Sabtu, 30 April 2011

Surat Kaleng #12 untuk Kakak


Kakak, asal kau saja, berkali tuts backspace dan delete saya tekan. Karena saya benar-benar bingung. Saya tidak tau harus menulis apa tentang mu. Saya juga harus bolak-balik kamar mandi, menyapa cicak di malam panjang ini, jajaran gelas kopi yang tinggal bekasnya, teras belakang, bangku rotan, playlist di laptop, 414 teman saya si pesan pendek, hampir semuanya, sedikit demi sedikit memberi saya ide. Tapi apa Kakak? Lagi lagi tuts laptop saya kurang bersahabat. Jari-jari tangan saya terlalu kaku untuk menari di depan hidup mu yang cukup tertata rapih. Ini tengah malam, Kakak. Biasanya saya takut untuk sekedar duduk menaikkan kedua kaki di celah pagar teras belakang. Anehnya tidak tau kenapa, malam jelang pagi kali ini saya berani.

Mungkin karena ada cinta yang warnanya merah jambu jadi membuat suasana sedikit lebih terang.

Cukup tau, saya terlalu ngaco kalau sampai berbicara tentang jatuh cinta dengan mu. Ya ibarat saya tidak tidur namun dapat bermimpi. Karena untuk dapat masuk daftar kekasih mu, saya bukan lagi terlambat, tapi memang pendaftarannya sudah di tutup rapat, benar-benar tidak ada tiket masuk, bahkan 'calo' pun malas untuk menawarkan tiket tiket palsu. Kakak, sekiranya saya tidak pantas jatuh cinta dengan mu. Mana mungkin kau mau berkirim pesan pendek dengan saya yang nantinya akan saya simpan di tabungan spesial. Lalu berbasa basi menanyakan 'Udah makan?' 'Udah mandi?' 'Lagi apa?' Jelas tidak mungkin. Sedikit banyak saya sudah paham sifat mu, Kak. Dari bahasa tubuhmu, kau bukan tipe orang yang suka berbasa basi.

Lagi pula kita berdua sangat bertolak belakang. Saya yang malas mandi, Kakak yang sering berbesih diri. Saya akui, saya memang belum sedewasa mantan pacar Kakak yang menikah dengan Kakak sekarang.

Yah mau bagaimana lagi, lagi-lagi saya terlambat. Saya lahirnya terlambat. Sering saya berbisik di dalam hati agar waktu berputar kembali dan saya dilahirkan 29 tahun yang lalu tepat tanggal 30 Mei agar kita dapat merayakan hari bersejarah itu bersama, bisa bertukar kado, kau memberi saya camilan dan tenang saja saya akan memberi Kakak banyak rokok Malboro. Hihi. Lalu mungkin kita dapat bekerjasama membuat segala sesuatu di hidup kita membaik, ya dengan cara saling melengkapi. Ya cukup berbisik di dalam hati saja, takutnya kalau nanti saya berteriak, si Mutiara Hitam teman sebangku saya akan mendengarnya. Saya kan malu. Ah tapi sudahlah, Kakak. Saya takut bermimpi dalam keadaan terjaga.

Lebih baik, Kakak bantu saya berdoa dengan Tuhan. Walaupun kita beda keyakinan, percayalah, Tuhan kita satu dan saya harap hati kita dapat bersatu -ups. Doakan saya ya Kakak, agar saya mendapat pasangan hidup seperti Kakak. Bertanggung jawab, jujur, sopan, segalanya. Kalau masalah kekar dan tampan seperti Kakak, anggap saja bonus dari Tuhan. Karena buat saya yang terpenting adalah kepribadiannya.

Maaf ya Kak kalau saya sedikit ngelantur ceritanya. Anggap saja ini satu-satunya hiburan anak putih-abu yang belum siap menerima jam ke-0. Dan surat kaleng ini biar tetap menunggu disini, biar Kakak paling tidak ada alasan untuk pulang ke Indonesia dari berlayar panjang mu ke Amerika dan Eropa itu, yah untuk sekedar membuka laptop dan membaca ini bersama dengan si 'Mutiara Hitamku'.

Jangan lupa doakan saya ya Kakak.

Kakak kekar dari timur yang kini bekerja di barat, ajarkan banyak kepada saya tentang Bahasa Inggris juga tentang kerasnya hidup yang lebih keras daripada enam kotak di perut mu itu!

Take care, my other half.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar