Selasa, 12 April 2011

Surat Kaleng #10 untuk Tahi Semut


Halo pemilik tahi-semut -bukan tahi-lalat- di ujung bibir. Bagaimana kabar mu sekarang?

Sudah lama ya aku jarang membicarakan mu disini. Bahkan aku nyaris lupa untuk merindukan mu. Beberapa minggu lalu aku terlalu fokus pada sebuah kekalutan, pada sebuah perasaan bersalah yang menghantui ku, pada sebuah kesalahan yang aku buat dan aku sendiripun tidak tau letak salah ku dimana. Pada saat menulis ini pun, otakku terpecah, tidak seperti biasanya aku yang selalu fokus padamu, sekarang ada kamu ada dia juga. Dia yang membuat aku kalut belakangan ini.

Sudahlah abaikan saja rasa kalutku itu.

Ngomong-ngomong ini surat kaleng ke 10 untuk mu wahai pemilik tahi-semut. Aku harap kamu dapat menjadi angka satu untuk diriku yang hanya angka nol tidak berarti ini, maka suatu saat kita dapat bersatu dan membuat angka yang sempurna, satu dan nol, sepuluh.

Sebenarnya untuk pemilik tahi-semut, aku hanya bilang sedikit saja bahwa mulai besok aku akan mencoba untuk merindukan mu seperti dulu lagi agar perasaan kalut yang menghantuiku hilang secara perlahan. Sebenarnya juga surat ini bukan untuk pemilik tahi-semut namun untuk tahi-semut itu sendiri.

Hai tahi-semut kurang baik apa coba aku ini, kamu yang awalnya tahi-lalat kini aku sebut tahi-semut. Yah mau bagaimana lagi, pemilikmu terlalu manis kalau hanya untuk menjadi jamban lalat.

Enak tidak berada di ujung hidungnya? Kamu pasti sering ya menikmati deru nafasnya. Pantas saja dia tidak pernah luput berbicara tentang kamu, kamu kan ada di dekat ujung bibirnya. Pasti empuk sekali ada di pipi chubby nya. Kamu juga hampir dekat dengan telinganya, tidak heran kamu hafal sekali daftar lagu-lagu favoritnya yang sering kali menggema ketika dia memasukkan headset tepat di kedua telinganya. Eh sebentar lagi dia punya kumis, ah pasti tahi-semut itu semakin gembira, bisa diselimuti kumisnya setiap waktu.

Tahi-semut, enak tidak sih rasanya di perhatikan? Lalu di jaga agar kamu tidak pecah, di perhatikan agar kamu tidak sakit, di rawat agar kamu ada untuk dia seumur hidupnya, diterima apa adanya walaupun bentuk tahi-semut bulat gemuk hitamm, dia ikut merasakan perih ketika kamu juga perih. Ceritakan kepadaku, enak tidak sih? Pasti enak kan ya, tahi-semut.

Aku cemburu. Tau tidak, aku cemburu.

Aku juga ingin ada disana. Aku janji tidak akan sepasif tahi semut. Aku akan bernyanyi bersama dengannya untuk sebuah daftar lagu favoritnya yang tidak aku mengerti sama sekali alirannya, lewat bibirnya yang bergerak perlahan aku akan mendengarkan cerita hidupnya, aku akan membantu mengumpulkan oksigen untuk aku salurkan masuk ke dalam hidungnya, aku rela menjadi office-girl mungkin cleaning service yang membawa tissu bahkan lap untuk sesegera mungkin mengeringkan airmata yang meleleh di pipinya, lewat kumisnya aku akan titip salam untuk pemilik tahi-semut. Itupun kalau aku benar-benar bisa menjadi tahi-semut yang dia jaga setengah mati.

Ah tapi sudahlah. Aku memang tidak bisa menjadi tahi-semut di ujung bibir mu yang selalu kamu manjakan. Namun aku akan segera berkunjung kesana, ke ujung bibirmu, ketika panas maka aku akan meleleh dan menetes di bibirmu lalu ketika dingin aku akan membeku disana, tepat di atas bibirmu. Memang bukan sebagai tahi-semut, namun sebagai gula-gula yang membuat hidupmu semakin manis. Walaupun resikonya aku harus mau merasakan manis yang semakin linu membuat pilu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar