Sabtu, 19 Maret 2011

Surat Kaleng #8 untuk Vid-Havid

Ini surat kaleng yang ke-8. Belakangan ini saya suka angka 8. Karena saya sedang kepincut dengan seseorang yang berinisial tepat diurutan ke-8 dari alfabet. H! Iya, huruf H. Saya suka girang sendiri kalau secara sengaja ataupun tidak melihat jam tepat pukul 08:08. Tetapi yang saya bicarakan diatas tadi bukan H untuk Havid. Tidak kok, saya tidak sedang jatuh cinta kepada Havid. Saya jatuh cinta dengan H yang lain.

Oh iya jadi namanya Havid Dwi Pradipta. Kami bertemu di pertengahan 2010 lalu. Saya punya panggilan istimewa untuknya; Vid-Havid. Ucapkanlah itu dengan cepat. Saya biasa memanggilnya seperti itu, diawali dari setiap pagi sampai siang kadang kalau dapat bonus sms dari operator saya biasa melanjutkannya sampai malam. Iya untuk sekedar menyapa; Vid-Havid. Kalaupun dia tidak membalas sapaan dari saya itu bukan suatu hal yang luar biasa bagi saya. Karena Havid memang jarang menggubris saya, eum maksudnya, jarang menggubris tentang sapaan dari saya tadi.

Saya kagum dengan Havid.

Semoga siapapun termasuk seseorang yang sedang naksir Havid tidak salah persepsi ketika membaca ini. Saya hanya kagum, sudah itu saja. Saya kagum dengan segala sesuatu yang ada padanya, bukan dengan Havidnya. Mengerti? Baiklah jadi begini maksud saya, kalaupun ada seseorang yang memiliki segala sesuatu seperti Havid, dari sifat, kepribadian, sampai jiwa ke-bapak-an nya, saya pun juga akan kagum, mungkin juga kepincut kepadanya. Jadi tidak terpaku kepada Havid saja, namun terhadap segala sesuatu yang terdapat padanya.

Kepribadiannya dari A-Z yang kalau dirinci tidak akan ada buruknya. Saya tidak sedang gombal, tidak sedang mengelu-elukan, saya juga bukan tipe orang yang hiperbola. Havid memang seperti itu. Saya nyaman ketika harus melihatnya dari arah belakang saja. Ataupun ketika Ruthana, teman sebangku saya, harus berteriak kalau pagi ini Havid terlalu tinggi sampai menutupi teman-teman dibelakangnya yang ingin melihat papan tulis, tanpa banyak kata dia hanya menoleh saja lalu sedikit merendahkan posisi duduknya. Ini dia! Tidak banyak bicara seperti yang lain dan bertindak tangkas. Bayangkan saja, air wudhu pun merasa nyaman sampai sampai enggan untuk enyah tergesa dari ujung rambutnya yang menantang langit, mukanya selalu segar, kata orang bercandaannya garing namun disana justru saya dapat tertawa renyah.

Saya dan dia ada sedikit persamaan -bukan fisikli- yaitu tentang masa depan. Sering saya lihat matanya selalu berair ketika berbicara tentang masa depan, tidak jauh beda dengan saya. Berbicara sedikit tentang BAPEPAM, tentang AKUNTAN, tentang EKONOM, tentang apapun yang kami cita-citakan, tentang sesuatu yang dibicarakan lantang di depan kelas. PeDe ya? Kami memang seperti itu. Bukannya sombong, kami hanya optimis saja kok. Biasanya kalau ada guru yang mendoakan yang paling baik untuk kami semua, saya menjawab 'Amin' dengan suara cukup lantang. Namun Havid justru tidak mengeluarkan suara, dan saya yakin, dia mengucapkan 'Amin' dengan cara yang berbeda, cukup dalam hati saja, karena Havid tipe orang yang cenderung tenang.

Havid kalau melakukan apa-apa tidak pernah berfikir dua kali, itu kurang, dia akan berfikir lebih dari seribu kali tentang akibat baik buruknya nanti. Sederhana, mandiri, ah banyak pokoknya. Tidak akan habis kalau saya jabarkan.

Havid, besok kalau kamu sudah jadi BAPEPAM dan saya sudah jadi AKUNTAN (AMIN) kita reunian yuk, lalu bercerita kepada dunia, cerita dengan sedikit gombalan dan sedikit pamer, mengenang tentang motivasi yang membuat saya mungkin kamu juga menjadi kuat begini, tentang bercandaan garing, dan tidak lupa kita akan bercerita tentang sepenggal cerita yang sengaja tidak saya tulis disini, karena itu rahasia kita. Iyakan Vid-Havid?

Sudah dulu ya, Havid. Saya mau meneruskan tugas Akuntansi dulu.

Salam hangat,

Akuntan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar