Senin, 13 Juni 2011

Surat Kaleng #16 untuk Absen 16


Ingatkan aku, ini bagian terakhir tentang mu. Jika nanti aku akan menulis tentang mu lagi, cegah aku sesegera mungkin.

Ternyata nomor absen mu itu 16. Aku pikir 15, atau yang lain. Dan entah jodoh atau apa, kali ini benar-benar tepat sekali aku menulis Surat Kaleng #16 untuk Absen 16. Tau tidak, aku sebenarnya sudah merencanakan menulis hal ini sejak lama namun aku tidak juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui satu hal tentang mu yang belum aku tau; nomor absen mu. Mungkin agar aku tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Agar semuanya tepat dan aku tidak lagi perlu untuk berlebihan dalam satu atau lain hal. Mungkin juga Tuhan memberiku jeda untuk berpikir apakah aku harus tetap menjaga hatiku untuk mu atau menyudahi dengan tulisan terakhirku untuk mu ini.

Robin, buka jendela mu lebar lebar. Ambil lalu baca surat ini yang baru saja diantar burung hantu yang sedang kesepian.

Januari, Februari, Maret. Satu, dua, ya tiga bulan aku kepincut berat dengan mu. Cari tau semua informasi tentang mu. Memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku dengan semua harapan-harapan ku yang aku biarkan tumbuh dengan sehat dipundakmu. Menunggu mu untuk sekedar lewat di hadapan ku dan tersenyum. Salah tingkah seperti kecoa yang pertama kali merasakan closet mewah. Maunya senyum dan ketawa ketawa kecil sendiri. Terkadang merasa dewasa yang sudah siap dengan segalanya, terkadang merasa ini semua hanya cinta monyet rabies yang kalau monyet rabies itu cepat mati maka semua perasaan yang ada juga ikut cepat mati.

April, Mei, Juni. Satu, dua, ya tiga bulan sudah rasaku terlalu biasa dengan mu. Hapus nomor handphone mu. Unfollow akun twitter mu. Tidak lagi menunggu mu lewat sambil tersenyum. Membuang semua informasi tentangmu yang susah payah aku cari. Menghentikan untuk memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku karena aku memang sudah tidak lagi jatuh cinta. Robin, aku galau, aku rancu, aku tersesat di labirin yang aku buat sendiri. Dulu ada kamu yang aku jadikan bekal di masa depan, yang aku masukkan ke saku baju ku setiap saat. Tapi sekarang, sudah tidak lagi. Jangan tanyakan aku masih cinta atau tidak, tolong jangan tanyakan itu. Aku tidak berani jatuh cinta dengan mu. Aku takut di adu domba dengan cinta.

Ya, tiga bulan sudah aku sanggup menjalani semuanya serba sendiri, tanpa bekal, tanpa motivasi, tanpa inspirasi, tanpa segalanya yang dulu itu adalah kamu, Robin. Bantu aku bagaimana mengisi kesepian ini agar aku tampak ramai. Seperti burung hantu yang kesepian, ia merebut secara paksa pekerjaan merpati yang senantiasa mengantarkan surat. Tapi kali ini, burung hantu angkat tangan, tidak sanggup mengantarkan surat kaleng ini ke bulan untuk Robin si pawang hujan.

Eh Robin, selain nomor absen mu, 16 juga urutan inisial ku di alfabet. Lagi-lagi aku tidak tau ini jodoh atau apa.

1 komentar: