Jumat, 01 April 2011

Cangkir


Ibu sudah tau kalau saya sedang capek dan suntuk pasti dibuatkannya teh celup sedang -tidak dingin tidak panas- di cangkir. Siapapun tau cangkir. Itu lho gelas namun terbuat dari plastik. Bahkan saya hampir tidak pernah menggunakan gelas kaca untuk minum sehari-hari. Lagi-lagi saya harus kepincut dengan 'benda mati'; cangkir.

Cangkir favorit saya warnanya putih tulang, cukup besar, bagian pegangannya tebal dan kuat, pokoknya pas sekali lah kalau dipakai untuk menghabiskan waktu bersama hujan.

Cangkir kesayangan saya selalu ada disaat saya bahagia, waktu saya dan kamu sedang berkirim pesan pun saya ditemani cangkir itu. Juga waktu saya merindukanmu, seluet wajahmu terbentuk jelas pada bayangan air di dalam cangkir itu. Cangkir tetap tidak bosan untuk bersama saya sekalipun saya harus menggantikan teh dengan airmata untuk memenuhinya.

Cangkir hebat ya. Bisa unik seperti itu. Bisa memkomposisikan apapun sesuai porsinya, dapat menyimpan aroma teh yang sudah lewat sekalipun, cangkir menyimpannya dalam diam biar siapapun yang mencucinya tidak tau bahwa disana, didalam cangkir yang paling dalam, cangkir menyimpan teh sebagai masa lalunya melalui aroma. Cangkir itu juga kuat, lebih kuat daripada saya yang sok kuat. Mau dijatuhkan beberapa kali pun cangkir tidak akan rapuh apalagi pecah, kecuali kalau memang cangkir diinjak-injak, lagipula siapa juga sih yang tidak akan rapuh kalau ada orang yang sudah keterlaluan seperti itu.

Mungkin suatu saat cangkir akan membantu saya. Membantu saya untuk menyelesaikan setiap masalah. Membantu saya untuk memulai sebuah percakapan dengan mu. Membantu hati saya agar tidak mudah pecah, eum maksudnya patah. Mengajarkan kepada saya bagaimana cara menyimpan masa lalu dalam diam melalui apapun yang menjadi ciri khas mu, bisa aroma parfume mu, bisa senyum mu, bisa mata sipit mu, bisa jerawat-jerawat mu yang membuat kamu semakin...ah sudahlah.

Saya jatuh cinta dengan cangkir. Iya, saya jatuh cinta dengan benda mati. Tapi bukannya lebih baik jatuh cinta dengan benda mati yang hatinya hidup daripada jatuh cinta dengan benda hidup yang hatinya mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar