Sabtu, 30 April 2011

Rabu


Ada yang special di hari Rabu. Bukan tentang ditambah telor atau yang lainnya. Hanya karena hari Rabu menyimpan cukup banyak kenangan. Jujur, saya hanya sedang takut untuk jujur kepada diri saya sendiri tentang kenangan-kenangan apa saja yang berhasil diukir oleh hari Rabu. Saya takut kalau suatu saat nanti saya akan terlalu menyembah atau bahkan sebaliknya, saya akan terlalu mengutuknya. Saya ingin adil, menganggap semuanya sama. Begitu juga dengan hari Rabu, saya mau tetap biasa saja. Tidak hari Rabu, tidak hari-hari efektif lainnya, tidak hari Sabtu atau hari Minggu sekalipun, saya tidak ingin terlalu bersemangat bahkan juga terlalu tidak antusias untuk menyambutnya. Sudah saya bilang, saya ingin biasa saja.

Ya, dari ulang tahun saya yang ke-16 tahun lalu jatuh di hari Rabu. Paparons Pizza setiap hari Rabu ada penawaran menarik, buy 1 get 1 free. Di hari Rabu juga ada pelajaran akuntansi yang notabene adalah pelajaran favorit saya. Selain itu, proses melupakan mu selalu gagal di setiap hari Rabu, tidak tau kenapa rindu saya selalu menggebu di hari itu. Saya ingat sekali waktu itu kita sempat bercanda banyak di hari Rabu, entah hari Rabu yang keberapa dari sekitar 52 hari Rabu yang ada di tahun ini. Yang saya ingat waktu itu kamu mau berkencan dengan saya, saya ingin memakai gaun dan kamu ingin memakai jas, yah tidak sedatar itu, kamu bilang kita akan pergi ke Pisa dengan gaun compang-camping saya dan jas mu yang bukan lain adalah jas hujan. Hahaha. Kamu menambahkan juga, kalau perempuanhujan harus mau berkencan dengan pria yang jasnya adalah jas hujan. Mungkin jika kamu hanya membaca potongan cerita ini, tidak akan ada lucunya, cobalah pejamkan mata lalu kamu ingat-ingat, betapa renyahnya tawa mu dan tawa saya waktu Rabu itu. Ah iya, pertama kalinya kamu bilang saya, ehem, manis, yaitu tepat hari Rabu, waktu itu pertama kalinya saya dikepang. Hey ingat tidak, di hari Rabu pagi kamu pernah meminta saya untuk menyukai -like- status relationship mu di facebook yang saat itu menjadi single. Iya saya bahagia sekali waktu itu, oh iya yang saya bicarakan tadi adalah 'waktu itu' kalau status relationship mu yang sekarang saya memang kurang tau, jangan bilang siapa-siapa saya hanya takut kecewa jika mengetahuinya. Dan, hari Rabu ternyata tidak berjalan mulus begitu saja belakangan ini. Justru kita marahan dua kali juga di hari Rabu. Saya meminta maaf dengan mu dari mulai postingan sederhana di jejaring sosial, menulis 'Suryani' di kuku, bahkan sampai berbicara langsung empat mata dengan mu juga di hari Rabu.

Hari Rabu kurang lebih seperti perasaan saya untukmu. Terkadang saya berani untuk mengakuinya, saya pamerkan kepada siapapun, saya bergombal tidak jelas dengan mu. Terkadang juga saya harus jatuh, benar-benar terpungkur di pojok paling bawah, dimana saya benar-benar 'down', dimana saya ingin semuanya lekas membaik, ingin berbincang dan bercanda panjang dengan mu, menyisihkan atau bahkan memberikan pertama kali jamur tepung yang saya buat di pagi subuh spesial untuk mu. Apapun itu baru saya sadari, di hari Rabu juga saya mendapat kekuatan seorang gadis, eum maksud saya kekuatan seorang wanita. Saya berani untuk mengakui kesalahan saya, berani bermimpi banyak, berani untuk kecewa, berani meminta maaf tanpa berharap sedikitpun untuk dimaafkan karena saya paham betul seberapa jauh perkataan saya sempat menukik tajam di hatimu.

Ya begitulah, paling tidak saya ingin mengucapkan terimakasih untuk hari Rabu. Dan semoga, cukup hari Rabu dan kamu saja yang pernah membuat saya tidak karuan seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar