Rabu, 02 Maret 2011

Trampolin


Cinta itu seperti trampolin. Semakin kuat kau menahannya, semakin tinggi pula kau dan harapan mu akan terbang.

Jadi, waktu itu saya sudah rela kepanasan untuk mengantre panjang. Saya mengantre untuk trampolin. Bermain trampolin asyik juga ya sepertinya kalau di perhatikan. Bisa terbang bebas, bisa juga jatuh empuk di bawah. Tergantung kau saja, semakin kuat kedua kaki mu kau hentakkan untuk menahan di atas trampolin, semakin kuat juga trampolin membuat mu terpental sampai akhirnya kau menyerah dan tidak sanggup. Ya mau bagaimana lagi kau memang harus terbang ke atas. Saya sarankan jangan terbawa suasana lalu terbangmu menjadi tinggi seenaknya, bisa-bisa nanti ikat pengamannya putus atau justru trampolin itu sendiri yang akan jebol dan rusak terkena hentakan kakimu yang sangat.

Seperti cinta,

Semakin kuat saya menahannya untuk tidak datang atapun menutup-nutupinya agar tidak ketahuan kalau saya sedang jatuh cinta, justru semua menjadi kebalikan. Padahal saya sudah susah-susah diam, tutup mulut rapat, tidak menunjukkan gerak-gerik ataupun yang lain, pokoknya saya berusaha menutupi dan menahan cinta yang sebenarnya sudah hadir. Tapi apa, cinta justru membuat saya bingung. Saat saya menahannya justru saya merasa di sana, di dalam hati, ada detakan yang lebih daripada biasanya. Serius. Saya kualahan untuk menahan cinta, lama kelamaan saya terbang juga. Saya diterbangkan cinta. Saya tidak terbang sendiri, saya terbang bersama harapan-harapan saya. Eum tampaknya harapan-harapan itu kosong. Parahnya, saya tidak mawas diri. Saya terlalu asyik terbang, saya lupa kalau harapan-harapan itu dapat meletus setiap saat.

Lalu kalau meletus siapa yang mau bertanggung jawab? Jawabannya tidak jauh beda dengan trampolin. Kalau trampolin rusak pasti yang tanggung jawab pemiliknya, penggunanya mana mau tau. Lalu kalau harapan-harapan kosong saya meletus, saya sendirilah sebagai pemiliknya yang memang harus bertanggung jawab, ah kau mana mau.

Jadi, saya putuskan tidak jadi bermain trampolin. Sekali kau berani bermain, kau harus berani kecanduan untuk terbang. Hati-hati, di atas sana hanya dipenuhi harapan-harapan kosong dari beberapa orang yang frustasi, ehem termasuk saya, dan sepertinya tidak bisa dijanjikan untuk menjadi pondasi yang kokoh. Bisa bisa kau jatuh. Bukan jatuh cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar