa penutup sebelum Ia menutup selimutnya di malam musim hujan ini, kata-Nya “Bawalah lagi, menjadi ‘tetangga’-Ku kembali, di dalam hati, asal dia sejati.”

Rabu, 14 September 2011

Rumah


Dari dulu, aku ingin menjadi rumah mu.

Menjadi keset di depan pintu yang hanya bisa berkata 'Selamat Datang' setelah sekian lama kau lupa pulang. Menjadi daun pintu yang terbuka lebar saat kau jenuh dan tak tau harus pulang ke mana. Menjadi ruang tamu yang berisi sambutan mawar segar agar kau tak kapok berkunjung dan tak pergi-pergi lagi. Menjadi ruang keluarga, sesuatu yang selalu menyambutmu hangat dengan pelukan erat dan dukungan hebat. Menjadi ruang makan yang selalu tercium aroma semangat setiap saat. Menjadi dapur yang menuntut mu untuk mencari makan sendiri ketika tak satupun dapat kau jadikan sandaran. Menjadi kisi-kisi jendela agar kau bisa tetap menikmati rokok mu di sana. Menjadi gorden pembatas yang berarti bahwa aku membebaskan mu namun tetap dalam batas kewajaran. Menjadi teras yang bisa membuat mu rileks sekedar menikmati hujan dan menghilangkan penat. Menjadi taman rumput segar, petrichor, parfume paling mahal itu sudah menunggu mu di sana. Menjadi ruang ibadah, sebuah tempat penting untuk menyusun batu bata yang akhirnya menjadi tiang penyangga yang kuat. Menjadi ruang kerja, tempatmu mengukir masa depan. Menjadi kamar mandi, sebuah ruang yang membuat mu bisa 'telanjang' tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Menjadi pagar yang memelukmu lekat.

Aku juga ingin menjadi....kamar tidur utama mu, sebuah tempat di mana kau bisa seharian mengurung diri di sana. Tersenyum-senyum sendiri, berkaca, menangis, terharu, atau sekedar menekuk kedua kaki di paling sudut ruangan dengan tidak tau apa yang harus dilakukan kecuali berbicara lirih dan jujur tentang perasaan mu yang paling rahasia.

Aku ingin menjadi rumah untuk mu yang lebih detail daripada sebuah rumah. Karena rumah bukan sekedar bangunan. Namun di mana aku juga menjadi sebuah alasan utama mu untuk bersegera 'pulang'.

Dari dulu, aku masih ingin menjadi sebuah rumah untuk mu. Dari dulu, mengapa kau masih belum tau juga? Dari dulu, sebenernya aku belum memberi tau.