Rabu, 04 Mei 2011

Menunggu


Saya suka kesal dengan Bapak saya waktu membuat seseorang menunggu. Tidak jarang pengamen berdiri lama di depan kaca mobil sambil bernanyi entah apa, saya kurang jelas mendengarnya. Mereka memang awalnya bernanyi sambil tersenyum, siapa tau orang-orang di dalam mobil termasuk Bapak mau berbaik hati memberikan logam rupiah akibat keramahannya. Atau memasang muka melas, sering kali juga terlihat lebih ceria dalam kesederhanaannya dibandingkan mereka yang cukup berkecukupan. Ada yang memberi. Ada yang langsung melambaikan tangan. Ada juga yang seperti Bapak; menggantung alias membuat mereka menunggu. Bapak pasti tidak pernah menggubris mereka yang masih muda tapi sudah mengamen atau bahkan mengemis. Saya juga sangat mengerti bagaimana maksud Bapak agar mereka yang muda mau berusaha lebih kuat. Tapi ya tolong, jangan membuat mereka menunggu. Bapak, mereka dikejar waktu, bukan lagi berpatokan dengan bulan atau hari atau jam bahkan lebih sempit daripada menit. Mereka dikejar detik. Detik yang menyempit disetiap detiknya. Jika Bapak membuat mereka menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang entah kalau mereka sudah menunggu Bapak akan memberinya upah lelah atau Bapak langsung ambil gas ketika lampu hijau menyala. Itu benar-benar tidak adil rasanya. Mereka akan mendapat satu harapan yang mereka fikir dapat diwujudkannya. Dalam satu periode lampu merah, salah satu dari mereka hanya akan terfokus kepada Bapak. Karena apa? Bukan lain dia berfikir kalau Bapak akan berbaik hati kepadanya. Ah tap apa. Kalaupun saya dalam kondisi satu mobil dengan Bapak, biasanya saya langsung memberi recehan -uang logam- atau kalau memang sedang tidak ada yasudah terpaksa saya melambaikan tangan. Karena sedikit banyak saya tau, menunggu itu tidak enak.

Jangan-jangan semua ini karma. Bapak yang suka membuat orang lain menunggu, sekarang dibalaskan Tuhan untuk anaknya yaitu saya. Pantas saja saya suka dibuat menunggu sesuatu yang tidak pasti. Semacam digantung, oh bukan, lebih tepatnya saya menggantung diri saya sendiri dalam kondisi yang saya tau memang tidak pasti menguntungkan untuk diri saya.

Bapak, saya pernah menunggu, rasanya benar-benar meremukkan hati. Saya menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang tidak bisa dibayangkan. Ibaratkan saja saya menunggu hujan datang bebarengan dengan matahari. Saya mau menunggu karena saya tau hujan ditengah siang bermatahari pasti bisa datang. Walaupun saya tidak tau kapan. Namanya saja sebuah pengibaratan. Namun aslinya menunggu seseorang memang lebih berat. Lebih tidak jelas kapan datangnya. Lebih gengsi akankah membalas perhatian yang selama ini saya berikan untuknya ataukah membiarkan saja perhatian itu luntur. Yang jelas dia membuat saya seperti orang yang sanggup membeli waktu. Ya, cukup lama saya membuang banyak waktu untuk terfokus kepada satu orang yang membuat semuanya sia-sia.

Hampir sama ya saya dengan pengamen di traffic-light itu. Kami dibuat menunggu. Kamipun hampir sulit membedakan, mana yang sempat membuat kami menunggu dan manakah kondisi menunggu yang kami buat sendiri. Oh tetapi diantara kami ada bedanya. Kalau pengamen, paling tidak, ada saya yang membuat keputusan dengan memberi uang atau melambaikan tangan agar mereka tidak terlalu menunggu lama. Sedangkan saya? Tidak satu orangpun meyakinkan saya atas hal apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Iya, saya terlalu bodoh untuk menunggu.

Mungkin saya harus banyak belajar dengan pengamen di traffic-light. Tentang kesabaran menunggu. Tentang keseimbangan fokus yang mereka bagi secara adil. Tentang keceriaan. Tentang memaafkan bagi mereka yang tidak memberi mereka recehan. Tentang doa panjang yang orang bermobil beli dari mulut pengamen tidak lebih dari lima ratus rupiah. Juga tentang traffic-light.

Ya traffic-light. Pengamen, juga saya, ingin hidup berwarna seperti lampu lalu lintas itu. Tapi apa, tidak semudah itu. Untuk menggapai lampu berwarna indah itu saya harus dikejar detik yang berdentum jelas diatas saya dan saya harus melewati besi berkarat yang menyelimuti lampu warna-warni itu. Anggap saja sebagai refleksi dari hidup yang tidak akan pernah mudah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Ngomong-ngomong, kalau saya harus menunggu, saya tidak akan takut lagi. Karena saya tidak sendiri. Halo pengamen, sembari menunggu, nyanyikan untuk saya lagu-lagu ceria dan sesekali sendu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar