Senin, 30 Mei 2011

Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi



Awalnya aku sempat bingung harus menulis apa di Surat Kaleng #15 ini. Yang awalnya aku pikir angka 15 adalah nomor absen Robin, ternyata bukan. Padahal aku ingin menulis tentang Robin untuk yang terakhir kalinya disini. Lalu apa aku juga lagi-lagi harus menulis tentang dia yang inisial nama panggilannya berada di urutan ke 15 dari alfabet? Tidak. Tidak perlu. Aku sudah punya komitmen dengan Tuhan sejak aku menulis Surat Kaleng sebelum ini yaitu Surat Kaleng #14. Mana mungkin aku melanggar komitmen ku sendiri. Aku sudah terlanjur banyak malu terhadap Tuhan. Jadi kali ini aku putuskan untuk membuat Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi. Ya kamar mandi baru ku yang dibuat sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu. Dan sengaja aku menulis kali ini pukul 15:15 di Minggu sore.


'Kamar mandi, apa kabar?'

...


Itu yang selalu aku tanyakan kepada mu setiap kali aku membutuhkan mu, dan kau mungkin lebih tau alasannya bahwa diam adalah jawaban yang selalu kau teriakkan lantang untukku. Jujur, kamar mandi, aku hanya ingin tau bagaimana kabar mu. Apakah kau juga akan sebahagia aku ketika kabar ku sedang baik? Yang jelas aku harap kau tidak akan lebih kalut daripada aku ketika kabar ku sedang buruk. Aku hanya takut jika kau tidak seceria biasanya; bercanda dengan air di bak mandi besar, ikut bergosip dengan kecoa brengsek, menjaga cicak cicak agar tetap di ventilasi mu agar mudah ku ambil untuk ku pelihara, menemaniku menikmati petrichor buatan dari air yang aku percikkan ke dinding batu bata, atau bahkan jangan-jangan selama ini shampo, conditioner, sabun, pasta gigi, juga lulur scrub ku cepat habis gara-gara kamu yang hampir setiap hari jatuh cinta. Ha-ha. Ngomong-ngomong terimakasih ya sudah menghilangkan kantuk ku setiap pagi, menyegarkan ku di siang bolong sepulang sekolah, menyemangati ku di sore hari untuk tetap belajar lebih awal, dan menjadi tempat curhat ku di malam gelap saat semuanya sudah terlelap, saat aku pura-pura ijin untuk buang air, saat aku tidak lagi butuh bantal hanya butuh tubuh lebar mu untuk mendekapku, saat aku ingin teriak sekencangnya di dalam bak mandi berisi air penuh, saat aku tidak kuat untuk menyambut keseharian ku dan hanya sanggup untuk 'nongkrong' di WC aroma lavender, saat mata ku yang merah mengharuskan ku untuk mencuci muka, juga saat kau rela tidur terlambat untuk menunggu keputusan ku apakah harus meneruskan untuk jatuh cinta dengan dia sambil mencabuti bulu-bulu halus sikat gigi bekas.


Tetaplah seperti ini, menjadi kamar mandi yang pernah, sedang, juga yang akan aku anggap selalu baru dari 15 tahun yang lalu, kemarin, sekarang, besok, lusa, dan sampai suatu saat nanti akan aku kenalkan kau dengan suami dan anakku.

Sabtu, 21 Mei 2011

Korban


Para korban, mari membuat diri menjadi lebih kuat daripada tersangka!

Saya korban. Bukan yang setiap siang bolong disiarkan di televisi, bukan yang hartanya hilang, bukan yang dilecehkan, bukan yang perlu dikasihani di meja hijau. Saya bukan mereka. Baiklah jika kami sama sama disebut korban. Mungkin mereka lebih sakit daripada saya. Namun yang namanya masalah itu relatif. Sah sah saja jika saya menyebutkan bahwa masalah saya yang paling berat, saya lebih menderita daripada mereka. Hey, ternyata saya juga lebih kuat daripada mereka yang membutuhkan pengacara, meja hijau, kepolisian, dan berbagai macam aparat penegak hukum lainnya. Karena saya bukan korban perampokan, bukan korban pelecehan seksual, bukan korban tabrak lari, bukan korban pembunuhan. Sepele, saya hanya korban cinta.

Korban cinta. Memang kedengarannya sepele dan hanya layak diperbincangkan oleh remaja labil seperti saya dan teman-teman dekat saya. Apakah sudah banyak yang tau bahwa para korban cinta, termasuk saya, secara tidak langsung merangkap menjadi korban-korban yang lain. Saya korban cinta; waktu milik saya dirampok, penjelasan saya dilecehkan, logika saya di tinggal lari, hati saya dibunuh. Bagaimana pun saya tidak butuh aparat penegak hukum untuk menyelesaikan masalah saya yang satu ini ataupun menuntut tersangka dengan berbagai ancaman dan umpatan.

Dasar tersangka! Tersangka cinta. Ha-ha. Kali ini justri terdengar ganjil. Tersangka cinta yang membuat para korban tidak karuan. Belum jelas apa motif mereka sampai tega begitu. Mencuri, membunuh, dan berbagai hal keji yang mereka lakukan sampai saat ini pun mereka belum menyadarinya. Mereka masih menikmati hidup diantara korban yang hampir mati, tertawa diatas air mata para korban, dan yang paling tragis adalah mereka memiliki kekasih baru di hadapan para korban yang senantiasa lajang menunggu para tersangka kembali mengulang keindahan yang sempat dilewati bersama. Kalau dibilang seperti ganjil, ya memang ganjil, seperti otak para tersangka cinta. Hidup tersangka cinta yang tidak pernah genap; waktu yang ganjil, hidup yang ganjil, bahkan hatinya pun ganjil, hanya satu.

Para korban cinta, mari membuat diri menjadi lebih kuat daripada tersangka! Kalau perlu kita balikkan keadaannya, kitalah yang menjadi tersangka atas para tersangka yang mulai jatuh menjadi korban. Tidak apa-apa jangan khawatir. Roda itu berputar, adakalanya kita dibawah terinjak, kini saatnya kita diatas menginjak. Pssssttt saranku, ketika kau benar-benar berada di titik teratas, rodanya coba kau kempeskan saja agar tidak dapat berputar, dan kau tidak akan mungkin untuk berputar dan berada diposisi terinjak lagi.

Mengutuk Suntuk


Belakangan ada perasaan aneh yang menggelayuti ku. Semacam malas, menye, ingin menangis, murung, ah pokoknya tidak bersahabat sekali mereka dengan ku. Membuat ku risih. Tidak semangat dan hasilnya seringkali tidak maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Selalu saja mereka mengelilingi ku. Ada yang berpegang erat di tungkai kaki ku, menahan bahu ku, menyeret tangan ku, menarik rambut kucir kuda ku, menarik maju bibir ku, menarik turun kelopak mata ku, berbisik lantang di telingaku tentang sesuatu yang intinya hampir sama yaitu perasaan buruk yang ingin membawaku 'maju ke belakang'.

Mungkin ini yang namanya suntuk.

Pantas saja, belakangan aku butuh sesuatu yang dapat me-refresh otak dan hatiku. Kalau masalah me-refresh otak itu mudah saja. Cari game yang tidak terlalu banyak strategi dan yang penting cukup menghibur. Pergi ke suatu tempat yang memiliki hamparan luas dan hijau, udara sejuk, juga tidak terlalu bising dengan berbagai hal yang sering dijumpai di kota. Beristirahat sejenak dari rutinitas yang sering menuntut otak untuk bekerja keras membanting tulang. Kalau kau ingin tau banyak bagaimana cara me-refresh otak, cari saja di Google, disana lebih banyak jawaban sebagai alternatif pilihan. Lalu apa kabar dengan hati? Bagaimana cara me-refresh hati? Membuat hati segar, pulih, kuat, nyaman, tenang, dan banyak lagi hal yang menjadikan hati lebih siap dalam segalanya.

Mengutuk suntuk.

Remaja, dewasa, aku ingin mengenalkan hati ku kini adalah dukun. Jangan kaget jika gayanya seperti madam yang kemayu. Pakai eyeshadow dan blushon tebal, lipstick juga tidak ketinggalan, make-up berlebihan, eyeliner dan mascara yang hitam pekat seperti endapan kopi, kutek warna menyala, ala wanita bergaya gipsy. Apa lagi kalau bukan ingin menjadi dukun yang sukses. Hati ku ingin menjadi dukun untuk mengutuk suntuk. Agar suntuk tidak lagi-lagi datang. Agar suntuk tidak hanya bersembunyi yang sewaktu-waktu dapat datang kembali, namun suntuk benar benar musnah. Ah ternyata mengutuk suntuk tidak lebih mudah daripada mengutuk anak durhaka. Karena suntuk bukan seseorang yang memiliki perasaan, yang sewaktu-waktu dapat jenuh bahkan merasa tidak enak apabila merugikan orang lain, juga bukan seseorang yang rajin meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin satu-satunya cara mengutuk suntuk adalah dengan memperbaiki perasaan ku sendiri. Suntuk seperti lalat yang tidak beretika, ketika hati mu kau biarkan kotor maka suntuk akan datang, dari situlah hati mu harus selalu kau jaga kebersihannya, karena suntuk tidak akan mendapat tempat dihati yang bersih.

Ingatkan aku ya! Kalau hati ku benar-benar menjadi dukun yang sukses, aku ingin segera mengutuk suntuk agar musnah juga tidak lupa mengutuk mu agar tidak lagi membuat hati ku patah; pelet.

Kamis, 19 Mei 2011

Memasak Kopi




Ada saja yang membuat aku kangen dengan Bapak. Setiap kali aku menghirup asap rokok, setiap kali aku menjadi perokok pasif, setiap kali ada orang disebelahku menikmati kopi atau sekedar permen kopi, setiap kali aku melihat sarung hijau motif kotak-kotak yang mungkin lebih tua daripada aku, kaos kaki bola warna kuning, asbak besi, semuanya. Atau mungkin begadang yang menjadi kebiasaan ku selama ini karena tertular dari Bapak. Aku sarankan, jangan pernah mencari Bapak di kamarnya ketika waktu masih menunjukkan di bawah pukul 00.00, pasti kau tidak akan menemukan. Bapak biasa, oh bahkan mungkin selalu begadang. Sekedar menghilangkan penat, biasanya Bapak 'nongkrong' sambil melihat pemandangan atau memperhatikan mobil yang sesekali lewat di jalan raya dekat rumah. Sering aku berbicara dalam hati, ''Perhatikan dengan seksama, Bapak! Besok anakmu akan seperti mereka yang mengendarai mobil mewah malam-malam begini sendirian, pulang larut demi pekerjaan yang menuntutnya untuk sukses.'' . Ah benarkan, air mata ku menetes perlahan.

Mungkin aku akan sedikit kesal dengan wanita yang suka 'jijik' melihat pria merokok, rasanya benar-benar ingin menjadikan mulutnya sebagai asbak. Karena aku sendiri bukan tipe yang 'berlaga'. Bagaimana mungkin aku menjauhi dan merasa jijik kepada mereka yang notabene sebagai perokok aktif dan coffee addicted, sementara aku paham betul Bapak bagian dari mereka. Sampai aku hafal, jajaran gelas putih polos yang berisi endapan kopi dan sekaligus menjadi asbak rokok, itu pasti punya Bapak. Ada saja cara menikmati kopi ala Bapak.

Salah satunya yang sekarang membuat aku sampai kepincut dengan kopi adalah cara Bapak menyajikan kopi dengan cara dimasak. Memasak kopi? Ah serius? Kata Bapak biar tidak membuang waktu. Ketika air mendidih diatas kompor, langsung saja ditambah kopi, gula, dan hey juga garam. Sudah kopinya kental, gula pun tidak terasa, dan lagi kenapa harus garam? Sambil menuang kopi yang baru saja 'matang' ke dalam gelas putih polos favoritnya, Bapak juga bilang, katanya detail garam hanya untuk menyeimbangkan agar kopi tidak terlalu pekat juga agar penyakit gula tidak cepat menyerang tubuh, ya semacam mentralisir.

Bapak benar. Untuk menghidupkan hidup ada banyak cara terutama membuat bagaimana orang lain tertarik dengan hidup kita dan berusaha memasukinya untuk mengambil secuil pelajaran dari dalamnya. Mungkin garam di kopi tadi seperti cinta di dalam hidup, menyeimbangkan kebahagiaan dan menetralisir kesedihan. Dan belajarlah dari ilmu endapan kopi, tidak pernah protes ketika situasi dan kondisi memojokkannya untuk dibuang setelah dimanfaatkan.

Bapak aku yakin setiap detail hidupmu mengandung banyak pelajaran hidup untuk ku. Tunggu ya Bapak, sebentar lagi kau tidak akan memasak kopi sendiri. Akan aku carikan seseorang untuk menemanimu memasak kopi dan sekaligus bersedia menemaniku di hari-hari ku.

Senin, 16 Mei 2011

Peka


Rabu siang sepulang sekolah kemarin saya benar-benar menangis (lagi lagi hari Rabu). Setelah membanting pintu dan melempar sepatu serta kaos kaki, saya langsung peluk Ibu. Seharian saya benar-benar diam ketika saya merasakan sakit hati yang sangat. Saya terisak hebat saat itu. Hanya mau berada di bahu Ibu, titik. Sambil menangis saya mencoba menjelaskan. Ibu tersenyum. Saya yakin bukan maksud Ibu mengejek, mungkin Ibu tau apa yang saya rasakan, mungkin Ibu juga sempat sakit hati begini beberapa kali sewaktu muda dulu, mungkin Ibu sudah kebal, mungkin juga lewat senyumnya Ibu ingin bilang 'buat apa menangis?'. Saya tidak tau pasti. Yang pasti saya merasa nyaman ketika harus bersama Ibu.

Bapak, beda jauh dengan cara mendidik Ibu yang lemah lembut dan sering membuat saya mengira-ngira apa maksud nasihat Ibu yang tersirat. Bapak lebih to the point dan keras. Dan saya yakin, keduanya sama-sama memberi perhatian yang lebih untuk saya. Mungkin beberapa ada yang ngeri melihat Bapak, brewok dan kumis tebal, berkulit hitam, kepala hampir botak, selalu telanjang dada dan memakai celana pendek, juga sandal kulit coklat kenang-kenangan dari almarhum bapaknya Bapak. Saya pun juga seringkali takut. Ketika Bapak memberi nasihat, justru saya mengganggapnya marah. Bagaimana lagi, ekspresinya yang kuat dan suaranya yang lantang. Namun disitu, iya bagian itu ketika Bapak menyampaikannya secara tersurat. Membuat saya tidak harus mencerna lebih lama seperti nasihat tersirat dari Ibu. Malamnya setelah saya murung dari seharian, Bapak bilang banyak tentang pelajaran hidup, tentang yang saya alami sekarang belum apa-apa, Bapak pernah merasakan sakit daripada ini, pengalaman Bapak yang kerabatnya ada dimana-mana, ada yang bisa dipercaya ada juga yang tidak, ada yang tidak bosan mendukung ada juga yang diam diam membuat Bapak jatuh. Salah satunya yang paling saya ingat, Bapak bilang:

''Jadi orang jangan terlalu peka!''

Awalnya dalam hati saya mengelak. Ah Bapak ini bagaimana, saya kan manusia, apalagi saya wanita, sedikit-sedikit saya pasti pakai perasaan. Saya harus peka dengan keadaan sekeliling. Saya tidak boleh cuek. Tapi tiba-tiba saya sadar, untuk apa peka kalau hanya menyakiti dirisendiri. Saya setuju. Saya mau mengikuti saran Bapak. Mau pura-pura tidak mendengar apapun. Mau cuek intinya. Mungkin disini saya akan mengerti tentang 'silent is gold'. Ya, saya akan terus mencoba semuanya. Mencoba agar saya tidak lagi peka, tidak perlu pakai perasaan, sedikit-sedikit jangan dipikirkan dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Seperti yang selalu Bapak ingatkan untuk saya, ketika saya mencium punggung tangannya yang masih tercium aroma rokok semalam sebelum saya turun dari mobil dan bersiap menyambut hari-hari saya.

Ah terimakasih sekali Bapak. Kau dapat membuat hidup anak tunggalmu ini bewarna lagi sekalipun kulitmu yang monoton hitam. Ups hehe. Love.

Surat Kaleng #14 untuk Yang Merasa


Ini surat kaleng #14 untuk mu yang merasa inisial namanya diurutan ke 14 dari alfabet. Saya tidak akan menye-menye lagi. Hanya ingin sedikit menyampaikan kepadamu:

Doakan saya semoga ini terakhir kalinya saya menulis dengan dirimu sebagai inspirasinya.


Terimakasih,

Salam

Lumut


Pipiku lumutan

Tragis


Masih malu mengaku

Aku menangis

Muak melihat senyum mu sinis

Bukan tentang paksa atau titis

Karena air mata menari di pipi pipi tipis

Mari Ciptakan Karma!


Persetan dengan penantian karma. Aku bisa menciptakannya sendiri untuk mu.

Huh lagi-lagi hanya karma yang menjadi satu-satunya pegangan ku. Aku tidak kuat diam, aku juga tidak berani melawan. Ya, hanya karma yang sering menjadi penengah dari segala hal. Sering menjadi standart. Sering menenangkan ku. Bukan cinta yang menguatkan ku, justru karma lah yang selalu ada di belakang ku untuk menopang ketika aku benar benar jatuh. Lalu kau pikir siapa lagi yang membuat aku rajin bangun pagi, semangat mengikuti pelajaran, tidak mengeluh sekalipun ketika harus mengikuti bimbingan belajar yang sebelumnya aku pikir tidak lebih penting daripada memikirkan mu, dan apakah kau tau yang belakangan menjadi tisu oh mungkin belum sempat menjadi tisu karena ketika air mata ku belum sempat menetes seolah sudah ada dia yang rela menjadi selang dari dalam pembuluh air mata. Aku tanya kepadamu, siapa dia? Siapa lagi kalau bukan karma yang membuat aku menjadi lebih kuat, bahkan aku merasa aku sedang berada di titik terkuat dari diriku daripada sebelum-sebelumnya.

Tidak ada hal lain, kecuali aku ingin ada karma untuk mu dan keadaan benar-benar menjadi terbalik. Dimana nanti kau akan benar-benar dipojokkan dengan situasi dan kondisi seperti yang aku alami sekarang.

Haha benar benar tidak bisa dibayangkan ketika situasi dan kondisi harus menuntut mu untuk malas menyambut hari. Benar benar tidak tega untuk meninggalkan bantal favoritmu. Kegiatan sehari hari serasa hampa. Teringat Ibu di rumah, hanya ingin menangis di bahunya dan celah kedua lengannya. Jantung mu akan benar benar berdebar bukan jatuh cinta, hanya kau merasa benar benar marah atas semuanya juga karena seseorang yang kau anggap adalah tempat mu berbagi canda bahkan memperlakukan mu semena mena. Ya seperti itu. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Mungkin aku terlalu menye-menye kalau hanya berbicara karma. Tapi apa, aku memang tidak sekuat mereka yang tidak butuh perputaran hukum alam. Aku sarankan kepadamu, tunggulah karma.

Ngomong ngomong, cukup lama juga ya menunggu karma untuk mendatangi mu. Jadi terlintas difikiran ku untuk menciptakan karma sendiri untuk mu. Membuat diriku tertawa terbahak diatas air mata mu. Membuat diriku sekuat mungkin didepan dirimu yang lebih rapuh daripada tisu basah. Membuat apapun itu menjadi terbalik. Sudahlah, aku tau, kita punya sifat yang sama yaitu malas menunggu. Jadi apa salahnya kalau aku ciptakan karma untukmu.

Aku harap, kau dan siapapun hanya menganggap ini sebatas karma yang sedikit berbeda karena aku ciptakan sendiri; bukan sebuah balas dendam. Walaupun karma tidak lain adalah hukum alam untuk membalas kan yang kita dendam.

Pesimis


Bukan maksud saya bersedia untuk kalah, namun dimana saya siap untuk kalah.

Saya memang agak tidak suka kalau orang orang berlaga optimis. Baiklah kalaupun mereka bermaksud optimis itu memotivasi diri sendiri, bersemangat, memandang jauh kedepan dengan percaya diri. Sanggup ataupun tidak sanggup, mereka tetap optimis. Disitulah, saya pikir mereka menjadi Tuhan atas diri mereka sendiri. Sudah saya katakan, mereka terlalu percaya diri, tanpa berfikir dua kali harus melangakah dengan kaki kiri atau kaki kanan lebih dulu. Mereka kira, dengan optimis, apa yang mereka inginkan dapat tercapai dengan sendirinya. Yasudahlah, kalau beberapa dari mereka memang berhasil karena ke-optimis-an nya, saya juga tidak dapat berkata apa-apa. Karena yang ingin saya bicarakan, bukan sebersedia apakah kita ketika berhasil ataupun menang, namun sesiap apakah kita untuk kalah.

Berbicara tentang cinta memang agak kurang tepat disini. Seoptimis apapun, kalau cinta belum mau berbagi arumanis merah sebagai oleh-olehnya dari pasar malam untuk hati saya juga hatimu, kita tidak akan pernah jatuh cinta. Lalu jika hal selain pembodohan cinta?

Pikirkan saja tentang lomba lari --saya ingin sekali dapat berlari sempurna ketika pemanasan saat jam olahraga. Dimana saat itu saya dihadapkan pada teman-teman saya yang addict dengan bagian itu juga mereka yang bersedia meninggalkan saya dibelakang. Sekalipun saya optimis, sekalipun Robin dan sahabatnya menyemangati saya dari pinggir lapangan, sekalipun guru olahraga membentak saya, saya tetap tidak akan bisa berlari jauh didepan mereka. Kalau sudah kalah begini, apakah saya juga harus optimis? Harus berkhayal? Harus membayangkan yang asik asik saja? Memikirkan tentang lari yang sebenarnya diatas tanah gersang bak di atas eskalator yang berjalan begitu saja tanpa usaha dari dalam diri? Apakah harus optimis optimis dan optimis kalau optimis akan membunuh saya perlahan?

Maaf, ketika menulis ini saya memang sedang labil dan emosi pada satu mata pelajaran yang benar-benar saya benci secara lahir dan batin -bukan mata pelajaran olahraga.

Jalan terbaik satu satunya adalah, bukannya lebih baik saya siap untuk kalah jauh jauh sebelum saya benar-benar kalah? Ya saya mencoba untuk pesimis, bukan maksud saya bersedia untuk kalah, namun dimana saya siap untuk kalah. Dimana saya sudah tau harus berbuat apa ketika kalah, dan saya tidak akan membayangkan berbagai hal yang indah-indah untuk sekedar memotivasi diri sendiri.

Sabtu, 14 Mei 2011

Surat Kaleng #13 untuk B!


B! Selamat siang bolong ya. Hihi

Ini surat kaleng ke-13 untuk mu, B!. Banyak yang mengira angka 13 adalah angka sial, angka setan, atau angka buruk lainnya. Namun tidak tau kenapa ada saja yang membuatku kepincut dengan angka 13. Mungkin karena 13 adalah bilangan prima yang tidak bisa dibagi, begitu juga aku harap cinta kita dari dulu hingga sekarang seperti angka 13 yang tidak terbagi. Mungkin karena setiap pukul 13.00 ada FTV favoritku. Mungkin karena tanggal lahir kita jika dijumlahkan hasilnya adalah 13. Mungkin karena jumlah digit namamu ada 13. Atau jangan jangan karena 1 dan 3, jika digabung akan membentuk huruf B, yah huruf B inisial dari nama mu.

Sedikit banyak aku pernah menceritakan awal kita bertemu di postingan ku yang berjudul 'Cinta Pertama' dan 'Cara Pedekate' serta 'By You'. Kalau tidak salah siang bolong pukul 13.00 sepulang sekolah dulu adalah waktu dimana kita sering kali berkencan, biasanya di hari Sabtu, dimana sekolah kita yang berbeda sama-sama pulang lebih awal daripada hari-hari efektif lainnya. Jalan kaki kesana kemari untuk sebuah warung makan tenda yang tidak terlalu menguras kantong anak SMP. B! aku kangen sekali dengan masa masa itu. Kita bahagia sekali rasanya. Karena waktu itu kita adalah tipe orang yang cukup pandai bersyukur juga belum berbekal image yang musti dijaga. B! berkali-kali aku jatuh cinta dan sempat dua kali menjalin hubungan dengan pria lain setelah selesai dengan mu, tapi kamu tau hasilnya apa? Nihil. Karena tidak ada yang benar-benar seperti kamu. Memang aku ya seperti ini, kalau sudah suka dengan sesuatu, enggan untuk berganti tipe.

Untukku, kamu itu tipe yang berhasil buat aku memendam kangen hampir 4 tahun. Sukses sekali kamu, B!. Jujur, masih terbayang kuku kuku tangan mu yang sesekali kamu gigiti. Kalau menulis, kamu masih dengan huruf latin yang besar-besar. Jerawatmu yang terkadang memerah sampai tidak terlihat karena kulitmu yang terlalu hitam. Sepatu, tas, tempat pensil, jaket, semuanya hitam. Rambut tipismu, kepala petakmu. Aku kangen, rindu, mau lagi melihat semuanya yang ada di kamu setiap hari seperti sepasang anak SMP yang takut berdosa membohongi tulusnya cinta pertama; kita; aku dan kamu, B!.

Mungkin surat kaleng ini cukup membantu ku untuk menyampaikan banyak tentang mu. Dari bahagianya dulu, bagaimana rindu yang menggebu sekarang, sampai gengsi yang rajin sandaran di bahu kita masing-masing sambil berbisik agar kita terus diam begini. B! aku ingin coba menyapa, atau minimal sekedar senyum tapi ya itu, aku gengsi. Mungkin lebih tepatnya aku takut kalau kamu tidak meresponnya. Aku malu kalau matahari terik akan tau bahwa aku masih butuh kamu, kalau hujan akan tau bahwa aku rindu kamu, kalau malam akan tau bahwa aku lebih dari sekedar kepincut dengan mu.

Sudah ya, aku tidak tau harus mengetik apa lagi. Ideku habis. Aku hanya ingin menangis. Meringkuk di kasur. Menghabiskan waktu dikamar. Mencoret-coret kisi-kisi jendela dengan spidol warna ungu tentang perasaan ku. Menunggu hujan. Melakukan apa saja yang tidak terlalu berguna. Yang jelas-jelas tidak bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik untuk kita, B!

Terimakasih ya B! karena kamu pernah, sedang, dan akan terus membuat ku memendam rindu yang menggebu setiap kali aku melihat angka 13.

Rabu, 04 Mei 2011

Menunggu


Saya suka kesal dengan Bapak saya waktu membuat seseorang menunggu. Tidak jarang pengamen berdiri lama di depan kaca mobil sambil bernanyi entah apa, saya kurang jelas mendengarnya. Mereka memang awalnya bernanyi sambil tersenyum, siapa tau orang-orang di dalam mobil termasuk Bapak mau berbaik hati memberikan logam rupiah akibat keramahannya. Atau memasang muka melas, sering kali juga terlihat lebih ceria dalam kesederhanaannya dibandingkan mereka yang cukup berkecukupan. Ada yang memberi. Ada yang langsung melambaikan tangan. Ada juga yang seperti Bapak; menggantung alias membuat mereka menunggu. Bapak pasti tidak pernah menggubris mereka yang masih muda tapi sudah mengamen atau bahkan mengemis. Saya juga sangat mengerti bagaimana maksud Bapak agar mereka yang muda mau berusaha lebih kuat. Tapi ya tolong, jangan membuat mereka menunggu. Bapak, mereka dikejar waktu, bukan lagi berpatokan dengan bulan atau hari atau jam bahkan lebih sempit daripada menit. Mereka dikejar detik. Detik yang menyempit disetiap detiknya. Jika Bapak membuat mereka menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang entah kalau mereka sudah menunggu Bapak akan memberinya upah lelah atau Bapak langsung ambil gas ketika lampu hijau menyala. Itu benar-benar tidak adil rasanya. Mereka akan mendapat satu harapan yang mereka fikir dapat diwujudkannya. Dalam satu periode lampu merah, salah satu dari mereka hanya akan terfokus kepada Bapak. Karena apa? Bukan lain dia berfikir kalau Bapak akan berbaik hati kepadanya. Ah tap apa. Kalaupun saya dalam kondisi satu mobil dengan Bapak, biasanya saya langsung memberi recehan -uang logam- atau kalau memang sedang tidak ada yasudah terpaksa saya melambaikan tangan. Karena sedikit banyak saya tau, menunggu itu tidak enak.

Jangan-jangan semua ini karma. Bapak yang suka membuat orang lain menunggu, sekarang dibalaskan Tuhan untuk anaknya yaitu saya. Pantas saja saya suka dibuat menunggu sesuatu yang tidak pasti. Semacam digantung, oh bukan, lebih tepatnya saya menggantung diri saya sendiri dalam kondisi yang saya tau memang tidak pasti menguntungkan untuk diri saya.

Bapak, saya pernah menunggu, rasanya benar-benar meremukkan hati. Saya menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang tidak bisa dibayangkan. Ibaratkan saja saya menunggu hujan datang bebarengan dengan matahari. Saya mau menunggu karena saya tau hujan ditengah siang bermatahari pasti bisa datang. Walaupun saya tidak tau kapan. Namanya saja sebuah pengibaratan. Namun aslinya menunggu seseorang memang lebih berat. Lebih tidak jelas kapan datangnya. Lebih gengsi akankah membalas perhatian yang selama ini saya berikan untuknya ataukah membiarkan saja perhatian itu luntur. Yang jelas dia membuat saya seperti orang yang sanggup membeli waktu. Ya, cukup lama saya membuang banyak waktu untuk terfokus kepada satu orang yang membuat semuanya sia-sia.

Hampir sama ya saya dengan pengamen di traffic-light itu. Kami dibuat menunggu. Kamipun hampir sulit membedakan, mana yang sempat membuat kami menunggu dan manakah kondisi menunggu yang kami buat sendiri. Oh tetapi diantara kami ada bedanya. Kalau pengamen, paling tidak, ada saya yang membuat keputusan dengan memberi uang atau melambaikan tangan agar mereka tidak terlalu menunggu lama. Sedangkan saya? Tidak satu orangpun meyakinkan saya atas hal apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Iya, saya terlalu bodoh untuk menunggu.

Mungkin saya harus banyak belajar dengan pengamen di traffic-light. Tentang kesabaran menunggu. Tentang keseimbangan fokus yang mereka bagi secara adil. Tentang keceriaan. Tentang memaafkan bagi mereka yang tidak memberi mereka recehan. Tentang doa panjang yang orang bermobil beli dari mulut pengamen tidak lebih dari lima ratus rupiah. Juga tentang traffic-light.

Ya traffic-light. Pengamen, juga saya, ingin hidup berwarna seperti lampu lalu lintas itu. Tapi apa, tidak semudah itu. Untuk menggapai lampu berwarna indah itu saya harus dikejar detik yang berdentum jelas diatas saya dan saya harus melewati besi berkarat yang menyelimuti lampu warna-warni itu. Anggap saja sebagai refleksi dari hidup yang tidak akan pernah mudah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Ngomong-ngomong, kalau saya harus menunggu, saya tidak akan takut lagi. Karena saya tidak sendiri. Halo pengamen, sembari menunggu, nyanyikan untuk saya lagu-lagu ceria dan sesekali sendu!