Selasa, 12 April 2011

Suryani

'Itu serius Pung, masih ada tulisan Suryani di kuku mu?'

Kata Pepen sahabatku disela kami belajar untuk mid semester geografi kemarin. Iya Pen, bahkan aku lebih dari serius, mungkin dua, tiga, atau entah berapa 'rius'.

Suryani

Sedikit jadul tapi lucu ya namanya. 10 huruf yang aku tulis dari kelingking kiri berjalan terus menuju kelingking kanan. Tulisan sebenarnya itu s-o-r-r-y y-a- - - . Biar lebih asik aku sebut Suryani saja.

Siapa juga sih Pen yang mau bahkan tega untuk menghapus kenangan-kenangan yang menyenangkan. Bukannya aku masih berharap. Oh tidak, jelas tidak. Bahkan terkadang aku mulai kesal melihat tingkahnya yang seolah memojokkan ku sebagai satu-satunya orang yang paling bersalah di hidupnya selama ini. Dia juga sukses sebagai business-man ups maksudku sukses membuat ku merasa kalau akulah yang paling bersalah dari masalah rumit ini. Kalau soal minta maaf duluan jangan khawatir. Sudah aku coba Pen, sudah. Aku terkadang sampai bosan. Dari kata maaf sederhana yang sering aku publikasikan melalui jejaring sosial sampai berbicara langsung empat mata dengannya bahkan sekarang aku mulai sedikit gila sampai harus menulis kata maaf untuknya di sepuluh kuku ku. Akupun bingung, karena segalanya semakin memburuk saja.

Ngomong-ngomong soal Suryani. Bukannya aku tidak punya aseton ataupun remover kutek untuk mengapusnya. Namun memang tidak ada niat sekaligus tidak tega untuk menghapusnya. Apa ya? Kamu mengerti kan Pen maksudku tentang kenangan? Buat aku Suryani bukan sekedar sebuah susuan huruf diatas ke sepuluh kuku ku yang membentuk kata maaf. Lebih dari itu. Suryani itu kenangan. Ibarat pesta, Suryani itu souvenirnya. Ibarat berlibur, suryani itu oleh-olehnya. Kenang-kenangan. Iya itu, Pen. Kalau aku menghapus Suryani sama saja aku menghapus semua kenangan kenangan ku bersamanya, dari yang bahagia, menyenangkan, lucu, sedih, sampai marahan seperti saat ini.

Aku masih belum mengerti, Pen, setelah ini aku harus berbuat apa. Mengemis maaf? Mungkin tidak. Aku tidak mau memaksa meminta sesuatu sampai berbelas kasihan seperti pengemis, apalagi untuk sebuah maaf. Yang penting aku sudah sempat berusaha. Kalau masalah hasilnya, biar Tuhan saja yang memutuskan. Semoga Tuhan cukup mengerti, kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak, jangan iya tidak seperti ini.

Oh iya, Pen. Karena aku sudah mulai bosan untuk meminta maaf dengan berbagai cara, aku harap kamu mau membantuku menghapus 7 huruf di 10 kuku ku. Jadi yang di hapus hanya s-o-r-r-y y-a nya itu saja ya, Pen. Tiga huruf terakhir yang juga merupakan nama panggilannya jangan dihapus, bantu aku mengelupasnya pelan pelan saja agar tidak rusak karena huruf huruf itu mau aku pindahkan, dari jari tengah, jari manis, dan kelingking kiri, kini mau aku pindahkan secara bersamaan, ke dalam hati. Mau aku simpan rapih disana, biar dia dapat sekali lagi berkunjung ke hati ku, mungkin untuk yang terakhir kali, hanya sekedar menengok tiga huruf bagian akhir dari namanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar