Jumat, 01 April 2011

Gengsi Melebihi Perut


Maaf ya Dewik, terpaksa aku tolak saran mu siang lalu tentang sebuah cara agar aku dan dia bisa kembali seperti dulu lagi; ba(L)ikan. Aku tau sekali mungkin kamu cukup bosan melihat tingkah ku yang uring-uringan seperti ini terus, Wik. Bahkan aku menghargai sekali saran mu. Namun sepertinya kurang tepat jika dikondisikan dengan aku dan dia yang sekarang.

Hum...mungkin kalau sebuah maaf bisa dibeli dengan seporsi mi goreng, aku akan segera memasaknya khusus untuk dia, ditambah bombai, pedas, ditambah udang, apapun yang dia mau. Tapi, asal kamu tau saja, Wik, gengsinya melebihi tinggi perutnya yang lapar.

Benar-benar tidak terbesit dibenak ku, ketika aku membawa seporsi mi goreng, dia akan datang kepadaku untuk sekedar bilang 'Minta ya?' lalu aku memberinya lalu kami duduk berdua sambil berebut mi goreng lalu suasana menjadi se-seru pertama kali dulu lalu kalau terlalu pedas maka kami akan berpindah duduk di bangku bawah kipas angin lalu melanjutkan obrolan sambil mendengarkan musik bersama lalu... aku dibangunkan seseorang yang menemukan aku sedang tertidur diatas meja, seorang diri.

Ya itu dia, yang terburuk dari dia, mungkin aku juga, yaitu gengsi. Buktinya kami sama-sama tidak mau memulai sebuah percakapan duluan, saling menunggu, saling menjaga-image, yang jelas kami sama-sama gengsi. Mungkin dia terlanjur marah dan tidak mau memaafkan ku, aku maklumi itu.

Sakit ya Wik, sakit sekali rasanya. Kalau aku boleh sedikit cerita, beberapa bulan sebelum aku dan dia marahan, aku sudah ada perasaan tidak enak kalau semester ini, mungkin satu tahun ini, kami akan marahan (lagi). Padahal sebelumnya aku sudah menjaga moodnya sebaik mungkin, aku mencoba untuk tidak marah sekalipun dia sempat menyakiti hatiku dari bercandaan yang entah dia sengaja atau tidak, aku juga mulai sering untuk membawa permen setiap hari agar dia tidak perlu kerepotan kalaupun sedang suntuk menerima pelajaran. Aku melakukan semua itu untuk sekedar meyakinkan perasaan burukku selama ini tidak mungkin terjadi. Namun buktinya ya sekarang ini, Wik. Oh iya, dia itu aneh, kalau dia marah begini aku mencoba meredamnya agar tidak marah lagi, namun ketika aku marah bukannya dia mencoba meredamku justru dia berbalik marah dengan ku, makanya aku coba agar aku tidak akan pernah mengulangi sebuah kesalahan yang sama lagi.

Terimakasih ya, Wik, untuk saran mu. Mungkin lain kali aku sarankan untuk mu, bagaimana kalau kamu saja yang membawa mi gorengnya, Wik? Biarlah dia tidak kelaparan ketika menerima pelajaran dan bisa konsentrasi. Kalau tentang masalah ku dan dia, tentang maaf-maafannya ditunda dulu saja. Biar aku mencoba berfikir dalam diam, apa cara yang tepat agar aku bisa ba(L)ikan dengannya lagi, tanpa campur tangan dari siapapun, cukup hati dan logika ku saja yang bekerja, karena masalah ini bukan sembarang masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar