Jumat, 01 April 2011

Ular Tangga


Kalau hidup berjalan naik terus, nanti yang sempat menemani kita 'dibawah' akan berteman dengan siapa?

Sekitar bulan lalu waktu saya sedang semangat semangatnya berangkat sekolah, pelajaran pun menjadi mudah, maunya pinjam cermin melulu, pakai semuanya serba sewarna. Matahari waktu itu belum se-abuabu sekarang, masih kuning cerah malah. Awan pun masih rajin dibonding tidak seperti sekarang yang rambutnya dia biarkan keriting berombak. Masih bisa duduk bersandar berdua di samping tralis untuk menikmati petrichor. Waktu itu saya bangga punya dia.

Enak sekali ya kalau membayangkan tentang hal yang indah-indah, terkadang bisa menjadi semangat hidup, bisa juga menjadi harapan belaka. Apapun itu saya mencoba maklum. Saya yang sempat merangkak teratur jauh ke atas tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa saya harus kembali kebawah, ke titik nol.

Seperti permainan ular tangga yang saya mainkan bersama Ruthana, Ayuning, dan Fenita. Disitu saya seringkali kalah, namun malah disitu sensasinya, saya bisa seru-seruan disana, saya bisa tertawa lepas ketika ada juga yang mau menemani saya kembali ke titik nol. Ada saja yang membuat saya harus turun kebawah, bisa posisi saya ditempati pemain lain, atau nasib buruk dadu yang membawa saya turun kebawah.

Di permainan ular tangga itu, saya bisa mengerti bahwa kehidupan tidak selalu naik. Terkadang butuh merosot santai, kalau merangkak naik terlalu serius nanti cepat lelah. Kalau masalah tentang turun lagi kebawah, mungkin posisi saya harus digantikan dengan orang lain yang bisa dibilang baru dan membuang saya untuk kembali lalu memulainya dari bawah lagi. Oh atau jangan-jangan nasib yang membawa saya kembali di titik nol ini? Apapun itu saya berharap agar ketika saya berada di titik nol ada orang lain juga disana untuk menemani saya, lalu dengan Pe-De nya saya akan tertawa terbahak-bahak sambil merangkak naik melewati tangga-tangga peruntungan.

Kalaupun setelah mencoba naik, saya akan turun kebawah lagi, saya terima, karena kalau hidup berjalan naik terus, nanti yang sempat menemani saya 'dibawah' tadi akan berteman dengan siapa? Sendirian dong? Makanya akan saya temani lagi, kalaupun dia belum menyelip untuk pergi.

Saya tidak akan takut untuk kembali dan terus kembali di titik nol karena saya akan kembali dan kembali untuk mencoba dengan usaha kuat dan sedikit peruntungan. Lagipula mengapa harus takut, saya kan tidak sendiri, ada ular yang senantiasa mengantar saya untuk turun dan memulainya dari bawah, tepat di titik nol.

Baiklah, seandainya hidup saya memang seperti ular tangga, yang hanya dipenuhi oleh ular yang lebih banyak daripada tangga, sudahlah cukup itu saja, tidak perlu ditambah hewan hewan lain lagi. Saya hanya ingin ditemani oleh orang yang setia ketika saya lelah naik-turun bukan seperti 'buaya' ataupun 'kelinci' yang playboy!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar