Kamis, 21 April 2011

Lebaran


Saya ingin buru-buru Lebaran -hari raya umat Islam. Tidak seperti sebelumnya, saya yang kurang antusias menyambut Lebaran. Mulai dari banyak godaan ketika berpuasa. Harus jalan jauh untuk Shalat Tarawih ke masjid. Bangun pagi-pagi. Terpaku di depan radio menunggu Adzan Maghrib. Jujur, seumur hidup saya belum pernah ikut warga sekitar untuk keliling membawa obor pada malam hari raya itu. Lagi-lagi karena saya kurang antusias dalam penyambutan Lebaran. Lalu, paginya saya harus melihat seluruh keluarga menangis terisak, untuk bermaaf-maafan. Saya jenuh dengan bagian itu karena saya paling tidak bisa melihat mereka menangis, terharu sekalipun.

Justru belakangan ini saya ingin cepat-cepat ke Lebaran. Sepertinya saya sudah cukup siap untuk bangun pagi-pagi, puasa satu hari penuh, terpaku di depan radio tua, berjalan jauh ke masjid, bahkan mungkin saya rela kalaupun harus berjalan beriringan di tengah anak-anak kecil yang membawa obor. Ya, asal Lebaran cepat datang. Bukan opor ayam atau sambal goreng, bahkan juga bukan ketupat apalagi sirup dan kue kue khasnya. Karena saya ingin momen maaf-maafan itu segera tiba. Untuk keluarga jelas yang utama. Tetangga sekitar, saudara-saudara jauh, terkadang saya masih sering diberi dan terkadang saya harus kembali memberi uang Lebaran untuk mereka yang masih kecil.

Saya sangat menunggu momen Lebaran itu. Dimana saya dapat memaafkan juga dimaafkan. Sebenarnya bermaaf-maafan tidak harus pada waktu Lebaran saja, semuanya berdasarkan niat dari dalam diri masing-masing, namun untuk mereka yang Gengsinya Melebihi Perut, saya tidak dapat berpendapat sepenuhnya. Bukannya saya berharap untuk menerima puluhan pesan pendek dari teman-teman untuk menyebarkan pesan pendek itu ke 10 orang dengan berbagai ancaman yang cukup menggelikan. Ataupun emoticon pesan pendek dengan gaya khas Lebaran yang entah siapa berwaktu luang sangat luang sehingga dapat menciptakannya. Tidak, saya tidak butuh itu semua. Saya ingin sekedar berjabat tangan, berbicara sekedarnya, tidak perlu seakrab dulu, menyampaikan sebuah maaf.

Kalau memaafkan, saya sudah memaafkan mu, jauh sebelum kau berbuat kesalahan. Bahkan saya sering menganggap mu tidak ada ketika saya sudah penat dengan ocehan murahan mu itu. Kalau kau mau tau, sebagaimanapun lebamnya hati seorang wanita, paling tidak didalam sana masih ada satu petak yang berwarna merah jambu untuk seseorang spesial, yang tidak ikut lebam membiru nyaris ungu. Percayalah, kau masih tersimpan di petakan merah jambu itu, di dalam hati saya yang paling dalam. Di petakan merah jambu itu ada banyak beribu maaf, beribu maaf yang tidak akan pernah habis walau setiap saatnya harus saya jadikan kado spesial untukmu yang tidak akan mungkin pernah kau sadari. Yakinlah, aku memaafkanmu.

Lalu bagaimana dengan mu? Apakah juga memaafkan ku? Apakah juga ingin berjabat tangan dengan ku? Saya pikir, hati mu belum selebam hatiku. Saya berharap, Lebaran adalah saat yang tepat untuk memaafkan dan dimaafkan, terutama bagi mu, mungkin juga untuk saya, ya untuk kita yang sama-sama gengsi. Kalau ada yang bilang saya menunggu lebaran karena ada sebuah maksud tertentu; ba(L)ikan dengan mu. Ya terserah apa kata mereka saja. Bukannya lebih baik ada udang dibalik batu, paling tidak dibalik sesuatu yang keras tersimpan satu hal yang lembut dan mengasyikan. Daripada di balik batu tidak terdapat apa-apa. Saya hanya belum cukup kuat untuk melalui hidup yang monoton dengan kerasnya.

Semoga saja kau mau belajar dari ilmu 'Uang Lebaran', seperti maaf, saat kau dimaafkan, bukan berarti kau sudah cukup dalam segala hal, namun adakalanya kau harus berbagi, bukan uang, kau cukup berbagi maaf. Maaf adalah perputaran tajam tanpa poros, kadang kau menerima, bukannya lebih baik banyak memberi (maaf)?

Saya harap, Lebaran besok adalah momen bermaaf-maafan kita yang kedua kalinya, karena saya ingin yang pertama segera datang secepatnya agar seluruh hati saya menjadi merah jambu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar