Senin, 16 Mei 2011

Peka


Rabu siang sepulang sekolah kemarin saya benar-benar menangis (lagi lagi hari Rabu). Setelah membanting pintu dan melempar sepatu serta kaos kaki, saya langsung peluk Ibu. Seharian saya benar-benar diam ketika saya merasakan sakit hati yang sangat. Saya terisak hebat saat itu. Hanya mau berada di bahu Ibu, titik. Sambil menangis saya mencoba menjelaskan. Ibu tersenyum. Saya yakin bukan maksud Ibu mengejek, mungkin Ibu tau apa yang saya rasakan, mungkin Ibu juga sempat sakit hati begini beberapa kali sewaktu muda dulu, mungkin Ibu sudah kebal, mungkin juga lewat senyumnya Ibu ingin bilang 'buat apa menangis?'. Saya tidak tau pasti. Yang pasti saya merasa nyaman ketika harus bersama Ibu.

Bapak, beda jauh dengan cara mendidik Ibu yang lemah lembut dan sering membuat saya mengira-ngira apa maksud nasihat Ibu yang tersirat. Bapak lebih to the point dan keras. Dan saya yakin, keduanya sama-sama memberi perhatian yang lebih untuk saya. Mungkin beberapa ada yang ngeri melihat Bapak, brewok dan kumis tebal, berkulit hitam, kepala hampir botak, selalu telanjang dada dan memakai celana pendek, juga sandal kulit coklat kenang-kenangan dari almarhum bapaknya Bapak. Saya pun juga seringkali takut. Ketika Bapak memberi nasihat, justru saya mengganggapnya marah. Bagaimana lagi, ekspresinya yang kuat dan suaranya yang lantang. Namun disitu, iya bagian itu ketika Bapak menyampaikannya secara tersurat. Membuat saya tidak harus mencerna lebih lama seperti nasihat tersirat dari Ibu. Malamnya setelah saya murung dari seharian, Bapak bilang banyak tentang pelajaran hidup, tentang yang saya alami sekarang belum apa-apa, Bapak pernah merasakan sakit daripada ini, pengalaman Bapak yang kerabatnya ada dimana-mana, ada yang bisa dipercaya ada juga yang tidak, ada yang tidak bosan mendukung ada juga yang diam diam membuat Bapak jatuh. Salah satunya yang paling saya ingat, Bapak bilang:

''Jadi orang jangan terlalu peka!''

Awalnya dalam hati saya mengelak. Ah Bapak ini bagaimana, saya kan manusia, apalagi saya wanita, sedikit-sedikit saya pasti pakai perasaan. Saya harus peka dengan keadaan sekeliling. Saya tidak boleh cuek. Tapi tiba-tiba saya sadar, untuk apa peka kalau hanya menyakiti dirisendiri. Saya setuju. Saya mau mengikuti saran Bapak. Mau pura-pura tidak mendengar apapun. Mau cuek intinya. Mungkin disini saya akan mengerti tentang 'silent is gold'. Ya, saya akan terus mencoba semuanya. Mencoba agar saya tidak lagi peka, tidak perlu pakai perasaan, sedikit-sedikit jangan dipikirkan dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Seperti yang selalu Bapak ingatkan untuk saya, ketika saya mencium punggung tangannya yang masih tercium aroma rokok semalam sebelum saya turun dari mobil dan bersiap menyambut hari-hari saya.

Ah terimakasih sekali Bapak. Kau dapat membuat hidup anak tunggalmu ini bewarna lagi sekalipun kulitmu yang monoton hitam. Ups hehe. Love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar