Sabtu, 30 April 2011

Surat Kaleng #12 untuk Kakak


Kakak, asal kau saja, berkali tuts backspace dan delete saya tekan. Karena saya benar-benar bingung. Saya tidak tau harus menulis apa tentang mu. Saya juga harus bolak-balik kamar mandi, menyapa cicak di malam panjang ini, jajaran gelas kopi yang tinggal bekasnya, teras belakang, bangku rotan, playlist di laptop, 414 teman saya si pesan pendek, hampir semuanya, sedikit demi sedikit memberi saya ide. Tapi apa Kakak? Lagi lagi tuts laptop saya kurang bersahabat. Jari-jari tangan saya terlalu kaku untuk menari di depan hidup mu yang cukup tertata rapih. Ini tengah malam, Kakak. Biasanya saya takut untuk sekedar duduk menaikkan kedua kaki di celah pagar teras belakang. Anehnya tidak tau kenapa, malam jelang pagi kali ini saya berani.

Mungkin karena ada cinta yang warnanya merah jambu jadi membuat suasana sedikit lebih terang.

Cukup tau, saya terlalu ngaco kalau sampai berbicara tentang jatuh cinta dengan mu. Ya ibarat saya tidak tidur namun dapat bermimpi. Karena untuk dapat masuk daftar kekasih mu, saya bukan lagi terlambat, tapi memang pendaftarannya sudah di tutup rapat, benar-benar tidak ada tiket masuk, bahkan 'calo' pun malas untuk menawarkan tiket tiket palsu. Kakak, sekiranya saya tidak pantas jatuh cinta dengan mu. Mana mungkin kau mau berkirim pesan pendek dengan saya yang nantinya akan saya simpan di tabungan spesial. Lalu berbasa basi menanyakan 'Udah makan?' 'Udah mandi?' 'Lagi apa?' Jelas tidak mungkin. Sedikit banyak saya sudah paham sifat mu, Kak. Dari bahasa tubuhmu, kau bukan tipe orang yang suka berbasa basi.

Lagi pula kita berdua sangat bertolak belakang. Saya yang malas mandi, Kakak yang sering berbesih diri. Saya akui, saya memang belum sedewasa mantan pacar Kakak yang menikah dengan Kakak sekarang.

Yah mau bagaimana lagi, lagi-lagi saya terlambat. Saya lahirnya terlambat. Sering saya berbisik di dalam hati agar waktu berputar kembali dan saya dilahirkan 29 tahun yang lalu tepat tanggal 30 Mei agar kita dapat merayakan hari bersejarah itu bersama, bisa bertukar kado, kau memberi saya camilan dan tenang saja saya akan memberi Kakak banyak rokok Malboro. Hihi. Lalu mungkin kita dapat bekerjasama membuat segala sesuatu di hidup kita membaik, ya dengan cara saling melengkapi. Ya cukup berbisik di dalam hati saja, takutnya kalau nanti saya berteriak, si Mutiara Hitam teman sebangku saya akan mendengarnya. Saya kan malu. Ah tapi sudahlah, Kakak. Saya takut bermimpi dalam keadaan terjaga.

Lebih baik, Kakak bantu saya berdoa dengan Tuhan. Walaupun kita beda keyakinan, percayalah, Tuhan kita satu dan saya harap hati kita dapat bersatu -ups. Doakan saya ya Kakak, agar saya mendapat pasangan hidup seperti Kakak. Bertanggung jawab, jujur, sopan, segalanya. Kalau masalah kekar dan tampan seperti Kakak, anggap saja bonus dari Tuhan. Karena buat saya yang terpenting adalah kepribadiannya.

Maaf ya Kak kalau saya sedikit ngelantur ceritanya. Anggap saja ini satu-satunya hiburan anak putih-abu yang belum siap menerima jam ke-0. Dan surat kaleng ini biar tetap menunggu disini, biar Kakak paling tidak ada alasan untuk pulang ke Indonesia dari berlayar panjang mu ke Amerika dan Eropa itu, yah untuk sekedar membuka laptop dan membaca ini bersama dengan si 'Mutiara Hitamku'.

Jangan lupa doakan saya ya Kakak.

Kakak kekar dari timur yang kini bekerja di barat, ajarkan banyak kepada saya tentang Bahasa Inggris juga tentang kerasnya hidup yang lebih keras daripada enam kotak di perut mu itu!

Take care, my other half.

Surat Kaleng #11 untuk Sepatu Converse


Selamat senja, wahai pria pemaaf nan bertanggungjawab bersepatu converse, apa kabar?

Wah sepatu converse, aku ingin memiliki mu. Kamu yang sekarang ada di kolong tempat tidur ku sudah lusuh sekali. Maaf ya, aku suka ceroboh dalam mengenakan mu. Lumpur, batu tajam, rumput, genangan hujan, sampah, kotoran, apapun itu, aku sering tidak sengaja menyuguhkan mu dengan hal-hal seperti itu. Pantas kamu suka ngambek. Suka bersembunyi jika aku cari. Suka bercanda garing padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Suka malas kering jika ku cuci. Jahitan mu suka lepas. Sepertinya kamu memang malas untuk ku kenakan.

Sepatu converse hitam milik ku, begini ya, mau tidak aku carikan pacar untukmu? Yah, pacar! Agar kamu dapat sedikit terhibur daripada ngambek melulu dengan ku. Aku sudah punya sepasang sepatu converse lain untuk menjadi pacarmu. Dia itu warnanya ada merah, ada hitam, ada putihnya juga walaupun sedikit, paling tidak dia bisa membuat hidup mu yang awalnya monoton hitam, bisa sedikit berwarna. Kamu itu kan perkat, sedangkan dia itu bertali, cocok sekali deh rasanya, bisa saling melengkapi, kamu bisa merekatkan kebahagiaanmu untuknya dengan perkatmu dan sebaliknya dia juga bisa mengikat dirimu dengan cintanya melalui tali itu. Walaupun ukuran mu sedikit lebar dan panjang daripada dia, tapi menurutku tidak masalah, kalau sudah cinta fisik pun akan kalah.

Sepatu converse hitam ku, nanti kalau sudah jadian beri tau aku ya. Soalnya aku mau meminta tolong kepadamu. Begini, ketika nanti kamu berkencan dirumah pacarmu, tolong mengendap-endaplah lalu mengintip apa yang biasa di lakukan pemilik pacarmu selepas senja, juga ketika hujan, ketika petrichor memaksa masuk ke kamarnya, ketika pemiliknya lapar dan butuh sekali jamur tepung buatan saya. Kalaupun perlu, saya mau titip salam untuknya. Salam maaf lebih tepatnya. Bilangkan kepada pacarmu juga, kalau saya ingin berpacaran dengan pemiliknya. Hey, nanti kan kita bisa double-date. Sepatu converse dengan sepatu converse dan pemiliknya dengan pemiliknya. Iya kan? Jangan lupa ya sepatu converse!

Rabu


Ada yang special di hari Rabu. Bukan tentang ditambah telor atau yang lainnya. Hanya karena hari Rabu menyimpan cukup banyak kenangan. Jujur, saya hanya sedang takut untuk jujur kepada diri saya sendiri tentang kenangan-kenangan apa saja yang berhasil diukir oleh hari Rabu. Saya takut kalau suatu saat nanti saya akan terlalu menyembah atau bahkan sebaliknya, saya akan terlalu mengutuknya. Saya ingin adil, menganggap semuanya sama. Begitu juga dengan hari Rabu, saya mau tetap biasa saja. Tidak hari Rabu, tidak hari-hari efektif lainnya, tidak hari Sabtu atau hari Minggu sekalipun, saya tidak ingin terlalu bersemangat bahkan juga terlalu tidak antusias untuk menyambutnya. Sudah saya bilang, saya ingin biasa saja.

Ya, dari ulang tahun saya yang ke-16 tahun lalu jatuh di hari Rabu. Paparons Pizza setiap hari Rabu ada penawaran menarik, buy 1 get 1 free. Di hari Rabu juga ada pelajaran akuntansi yang notabene adalah pelajaran favorit saya. Selain itu, proses melupakan mu selalu gagal di setiap hari Rabu, tidak tau kenapa rindu saya selalu menggebu di hari itu. Saya ingat sekali waktu itu kita sempat bercanda banyak di hari Rabu, entah hari Rabu yang keberapa dari sekitar 52 hari Rabu yang ada di tahun ini. Yang saya ingat waktu itu kamu mau berkencan dengan saya, saya ingin memakai gaun dan kamu ingin memakai jas, yah tidak sedatar itu, kamu bilang kita akan pergi ke Pisa dengan gaun compang-camping saya dan jas mu yang bukan lain adalah jas hujan. Hahaha. Kamu menambahkan juga, kalau perempuanhujan harus mau berkencan dengan pria yang jasnya adalah jas hujan. Mungkin jika kamu hanya membaca potongan cerita ini, tidak akan ada lucunya, cobalah pejamkan mata lalu kamu ingat-ingat, betapa renyahnya tawa mu dan tawa saya waktu Rabu itu. Ah iya, pertama kalinya kamu bilang saya, ehem, manis, yaitu tepat hari Rabu, waktu itu pertama kalinya saya dikepang. Hey ingat tidak, di hari Rabu pagi kamu pernah meminta saya untuk menyukai -like- status relationship mu di facebook yang saat itu menjadi single. Iya saya bahagia sekali waktu itu, oh iya yang saya bicarakan tadi adalah 'waktu itu' kalau status relationship mu yang sekarang saya memang kurang tau, jangan bilang siapa-siapa saya hanya takut kecewa jika mengetahuinya. Dan, hari Rabu ternyata tidak berjalan mulus begitu saja belakangan ini. Justru kita marahan dua kali juga di hari Rabu. Saya meminta maaf dengan mu dari mulai postingan sederhana di jejaring sosial, menulis 'Suryani' di kuku, bahkan sampai berbicara langsung empat mata dengan mu juga di hari Rabu.

Hari Rabu kurang lebih seperti perasaan saya untukmu. Terkadang saya berani untuk mengakuinya, saya pamerkan kepada siapapun, saya bergombal tidak jelas dengan mu. Terkadang juga saya harus jatuh, benar-benar terpungkur di pojok paling bawah, dimana saya benar-benar 'down', dimana saya ingin semuanya lekas membaik, ingin berbincang dan bercanda panjang dengan mu, menyisihkan atau bahkan memberikan pertama kali jamur tepung yang saya buat di pagi subuh spesial untuk mu. Apapun itu baru saya sadari, di hari Rabu juga saya mendapat kekuatan seorang gadis, eum maksud saya kekuatan seorang wanita. Saya berani untuk mengakui kesalahan saya, berani bermimpi banyak, berani untuk kecewa, berani meminta maaf tanpa berharap sedikitpun untuk dimaafkan karena saya paham betul seberapa jauh perkataan saya sempat menukik tajam di hatimu.

Ya begitulah, paling tidak saya ingin mengucapkan terimakasih untuk hari Rabu. Dan semoga, cukup hari Rabu dan kamu saja yang pernah membuat saya tidak karuan seperti ini.

Paranormal


Ternyata 'beliau' belum cukup hebat untuk menemukan hati yang hilang.

Kata guru Agama Islam saya waktu hari Kamis, 28 April 2011 lalu, beliau menyarankan jika kehilangan sesuatu (semacam hp,dompet,dll) jangan sesekali menanyakan atau meminta pertolongan kepada paranormal dengan bertujuan barang-barang tersebut cepat ditemukan. Ya saya setuju, saya pikir juga begitu. Bukannya lebih baik dicari terlebih dahulu, siapa tau terselip, atau terbawa orang lain, atau sengaja ada yang mencurinya, atau apapun itu. Jika memang belum ditemukan juga barang yang dicari tadi cobalah berdoa dan tawakal, kalau memang barang itu sudah menjadi rejeki kita maka akan kembali kok, kalau tidak yasudah ikhlaskan. Bolehlah sesekali belajar dari ilmu sakit perut; mengikhlaskan 'sesuatu' yang hanya membuat mengganjal dan sakit. Ah sudahlah.

Tapi, saya ingin pergi ke paranormal.

Saya kehilangan sesuatu. Sudah saya cari, serius. Saya keluarkan semua pakaian dari dalam almari, semua buku-buku di meja belajar, saya lepaskan semua bando dan ikat rambut dari rak gantungnya, saya buat celah celah lebar antara peralatan make-up dan kutek kutek saya, kamar saya juga sudah saya periksa secara detail siapa tau terselip di sana. Tetap juga tidak ada. Kalaupun ada yang tidak sengaja membawanya pergi dari saya, lalu siapa? Apa mungkin ada orang yang tidak sengaja membawa pergi menjauh sesuatu milik saya tadi? Nah jika masalah ada orang yang sengaja mencurinya, saya tidak tau juga, mungkin memang ada yang sengaja mencurinya dari saya. Wah kalau sudah begini saya harus berdoa dan menyerahkan semuanya kembali kepada Allah -bertawakal. Ya memang sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan.

Hey, bagaimana dengan rencana awal saya untuk pergi ke paranormal? Saya tidak perlu persetujuan siapapun juga, saya akan tetap mencari paranormal. Karena saya tidak bisa hidup lebih lama jika ada salah satu organ tubuh saya yang hilang; hati. Bukan hanya petakan-petakan kecilnya saja yang hilang, keseluruhan hati saya juga ikut hilang. Siapa tau paranormal sungguh tau dimana hati saya sedang berada. Mungkin jauh disana hati saya sedang flu, sedang diet, sedang rajin olahraga, sedang malas memetik gitar, sedang addict dengan laptopnya, sedang kentut akibat sakit perut karena bergelas teh pekat hambar dihabiskannya. Apapun itu saya hanya ingin tau keberadaan hati saya. Biarlah saya menjemputnya. Begini juga saya itu pemiliknya, sayalah yang paling berhak harus memberikan hati saya untuk siapa. Jadi tolong jangan seolah bermain petak umpet begini.

Apakah iya paranormal bisa tau? Apakah bisa memprediksi dimana hati saya sedang berada? Apakah bisa membujuk pencurinya untuk mengembalikannya kepada saya lagi? Saya berharap paranormal dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan lancar. Selancar seseorang yang telah menghilangkan hati saya dengan cara mencurinya.

Paling tidak, ketika saya mengunjungi paranormal, saya bisa normal, dan tidak lagi gila karena cinta.

Hati Sakit Perut


Dasar curut!

Bisa bisanya membuat hidupku kecut

Hati ku kentut

Bau menjijikkannya hadir berturut turut

Hati ku sakit perut

Gara gara kamu, pengecut!

Kamis, 21 April 2011

Lebaran


Saya ingin buru-buru Lebaran -hari raya umat Islam. Tidak seperti sebelumnya, saya yang kurang antusias menyambut Lebaran. Mulai dari banyak godaan ketika berpuasa. Harus jalan jauh untuk Shalat Tarawih ke masjid. Bangun pagi-pagi. Terpaku di depan radio menunggu Adzan Maghrib. Jujur, seumur hidup saya belum pernah ikut warga sekitar untuk keliling membawa obor pada malam hari raya itu. Lagi-lagi karena saya kurang antusias dalam penyambutan Lebaran. Lalu, paginya saya harus melihat seluruh keluarga menangis terisak, untuk bermaaf-maafan. Saya jenuh dengan bagian itu karena saya paling tidak bisa melihat mereka menangis, terharu sekalipun.

Justru belakangan ini saya ingin cepat-cepat ke Lebaran. Sepertinya saya sudah cukup siap untuk bangun pagi-pagi, puasa satu hari penuh, terpaku di depan radio tua, berjalan jauh ke masjid, bahkan mungkin saya rela kalaupun harus berjalan beriringan di tengah anak-anak kecil yang membawa obor. Ya, asal Lebaran cepat datang. Bukan opor ayam atau sambal goreng, bahkan juga bukan ketupat apalagi sirup dan kue kue khasnya. Karena saya ingin momen maaf-maafan itu segera tiba. Untuk keluarga jelas yang utama. Tetangga sekitar, saudara-saudara jauh, terkadang saya masih sering diberi dan terkadang saya harus kembali memberi uang Lebaran untuk mereka yang masih kecil.

Saya sangat menunggu momen Lebaran itu. Dimana saya dapat memaafkan juga dimaafkan. Sebenarnya bermaaf-maafan tidak harus pada waktu Lebaran saja, semuanya berdasarkan niat dari dalam diri masing-masing, namun untuk mereka yang Gengsinya Melebihi Perut, saya tidak dapat berpendapat sepenuhnya. Bukannya saya berharap untuk menerima puluhan pesan pendek dari teman-teman untuk menyebarkan pesan pendek itu ke 10 orang dengan berbagai ancaman yang cukup menggelikan. Ataupun emoticon pesan pendek dengan gaya khas Lebaran yang entah siapa berwaktu luang sangat luang sehingga dapat menciptakannya. Tidak, saya tidak butuh itu semua. Saya ingin sekedar berjabat tangan, berbicara sekedarnya, tidak perlu seakrab dulu, menyampaikan sebuah maaf.

Kalau memaafkan, saya sudah memaafkan mu, jauh sebelum kau berbuat kesalahan. Bahkan saya sering menganggap mu tidak ada ketika saya sudah penat dengan ocehan murahan mu itu. Kalau kau mau tau, sebagaimanapun lebamnya hati seorang wanita, paling tidak didalam sana masih ada satu petak yang berwarna merah jambu untuk seseorang spesial, yang tidak ikut lebam membiru nyaris ungu. Percayalah, kau masih tersimpan di petakan merah jambu itu, di dalam hati saya yang paling dalam. Di petakan merah jambu itu ada banyak beribu maaf, beribu maaf yang tidak akan pernah habis walau setiap saatnya harus saya jadikan kado spesial untukmu yang tidak akan mungkin pernah kau sadari. Yakinlah, aku memaafkanmu.

Lalu bagaimana dengan mu? Apakah juga memaafkan ku? Apakah juga ingin berjabat tangan dengan ku? Saya pikir, hati mu belum selebam hatiku. Saya berharap, Lebaran adalah saat yang tepat untuk memaafkan dan dimaafkan, terutama bagi mu, mungkin juga untuk saya, ya untuk kita yang sama-sama gengsi. Kalau ada yang bilang saya menunggu lebaran karena ada sebuah maksud tertentu; ba(L)ikan dengan mu. Ya terserah apa kata mereka saja. Bukannya lebih baik ada udang dibalik batu, paling tidak dibalik sesuatu yang keras tersimpan satu hal yang lembut dan mengasyikan. Daripada di balik batu tidak terdapat apa-apa. Saya hanya belum cukup kuat untuk melalui hidup yang monoton dengan kerasnya.

Semoga saja kau mau belajar dari ilmu 'Uang Lebaran', seperti maaf, saat kau dimaafkan, bukan berarti kau sudah cukup dalam segala hal, namun adakalanya kau harus berbagi, bukan uang, kau cukup berbagi maaf. Maaf adalah perputaran tajam tanpa poros, kadang kau menerima, bukannya lebih baik banyak memberi (maaf)?

Saya harap, Lebaran besok adalah momen bermaaf-maafan kita yang kedua kalinya, karena saya ingin yang pertama segera datang secepatnya agar seluruh hati saya menjadi merah jambu lagi.

Selasa, 12 April 2011

Surat Kaleng #10 untuk Tahi Semut


Halo pemilik tahi-semut -bukan tahi-lalat- di ujung bibir. Bagaimana kabar mu sekarang?

Sudah lama ya aku jarang membicarakan mu disini. Bahkan aku nyaris lupa untuk merindukan mu. Beberapa minggu lalu aku terlalu fokus pada sebuah kekalutan, pada sebuah perasaan bersalah yang menghantui ku, pada sebuah kesalahan yang aku buat dan aku sendiripun tidak tau letak salah ku dimana. Pada saat menulis ini pun, otakku terpecah, tidak seperti biasanya aku yang selalu fokus padamu, sekarang ada kamu ada dia juga. Dia yang membuat aku kalut belakangan ini.

Sudahlah abaikan saja rasa kalutku itu.

Ngomong-ngomong ini surat kaleng ke 10 untuk mu wahai pemilik tahi-semut. Aku harap kamu dapat menjadi angka satu untuk diriku yang hanya angka nol tidak berarti ini, maka suatu saat kita dapat bersatu dan membuat angka yang sempurna, satu dan nol, sepuluh.

Sebenarnya untuk pemilik tahi-semut, aku hanya bilang sedikit saja bahwa mulai besok aku akan mencoba untuk merindukan mu seperti dulu lagi agar perasaan kalut yang menghantuiku hilang secara perlahan. Sebenarnya juga surat ini bukan untuk pemilik tahi-semut namun untuk tahi-semut itu sendiri.

Hai tahi-semut kurang baik apa coba aku ini, kamu yang awalnya tahi-lalat kini aku sebut tahi-semut. Yah mau bagaimana lagi, pemilikmu terlalu manis kalau hanya untuk menjadi jamban lalat.

Enak tidak berada di ujung hidungnya? Kamu pasti sering ya menikmati deru nafasnya. Pantas saja dia tidak pernah luput berbicara tentang kamu, kamu kan ada di dekat ujung bibirnya. Pasti empuk sekali ada di pipi chubby nya. Kamu juga hampir dekat dengan telinganya, tidak heran kamu hafal sekali daftar lagu-lagu favoritnya yang sering kali menggema ketika dia memasukkan headset tepat di kedua telinganya. Eh sebentar lagi dia punya kumis, ah pasti tahi-semut itu semakin gembira, bisa diselimuti kumisnya setiap waktu.

Tahi-semut, enak tidak sih rasanya di perhatikan? Lalu di jaga agar kamu tidak pecah, di perhatikan agar kamu tidak sakit, di rawat agar kamu ada untuk dia seumur hidupnya, diterima apa adanya walaupun bentuk tahi-semut bulat gemuk hitamm, dia ikut merasakan perih ketika kamu juga perih. Ceritakan kepadaku, enak tidak sih? Pasti enak kan ya, tahi-semut.

Aku cemburu. Tau tidak, aku cemburu.

Aku juga ingin ada disana. Aku janji tidak akan sepasif tahi semut. Aku akan bernyanyi bersama dengannya untuk sebuah daftar lagu favoritnya yang tidak aku mengerti sama sekali alirannya, lewat bibirnya yang bergerak perlahan aku akan mendengarkan cerita hidupnya, aku akan membantu mengumpulkan oksigen untuk aku salurkan masuk ke dalam hidungnya, aku rela menjadi office-girl mungkin cleaning service yang membawa tissu bahkan lap untuk sesegera mungkin mengeringkan airmata yang meleleh di pipinya, lewat kumisnya aku akan titip salam untuk pemilik tahi-semut. Itupun kalau aku benar-benar bisa menjadi tahi-semut yang dia jaga setengah mati.

Ah tapi sudahlah. Aku memang tidak bisa menjadi tahi-semut di ujung bibir mu yang selalu kamu manjakan. Namun aku akan segera berkunjung kesana, ke ujung bibirmu, ketika panas maka aku akan meleleh dan menetes di bibirmu lalu ketika dingin aku akan membeku disana, tepat di atas bibirmu. Memang bukan sebagai tahi-semut, namun sebagai gula-gula yang membuat hidupmu semakin manis. Walaupun resikonya aku harus mau merasakan manis yang semakin linu membuat pilu.


Suryani

'Itu serius Pung, masih ada tulisan Suryani di kuku mu?'

Kata Pepen sahabatku disela kami belajar untuk mid semester geografi kemarin. Iya Pen, bahkan aku lebih dari serius, mungkin dua, tiga, atau entah berapa 'rius'.

Suryani

Sedikit jadul tapi lucu ya namanya. 10 huruf yang aku tulis dari kelingking kiri berjalan terus menuju kelingking kanan. Tulisan sebenarnya itu s-o-r-r-y y-a- - - . Biar lebih asik aku sebut Suryani saja.

Siapa juga sih Pen yang mau bahkan tega untuk menghapus kenangan-kenangan yang menyenangkan. Bukannya aku masih berharap. Oh tidak, jelas tidak. Bahkan terkadang aku mulai kesal melihat tingkahnya yang seolah memojokkan ku sebagai satu-satunya orang yang paling bersalah di hidupnya selama ini. Dia juga sukses sebagai business-man ups maksudku sukses membuat ku merasa kalau akulah yang paling bersalah dari masalah rumit ini. Kalau soal minta maaf duluan jangan khawatir. Sudah aku coba Pen, sudah. Aku terkadang sampai bosan. Dari kata maaf sederhana yang sering aku publikasikan melalui jejaring sosial sampai berbicara langsung empat mata dengannya bahkan sekarang aku mulai sedikit gila sampai harus menulis kata maaf untuknya di sepuluh kuku ku. Akupun bingung, karena segalanya semakin memburuk saja.

Ngomong-ngomong soal Suryani. Bukannya aku tidak punya aseton ataupun remover kutek untuk mengapusnya. Namun memang tidak ada niat sekaligus tidak tega untuk menghapusnya. Apa ya? Kamu mengerti kan Pen maksudku tentang kenangan? Buat aku Suryani bukan sekedar sebuah susuan huruf diatas ke sepuluh kuku ku yang membentuk kata maaf. Lebih dari itu. Suryani itu kenangan. Ibarat pesta, Suryani itu souvenirnya. Ibarat berlibur, suryani itu oleh-olehnya. Kenang-kenangan. Iya itu, Pen. Kalau aku menghapus Suryani sama saja aku menghapus semua kenangan kenangan ku bersamanya, dari yang bahagia, menyenangkan, lucu, sedih, sampai marahan seperti saat ini.

Aku masih belum mengerti, Pen, setelah ini aku harus berbuat apa. Mengemis maaf? Mungkin tidak. Aku tidak mau memaksa meminta sesuatu sampai berbelas kasihan seperti pengemis, apalagi untuk sebuah maaf. Yang penting aku sudah sempat berusaha. Kalau masalah hasilnya, biar Tuhan saja yang memutuskan. Semoga Tuhan cukup mengerti, kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak, jangan iya tidak seperti ini.

Oh iya, Pen. Karena aku sudah mulai bosan untuk meminta maaf dengan berbagai cara, aku harap kamu mau membantuku menghapus 7 huruf di 10 kuku ku. Jadi yang di hapus hanya s-o-r-r-y y-a nya itu saja ya, Pen. Tiga huruf terakhir yang juga merupakan nama panggilannya jangan dihapus, bantu aku mengelupasnya pelan pelan saja agar tidak rusak karena huruf huruf itu mau aku pindahkan, dari jari tengah, jari manis, dan kelingking kiri, kini mau aku pindahkan secara bersamaan, ke dalam hati. Mau aku simpan rapih disana, biar dia dapat sekali lagi berkunjung ke hati ku, mungkin untuk yang terakhir kali, hanya sekedar menengok tiga huruf bagian akhir dari namanya.


Surat Kaleng #9 untuk Frau


Hai, Frau. Bagaimana kabar mu? Apakah masih memproduksi mesin penenun hujan? Oh iya, mesih penenun hujan mu yang lalu aku pinjam sudah ku kembalikan kan? Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak rusak setelah aku pinjam. Frau, kamu sudah pulang dari luar angkasa belum? Bagaimana bercinta disana? Seru ya? Wah aku jadi ingin mencoba. Frau, apa kamu juga sempat merasakan marahan seperti rat and cat? Seperti tom and jerry begitu? Kamu marahan dengan siapa sih? Dengan sahabat mu ya? Sudahlah Frau lebih baik kamu mulai untuk glow semacam bersinar begitu atau juga bisa menjadi seolah-olah kuat dengan menyebut dirimu 'I'm a sir' daripada terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri tentang masalah mu dan sahabatmu sampai kalian marahan seperti ini hingga sekarang.

Ngomong-ngomong tentang Frau, aku jadi ingat siang itu pertama kalinya aku kepincut tentang sesuatu yang ada pada Frau. Aku harus meminta tolong dengan dia untuk mencarikan album Starlit Carousel milik Frau yang memang cukup sulit mencarinya. Waktu itu aku sedang di luar kota, dan sepertinya cuma dia yang mau menolong ku tentang hal itu. Sorenya aku jingkrakkan gembira karena dia mengabari ku lewat pesan pendek bahwa sudah medapatkan album itu untukku, waktu itu aku benar-benar tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu dengannya, untuk sesegera mungkin mendapatkan album itu ditangan ku.

Wah, Frau, aku jadi iri dengan mu. Kalau tidak salah siang itu hujan. Ceritakan sedikit dengan ku, bagaimana rasanya di genggam erat oleh tangannya? Bagaimana rasanya dipinjami jaket agar kamu tidak kehujanan? Bagaimana rasanya membonceng dia? Apakah kamu juga memeluk perut buncitnya ketika dia ngebut? Waktu itu kamu di lindungi dibalik jaketnya atau dimasukkan ke dalam tas nya sih? Lalu bagaimana rasanya dijaga baik-baik malamnya? Aku tau pasti kamu sedih ketika dia ada untuk mu terakhir kali, waktu dia harus menyerahkan mu untukku di pagi itu. Itu terakhir kalinya dia menggenggam mu kan, Frau?

Frau, kita kebalikan ya. Waktu itu, ketika kamu sedih karena dia melepas mu justru aku sedang puncak-puncaknya berbahagia dalam hari-hariku bersamanya. Indah sekali waktu waktu itu, aku tidak akan banyak cerita disini karena mungkin sedikit banyak kamu sudah tau. Bukannya aku malas mengetik, aku hanya malas mengingat-ingatnya kembali. Nah sekarang ketika perasaan mu mulai membaik dan bisa beradaptasi setelah dulu dia sempat melepasmu, justru aku yang sekarang tidak karuan begini perasaannya.

Frau, kita memang kebalikan. Namun aku yakin kita tidak jauh beda karena kita sama-sama wanita. Aku doakan dari sini, untuk Frau yang di Jogja, tempat dia pujaan hatiku biasa melepas penat, semoga Frau cepat-cepat mengeluarkan album baru lagi agar aku dapat meminta tolong dia untuk mencarikan album itu untukku. Dan aku janji, aku tidak akan cemburu kalaupun album itu harus dia simpan, dia jaga, harus dia peluk erat.

Buat apa juga cemburu, bukannya dia seperti itu agar albumnya Frau tidak rusak? Iya kan? Dan aku bangga, dia sosok laki-laki remaja yang sangat bertanggung jawab.

Jumat, 01 April 2011

Cangkir


Ibu sudah tau kalau saya sedang capek dan suntuk pasti dibuatkannya teh celup sedang -tidak dingin tidak panas- di cangkir. Siapapun tau cangkir. Itu lho gelas namun terbuat dari plastik. Bahkan saya hampir tidak pernah menggunakan gelas kaca untuk minum sehari-hari. Lagi-lagi saya harus kepincut dengan 'benda mati'; cangkir.

Cangkir favorit saya warnanya putih tulang, cukup besar, bagian pegangannya tebal dan kuat, pokoknya pas sekali lah kalau dipakai untuk menghabiskan waktu bersama hujan.

Cangkir kesayangan saya selalu ada disaat saya bahagia, waktu saya dan kamu sedang berkirim pesan pun saya ditemani cangkir itu. Juga waktu saya merindukanmu, seluet wajahmu terbentuk jelas pada bayangan air di dalam cangkir itu. Cangkir tetap tidak bosan untuk bersama saya sekalipun saya harus menggantikan teh dengan airmata untuk memenuhinya.

Cangkir hebat ya. Bisa unik seperti itu. Bisa memkomposisikan apapun sesuai porsinya, dapat menyimpan aroma teh yang sudah lewat sekalipun, cangkir menyimpannya dalam diam biar siapapun yang mencucinya tidak tau bahwa disana, didalam cangkir yang paling dalam, cangkir menyimpan teh sebagai masa lalunya melalui aroma. Cangkir itu juga kuat, lebih kuat daripada saya yang sok kuat. Mau dijatuhkan beberapa kali pun cangkir tidak akan rapuh apalagi pecah, kecuali kalau memang cangkir diinjak-injak, lagipula siapa juga sih yang tidak akan rapuh kalau ada orang yang sudah keterlaluan seperti itu.

Mungkin suatu saat cangkir akan membantu saya. Membantu saya untuk menyelesaikan setiap masalah. Membantu saya untuk memulai sebuah percakapan dengan mu. Membantu hati saya agar tidak mudah pecah, eum maksudnya patah. Mengajarkan kepada saya bagaimana cara menyimpan masa lalu dalam diam melalui apapun yang menjadi ciri khas mu, bisa aroma parfume mu, bisa senyum mu, bisa mata sipit mu, bisa jerawat-jerawat mu yang membuat kamu semakin...ah sudahlah.

Saya jatuh cinta dengan cangkir. Iya, saya jatuh cinta dengan benda mati. Tapi bukannya lebih baik jatuh cinta dengan benda mati yang hatinya hidup daripada jatuh cinta dengan benda hidup yang hatinya mati.

Dicubit Harapan


Siang itu aku sedang suntuk suntuknya, tiba-tiba Bima, teman sekelasku, menceletuk kalau mending dicubit seminggu bisa sembuh daripada sakit hati dibawa sampai mati. Motifnya apa sehingga bisa berbicara seperti itu, aku tidak tau. Karena aku juga tidak tau mendalam tentang dia. Setau ku, cuma remaja putih-abu yang cerewet, doyan bercanda, slengekan, dan paling tidak bisa melihat wanita menangis, ehem. Ah bisa saja si Bima itu. Mau mid-semester begini malah mengajak galau.

Ngomong ngomong tentang dicubit, aku juga sedang dicubit. Dicubit harapan.

Bukannya kebalik ya? Harusnya kan aku yang mencubit Harapan, biar Harapan cepat bangun dari tidurnya dan cepat sadar. Belakangan ini Harapan kalau bangun suka kesiangan, tidurnya larut malam sih. Aku tau kok, Harapan, siapa juga sih yang bisa tidur kalau dihantui perasaan bersalah, kalau setiap malam harus bersembunyi dibawah bantal cuma untuk menangis, kalau semut semut brengsek yang sedang mencuri teh dan biskuit di atas meja belajar menjulurkan lidah puas -mengejek- atas kesedihan mu, nyamuk pun sampai memilih lebih baik menyerahkan diri di rumah laba-laba ujung kamar daripada di pukul oleh mu yang sedang labil dan nyamuk akan mati sia-sia. Maaf ya Harapan, aku jarang membangunkan mu di setiap pagi. Aku lihat kamu lelah sekali. Jangankan pagi buta, siang bolong pun terkadang aku masih melihat mata mu memerah, hidung mu sesenggukkan, rambut mu berantakan, tali tank-top dan beha mu acak-acakkan, celana polos di atas lutut berubah menjadi rok mini karena robek di tengah. Kamu kenapa sih Harapan? Apa mau menunggu semut semut brengsek mencuri habis teh mu yang semalam? Atau mau memastikan kalau nyamuk mati secara lebih terhormat di rumah laba-laba sana daripada di antara kedua telapak tangan mu? Ah Harapan, kamu sama seperti Bima, tidak jelas apa motif dari semua ini. Aku masih bingung.

Eh Harapan, kalau kamu galau begini terus mau aku cubit saja ah biar kamu sadar dan tidak mengganggu konsentrasi ku waktu mid-semester. Ya jelas lah, kamu kan peliharaan ku, aku sudah susah susah merawat mu agar tumbuh sehat, agar tidak sakit, agar tidak rapuh ditengah jalan, agar Harapan bernyawa dan tidak kosong lagi. Kalau Harapan galau begini terus, aku juga yang rugi. Sudah korban tenaga, fikiran, dan perasaan.

Jujur ya Harapan. Aku mau kamu kembali seperti beberapa waktu lalu, waktu kamu dapat seimbang antara logika dan perasaan, waktu kamu dapat membagi waktu antara otak dan hati, waktu kamu dapat membedakan antara masa lalu dan masa depan. Juga waktu kamu terjaga larut bukan untuk menangis namun untuk berkirim pesan pendek yang tabungannya masih kamu simpan, atau waktu wajah mu kamu tutupi bantal bukan karena malu akibat airmata namun malu kalau ketauan Ibu pipimu memerah; jatuh cinta. Oh iya waktu itu kamu kan sedang jatuh cinta ya, aku hampir lupa, resiko jatuh cinta ya patah hati. Berarti sekarang Harapan sedang patah hati? Ah dasar Harapan, kalau tidur nyenyak tidak bisa tapi kalau bermimpi giat sekali rasanya, aku cubit saja ya biar cepat sadar dan terbangun.

Aw sakit!

Kok jadi aku yang dicubit Harapan sih? Jangan-jangan... Oh benar, aku jauh ketinggalan di masa lalu sedangkan Harapan yang aku gosipkan daritadi justru sudah dapat beranjak dari kekalutannya. Harapan, sering sering saja ya cubit aku, aku takut tidak tidur namun bisa bermimpi, aneh memang!

Ular Tangga


Kalau hidup berjalan naik terus, nanti yang sempat menemani kita 'dibawah' akan berteman dengan siapa?

Sekitar bulan lalu waktu saya sedang semangat semangatnya berangkat sekolah, pelajaran pun menjadi mudah, maunya pinjam cermin melulu, pakai semuanya serba sewarna. Matahari waktu itu belum se-abuabu sekarang, masih kuning cerah malah. Awan pun masih rajin dibonding tidak seperti sekarang yang rambutnya dia biarkan keriting berombak. Masih bisa duduk bersandar berdua di samping tralis untuk menikmati petrichor. Waktu itu saya bangga punya dia.

Enak sekali ya kalau membayangkan tentang hal yang indah-indah, terkadang bisa menjadi semangat hidup, bisa juga menjadi harapan belaka. Apapun itu saya mencoba maklum. Saya yang sempat merangkak teratur jauh ke atas tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa saya harus kembali kebawah, ke titik nol.

Seperti permainan ular tangga yang saya mainkan bersama Ruthana, Ayuning, dan Fenita. Disitu saya seringkali kalah, namun malah disitu sensasinya, saya bisa seru-seruan disana, saya bisa tertawa lepas ketika ada juga yang mau menemani saya kembali ke titik nol. Ada saja yang membuat saya harus turun kebawah, bisa posisi saya ditempati pemain lain, atau nasib buruk dadu yang membawa saya turun kebawah.

Di permainan ular tangga itu, saya bisa mengerti bahwa kehidupan tidak selalu naik. Terkadang butuh merosot santai, kalau merangkak naik terlalu serius nanti cepat lelah. Kalau masalah tentang turun lagi kebawah, mungkin posisi saya harus digantikan dengan orang lain yang bisa dibilang baru dan membuang saya untuk kembali lalu memulainya dari bawah lagi. Oh atau jangan-jangan nasib yang membawa saya kembali di titik nol ini? Apapun itu saya berharap agar ketika saya berada di titik nol ada orang lain juga disana untuk menemani saya, lalu dengan Pe-De nya saya akan tertawa terbahak-bahak sambil merangkak naik melewati tangga-tangga peruntungan.

Kalaupun setelah mencoba naik, saya akan turun kebawah lagi, saya terima, karena kalau hidup berjalan naik terus, nanti yang sempat menemani saya 'dibawah' tadi akan berteman dengan siapa? Sendirian dong? Makanya akan saya temani lagi, kalaupun dia belum menyelip untuk pergi.

Saya tidak akan takut untuk kembali dan terus kembali di titik nol karena saya akan kembali dan kembali untuk mencoba dengan usaha kuat dan sedikit peruntungan. Lagipula mengapa harus takut, saya kan tidak sendiri, ada ular yang senantiasa mengantar saya untuk turun dan memulainya dari bawah, tepat di titik nol.

Baiklah, seandainya hidup saya memang seperti ular tangga, yang hanya dipenuhi oleh ular yang lebih banyak daripada tangga, sudahlah cukup itu saja, tidak perlu ditambah hewan hewan lain lagi. Saya hanya ingin ditemani oleh orang yang setia ketika saya lelah naik-turun bukan seperti 'buaya' ataupun 'kelinci' yang playboy!

Gengsi Melebihi Perut


Maaf ya Dewik, terpaksa aku tolak saran mu siang lalu tentang sebuah cara agar aku dan dia bisa kembali seperti dulu lagi; ba(L)ikan. Aku tau sekali mungkin kamu cukup bosan melihat tingkah ku yang uring-uringan seperti ini terus, Wik. Bahkan aku menghargai sekali saran mu. Namun sepertinya kurang tepat jika dikondisikan dengan aku dan dia yang sekarang.

Hum...mungkin kalau sebuah maaf bisa dibeli dengan seporsi mi goreng, aku akan segera memasaknya khusus untuk dia, ditambah bombai, pedas, ditambah udang, apapun yang dia mau. Tapi, asal kamu tau saja, Wik, gengsinya melebihi tinggi perutnya yang lapar.

Benar-benar tidak terbesit dibenak ku, ketika aku membawa seporsi mi goreng, dia akan datang kepadaku untuk sekedar bilang 'Minta ya?' lalu aku memberinya lalu kami duduk berdua sambil berebut mi goreng lalu suasana menjadi se-seru pertama kali dulu lalu kalau terlalu pedas maka kami akan berpindah duduk di bangku bawah kipas angin lalu melanjutkan obrolan sambil mendengarkan musik bersama lalu... aku dibangunkan seseorang yang menemukan aku sedang tertidur diatas meja, seorang diri.

Ya itu dia, yang terburuk dari dia, mungkin aku juga, yaitu gengsi. Buktinya kami sama-sama tidak mau memulai sebuah percakapan duluan, saling menunggu, saling menjaga-image, yang jelas kami sama-sama gengsi. Mungkin dia terlanjur marah dan tidak mau memaafkan ku, aku maklumi itu.

Sakit ya Wik, sakit sekali rasanya. Kalau aku boleh sedikit cerita, beberapa bulan sebelum aku dan dia marahan, aku sudah ada perasaan tidak enak kalau semester ini, mungkin satu tahun ini, kami akan marahan (lagi). Padahal sebelumnya aku sudah menjaga moodnya sebaik mungkin, aku mencoba untuk tidak marah sekalipun dia sempat menyakiti hatiku dari bercandaan yang entah dia sengaja atau tidak, aku juga mulai sering untuk membawa permen setiap hari agar dia tidak perlu kerepotan kalaupun sedang suntuk menerima pelajaran. Aku melakukan semua itu untuk sekedar meyakinkan perasaan burukku selama ini tidak mungkin terjadi. Namun buktinya ya sekarang ini, Wik. Oh iya, dia itu aneh, kalau dia marah begini aku mencoba meredamnya agar tidak marah lagi, namun ketika aku marah bukannya dia mencoba meredamku justru dia berbalik marah dengan ku, makanya aku coba agar aku tidak akan pernah mengulangi sebuah kesalahan yang sama lagi.

Terimakasih ya, Wik, untuk saran mu. Mungkin lain kali aku sarankan untuk mu, bagaimana kalau kamu saja yang membawa mi gorengnya, Wik? Biarlah dia tidak kelaparan ketika menerima pelajaran dan bisa konsentrasi. Kalau tentang masalah ku dan dia, tentang maaf-maafannya ditunda dulu saja. Biar aku mencoba berfikir dalam diam, apa cara yang tepat agar aku bisa ba(L)ikan dengannya lagi, tanpa campur tangan dari siapapun, cukup hati dan logika ku saja yang bekerja, karena masalah ini bukan sembarang masalah.