Senin, 13 Juni 2011

Rahasia


Tuhan, kapan kita bisa ngobrol hangat berdua? Saat jarum jam Kau izinkan beristirahat sejenak untuk sekedar minum air es dan mengeringkan keringatnya sehingga memberikan waktu luang untuk kita. Ketika cicak, nyamuk, serangga kecil lainnya yang biasa bermain, bergosip, berjalan-jalan di kamar ku, bahkan debu sekalipun tak Kau izinkan hadir. Pokoknya cuma kita berdua bersama hujan yang mengendap untuk menguping obrolan kita dari balik jendela kayu kamarku, cahaya bulan yang memaksa masuk dari celah ventilasi, matahari dan bintang dengan cueknya berbagi kutek warna nude sambil mengangguk setuju. Aku tidak mengerti semua itu. Mungkin Kau mau datang siang hari, mungkin malam hari, mungkin berbagi senja denganku. Mungkin dimana siang dan malam akan menjadi satu. Yang jelas aku butuh kehadiran-Mu ke kamarku yang sudah aku kunci rapat agar Ibu dan Bapak pun tidak tau bahwa anak tunggalnya ini sedang rancu. Sambil menikmati teh celup dan martabak, aku ingin cerita banyak dengan Mu, Tuhan.

Cerita tentang masa lalu yang ada di pundak ku, yang selama ini membuatku kesulitan dan keberatan setiap kali lari dalam mata pelajaran olahraga. Cerita tentang keadaanku sekarang yang membebani otak dan hatiku sekaligus, sampai terkadang aku bingung, harus mendahulukan perasaan ataukah logika. Juga masa depan, yang berpegang erat pada pergelangan kaki ku, yang mendorongku untuk lari dan berfikir lebih cepat daripada ini, yang membuatku merasa terlalu ambisius.

Kau pasti lebih mengerti dari aku kan, Tuhan? Meskipun aku yang punya hidupku sendiri, tapi jujur, aku 'nol' dalam mengendalikannya, bahkan aku tidak mengerti harus bagaimana. Aku terlalu bodoh untuk sekedar memikirkan harus bernafas dengan lubang hidung kanan ku atau lubang hidung kiri ku. Bahkan untuk melangkah dengan kaki kanan atau kaki kiri duluan, aku masih bingung. Bimbing aku, Tuhan, agar aku tidak salah melangkah, agar tidak boros bernafas, agar bisa menyeimbangkan antara logika dan perasaanku.

Burulah kemari, Tuhan. Airmataku sudah di ekor mata, cerita panjangku sudah diujung bibir, bahkan ingusku sudah diujung lubang hidung, mereka yang sedang siap-siap untuk keluar bersamaan ketika nanti aku berbagi rahasia ku yang...begitulah. Tapi Tuhan harus janji, jangan bilang siapa-siapa, kalau soal hujan, cahaya bulan, bintang, matahari, mereka sudah aku ancam kalau kalau sampai berani membeberkan rahasiaku dengan Mu, nanti.

Oh Tuhan, Kau mengerti maksudku kan? Iya. Kemarilah, terserah Kau saja mau terjun bebas bersama hujan, atau menumpang burung sriti yang setiap senja berterbangan di atap rumahku, asal cepat sampai sini. Aku sudah lelah menunggu, make up baruku juga ikut luntur.

Uh lama sekali datangnya. Kira-kira Tuhan sedang apa ya? Coba aku intip saja, selagi hatiku bolong jadi mudah melihat rumah baru Tuhan yang aku buatkan di dalam hatiku. Oh iya, Tuhan kan juga punya urusan sendiri, punya rahasia-Nya sendiri. Sudah ah jangan terlalu merepotkan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar