Kamis, 19 Mei 2011

Memasak Kopi




Ada saja yang membuat aku kangen dengan Bapak. Setiap kali aku menghirup asap rokok, setiap kali aku menjadi perokok pasif, setiap kali ada orang disebelahku menikmati kopi atau sekedar permen kopi, setiap kali aku melihat sarung hijau motif kotak-kotak yang mungkin lebih tua daripada aku, kaos kaki bola warna kuning, asbak besi, semuanya. Atau mungkin begadang yang menjadi kebiasaan ku selama ini karena tertular dari Bapak. Aku sarankan, jangan pernah mencari Bapak di kamarnya ketika waktu masih menunjukkan di bawah pukul 00.00, pasti kau tidak akan menemukan. Bapak biasa, oh bahkan mungkin selalu begadang. Sekedar menghilangkan penat, biasanya Bapak 'nongkrong' sambil melihat pemandangan atau memperhatikan mobil yang sesekali lewat di jalan raya dekat rumah. Sering aku berbicara dalam hati, ''Perhatikan dengan seksama, Bapak! Besok anakmu akan seperti mereka yang mengendarai mobil mewah malam-malam begini sendirian, pulang larut demi pekerjaan yang menuntutnya untuk sukses.'' . Ah benarkan, air mata ku menetes perlahan.

Mungkin aku akan sedikit kesal dengan wanita yang suka 'jijik' melihat pria merokok, rasanya benar-benar ingin menjadikan mulutnya sebagai asbak. Karena aku sendiri bukan tipe yang 'berlaga'. Bagaimana mungkin aku menjauhi dan merasa jijik kepada mereka yang notabene sebagai perokok aktif dan coffee addicted, sementara aku paham betul Bapak bagian dari mereka. Sampai aku hafal, jajaran gelas putih polos yang berisi endapan kopi dan sekaligus menjadi asbak rokok, itu pasti punya Bapak. Ada saja cara menikmati kopi ala Bapak.

Salah satunya yang sekarang membuat aku sampai kepincut dengan kopi adalah cara Bapak menyajikan kopi dengan cara dimasak. Memasak kopi? Ah serius? Kata Bapak biar tidak membuang waktu. Ketika air mendidih diatas kompor, langsung saja ditambah kopi, gula, dan hey juga garam. Sudah kopinya kental, gula pun tidak terasa, dan lagi kenapa harus garam? Sambil menuang kopi yang baru saja 'matang' ke dalam gelas putih polos favoritnya, Bapak juga bilang, katanya detail garam hanya untuk menyeimbangkan agar kopi tidak terlalu pekat juga agar penyakit gula tidak cepat menyerang tubuh, ya semacam mentralisir.

Bapak benar. Untuk menghidupkan hidup ada banyak cara terutama membuat bagaimana orang lain tertarik dengan hidup kita dan berusaha memasukinya untuk mengambil secuil pelajaran dari dalamnya. Mungkin garam di kopi tadi seperti cinta di dalam hidup, menyeimbangkan kebahagiaan dan menetralisir kesedihan. Dan belajarlah dari ilmu endapan kopi, tidak pernah protes ketika situasi dan kondisi memojokkannya untuk dibuang setelah dimanfaatkan.

Bapak aku yakin setiap detail hidupmu mengandung banyak pelajaran hidup untuk ku. Tunggu ya Bapak, sebentar lagi kau tidak akan memasak kopi sendiri. Akan aku carikan seseorang untuk menemanimu memasak kopi dan sekaligus bersedia menemaniku di hari-hari ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar