Jumat, 01 April 2011

Dicubit Harapan


Siang itu aku sedang suntuk suntuknya, tiba-tiba Bima, teman sekelasku, menceletuk kalau mending dicubit seminggu bisa sembuh daripada sakit hati dibawa sampai mati. Motifnya apa sehingga bisa berbicara seperti itu, aku tidak tau. Karena aku juga tidak tau mendalam tentang dia. Setau ku, cuma remaja putih-abu yang cerewet, doyan bercanda, slengekan, dan paling tidak bisa melihat wanita menangis, ehem. Ah bisa saja si Bima itu. Mau mid-semester begini malah mengajak galau.

Ngomong ngomong tentang dicubit, aku juga sedang dicubit. Dicubit harapan.

Bukannya kebalik ya? Harusnya kan aku yang mencubit Harapan, biar Harapan cepat bangun dari tidurnya dan cepat sadar. Belakangan ini Harapan kalau bangun suka kesiangan, tidurnya larut malam sih. Aku tau kok, Harapan, siapa juga sih yang bisa tidur kalau dihantui perasaan bersalah, kalau setiap malam harus bersembunyi dibawah bantal cuma untuk menangis, kalau semut semut brengsek yang sedang mencuri teh dan biskuit di atas meja belajar menjulurkan lidah puas -mengejek- atas kesedihan mu, nyamuk pun sampai memilih lebih baik menyerahkan diri di rumah laba-laba ujung kamar daripada di pukul oleh mu yang sedang labil dan nyamuk akan mati sia-sia. Maaf ya Harapan, aku jarang membangunkan mu di setiap pagi. Aku lihat kamu lelah sekali. Jangankan pagi buta, siang bolong pun terkadang aku masih melihat mata mu memerah, hidung mu sesenggukkan, rambut mu berantakan, tali tank-top dan beha mu acak-acakkan, celana polos di atas lutut berubah menjadi rok mini karena robek di tengah. Kamu kenapa sih Harapan? Apa mau menunggu semut semut brengsek mencuri habis teh mu yang semalam? Atau mau memastikan kalau nyamuk mati secara lebih terhormat di rumah laba-laba sana daripada di antara kedua telapak tangan mu? Ah Harapan, kamu sama seperti Bima, tidak jelas apa motif dari semua ini. Aku masih bingung.

Eh Harapan, kalau kamu galau begini terus mau aku cubit saja ah biar kamu sadar dan tidak mengganggu konsentrasi ku waktu mid-semester. Ya jelas lah, kamu kan peliharaan ku, aku sudah susah susah merawat mu agar tumbuh sehat, agar tidak sakit, agar tidak rapuh ditengah jalan, agar Harapan bernyawa dan tidak kosong lagi. Kalau Harapan galau begini terus, aku juga yang rugi. Sudah korban tenaga, fikiran, dan perasaan.

Jujur ya Harapan. Aku mau kamu kembali seperti beberapa waktu lalu, waktu kamu dapat seimbang antara logika dan perasaan, waktu kamu dapat membagi waktu antara otak dan hati, waktu kamu dapat membedakan antara masa lalu dan masa depan. Juga waktu kamu terjaga larut bukan untuk menangis namun untuk berkirim pesan pendek yang tabungannya masih kamu simpan, atau waktu wajah mu kamu tutupi bantal bukan karena malu akibat airmata namun malu kalau ketauan Ibu pipimu memerah; jatuh cinta. Oh iya waktu itu kamu kan sedang jatuh cinta ya, aku hampir lupa, resiko jatuh cinta ya patah hati. Berarti sekarang Harapan sedang patah hati? Ah dasar Harapan, kalau tidur nyenyak tidak bisa tapi kalau bermimpi giat sekali rasanya, aku cubit saja ya biar cepat sadar dan terbangun.

Aw sakit!

Kok jadi aku yang dicubit Harapan sih? Jangan-jangan... Oh benar, aku jauh ketinggalan di masa lalu sedangkan Harapan yang aku gosipkan daritadi justru sudah dapat beranjak dari kekalutannya. Harapan, sering sering saja ya cubit aku, aku takut tidak tidur namun bisa bermimpi, aneh memang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar