Kamis, 17 Maret 2011

Surat Kaleng #7 untuk Jarum Jam


Jarum jam, apa kamu tidak capek lari-lari di lingkaran kaca sempit begitu? Aku saja yang hanya melihat sudah capek kok. Jangan kaget ya jarum jam, aku memang sering memperhatikan kamu. Kalau kamu sedang berlari lucu sekali, pantat kamu goyang ke kanan-kiri hihi. Aku biasanya duduk diujung ranjang sambil melihat mu yang ngos-ngosan begitu.

Kalau boleh, disurat ini aku sarankan kepadamu, jangan terlalu perfeksionis!

Aku paham betul kalau semua orang butuh waktu, terutama untuk proses menyembuhkan sakit dari masa lalu. Tetapi tidak dengan aku, waktu yang berjalan hanya membuat semuanya semakin berat saja. Dengan berjalannya waktu semuanya bisa berubah-ubah, moodku naik turun, jatuh cinta patah hati jatuh cinta patah hati begitu melulu, kadang kadang semangat seringnya menangis. Coba waktu itu aku patahkan saja kamu, jarum jam. Aku patahkan agar kamu tidak bisa lari cepat-cepat lagi, biar waktu berhenti disana ketika aku dan dia memang sedang bahagia. Kalaupun memang begitu aku dan dia akan bahagia terus, tidak seperti sekarang ini, kami justru marahan seiring berjalannya waktu.

Puas kamu, jarum jam? Katanya seiring kamu berlari luka akan sembuh, justru luka mulai hobi bertadangan kepadaku. Lalu kamu mau bertanggung jawab? Kamu mau keluar dari jam, mau pakai rok mini, mau berdandan, mau tampil sexy terus naik taxi kerumahnya untuk sekedar meminta maaf dan memperbaiki hubungan ku dengannya? Iya begitu? Bukannya membaik di aku, justru jarum jam akan dipacarinya. Aku cukup tau kalau tipe wanita yang dia idam-idamkan seperti model begitu. Itu yang paling aku benci dari dia, menilai segalanya hanya dari fisik.

Ah jarum jam kalau kamu memang tidak bisa bertanggung jawab untuk memperbaiki hubungan ku dengannya, awas saja ya! Akan aku ganti jam di dinding kamarku menjadi jam digital yang jelas jelas tidak punya jarum jam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar