Sabtu, 21 Mei 2011

Mengutuk Suntuk


Belakangan ada perasaan aneh yang menggelayuti ku. Semacam malas, menye, ingin menangis, murung, ah pokoknya tidak bersahabat sekali mereka dengan ku. Membuat ku risih. Tidak semangat dan hasilnya seringkali tidak maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Selalu saja mereka mengelilingi ku. Ada yang berpegang erat di tungkai kaki ku, menahan bahu ku, menyeret tangan ku, menarik rambut kucir kuda ku, menarik maju bibir ku, menarik turun kelopak mata ku, berbisik lantang di telingaku tentang sesuatu yang intinya hampir sama yaitu perasaan buruk yang ingin membawaku 'maju ke belakang'.

Mungkin ini yang namanya suntuk.

Pantas saja, belakangan aku butuh sesuatu yang dapat me-refresh otak dan hatiku. Kalau masalah me-refresh otak itu mudah saja. Cari game yang tidak terlalu banyak strategi dan yang penting cukup menghibur. Pergi ke suatu tempat yang memiliki hamparan luas dan hijau, udara sejuk, juga tidak terlalu bising dengan berbagai hal yang sering dijumpai di kota. Beristirahat sejenak dari rutinitas yang sering menuntut otak untuk bekerja keras membanting tulang. Kalau kau ingin tau banyak bagaimana cara me-refresh otak, cari saja di Google, disana lebih banyak jawaban sebagai alternatif pilihan. Lalu apa kabar dengan hati? Bagaimana cara me-refresh hati? Membuat hati segar, pulih, kuat, nyaman, tenang, dan banyak lagi hal yang menjadikan hati lebih siap dalam segalanya.

Mengutuk suntuk.

Remaja, dewasa, aku ingin mengenalkan hati ku kini adalah dukun. Jangan kaget jika gayanya seperti madam yang kemayu. Pakai eyeshadow dan blushon tebal, lipstick juga tidak ketinggalan, make-up berlebihan, eyeliner dan mascara yang hitam pekat seperti endapan kopi, kutek warna menyala, ala wanita bergaya gipsy. Apa lagi kalau bukan ingin menjadi dukun yang sukses. Hati ku ingin menjadi dukun untuk mengutuk suntuk. Agar suntuk tidak lagi-lagi datang. Agar suntuk tidak hanya bersembunyi yang sewaktu-waktu dapat datang kembali, namun suntuk benar benar musnah. Ah ternyata mengutuk suntuk tidak lebih mudah daripada mengutuk anak durhaka. Karena suntuk bukan seseorang yang memiliki perasaan, yang sewaktu-waktu dapat jenuh bahkan merasa tidak enak apabila merugikan orang lain, juga bukan seseorang yang rajin meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin satu-satunya cara mengutuk suntuk adalah dengan memperbaiki perasaan ku sendiri. Suntuk seperti lalat yang tidak beretika, ketika hati mu kau biarkan kotor maka suntuk akan datang, dari situlah hati mu harus selalu kau jaga kebersihannya, karena suntuk tidak akan mendapat tempat dihati yang bersih.

Ingatkan aku ya! Kalau hati ku benar-benar menjadi dukun yang sukses, aku ingin segera mengutuk suntuk agar musnah juga tidak lupa mengutuk mu agar tidak lagi membuat hati ku patah; pelet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar