Senin, 30 Mei 2011

Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi



Awalnya aku sempat bingung harus menulis apa di Surat Kaleng #15 ini. Yang awalnya aku pikir angka 15 adalah nomor absen Robin, ternyata bukan. Padahal aku ingin menulis tentang Robin untuk yang terakhir kalinya disini. Lalu apa aku juga lagi-lagi harus menulis tentang dia yang inisial nama panggilannya berada di urutan ke 15 dari alfabet? Tidak. Tidak perlu. Aku sudah punya komitmen dengan Tuhan sejak aku menulis Surat Kaleng sebelum ini yaitu Surat Kaleng #14. Mana mungkin aku melanggar komitmen ku sendiri. Aku sudah terlanjur banyak malu terhadap Tuhan. Jadi kali ini aku putuskan untuk membuat Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi. Ya kamar mandi baru ku yang dibuat sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu. Dan sengaja aku menulis kali ini pukul 15:15 di Minggu sore.


'Kamar mandi, apa kabar?'

...


Itu yang selalu aku tanyakan kepada mu setiap kali aku membutuhkan mu, dan kau mungkin lebih tau alasannya bahwa diam adalah jawaban yang selalu kau teriakkan lantang untukku. Jujur, kamar mandi, aku hanya ingin tau bagaimana kabar mu. Apakah kau juga akan sebahagia aku ketika kabar ku sedang baik? Yang jelas aku harap kau tidak akan lebih kalut daripada aku ketika kabar ku sedang buruk. Aku hanya takut jika kau tidak seceria biasanya; bercanda dengan air di bak mandi besar, ikut bergosip dengan kecoa brengsek, menjaga cicak cicak agar tetap di ventilasi mu agar mudah ku ambil untuk ku pelihara, menemaniku menikmati petrichor buatan dari air yang aku percikkan ke dinding batu bata, atau bahkan jangan-jangan selama ini shampo, conditioner, sabun, pasta gigi, juga lulur scrub ku cepat habis gara-gara kamu yang hampir setiap hari jatuh cinta. Ha-ha. Ngomong-ngomong terimakasih ya sudah menghilangkan kantuk ku setiap pagi, menyegarkan ku di siang bolong sepulang sekolah, menyemangati ku di sore hari untuk tetap belajar lebih awal, dan menjadi tempat curhat ku di malam gelap saat semuanya sudah terlelap, saat aku pura-pura ijin untuk buang air, saat aku tidak lagi butuh bantal hanya butuh tubuh lebar mu untuk mendekapku, saat aku ingin teriak sekencangnya di dalam bak mandi berisi air penuh, saat aku tidak kuat untuk menyambut keseharian ku dan hanya sanggup untuk 'nongkrong' di WC aroma lavender, saat mata ku yang merah mengharuskan ku untuk mencuci muka, juga saat kau rela tidur terlambat untuk menunggu keputusan ku apakah harus meneruskan untuk jatuh cinta dengan dia sambil mencabuti bulu-bulu halus sikat gigi bekas.


Tetaplah seperti ini, menjadi kamar mandi yang pernah, sedang, juga yang akan aku anggap selalu baru dari 15 tahun yang lalu, kemarin, sekarang, besok, lusa, dan sampai suatu saat nanti akan aku kenalkan kau dengan suami dan anakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar