Minggu, 13 Maret 2011

Seperti Digantung


Kalau setiap orang yang pernah 'menggantung' orang lain mengaku dengan sendirinya, pasti penjara cepat penuh.

Kamu sadar tidak kalau kamu pernah menggantungku. Bukan hanya pernah, sampai detik ini pun seperti masih ada tali yang menjerat leherku. Tega ya teman menggantung teman, ups kita kan memang teman. Aku saja yang berlebihan.

Iya, aku berlebihan. Padahal sebelumnya aku sempat berjanji kepada Tuhan bahwa aku tidak akan berlebihan dalam hal apapun. Maaf ya Tuhan. Cintaku lebih kuat daripada janjiku. Lalu, bagaimana mengobatinya kalau sudah begini? Aku sudah terlanjur digantung. Tidak ada pondasi kuat dibawah sana, hanya ada gelembung-gelembung yang membawa terbang kesana kemari harapan-harapan kosong ku. Dan kalaupun gelembung itu pecah nanti, aku akan terjerat tali dan mati digantung.

Iya, mati digantung. Digantung kamu.

Ah fikiran ku jadi kemana-mana. Aku coba tanyakan kepadamu dulu saja, rasanya digantung itu enak tidak? Pasti kamu tidak bisa menjawab, karena kamu tidak pernah digantung. Yang mampu menjawab sesuatu dari dalam hati hanyalah mereka yang pernah mengalaminya. Aku! Aku akan menjawab, digantung itu tidak enak.

Awalnya bahagia, seperti diterbangkan, seperti digandeng lari-larian ditaman bunga, seperti ditopang bahunya, lega sekali rasanya, waktu itu cuma ada aku dan kamu. Sudah sudah kalau diceritakan awal bahagianya memang tidak ada habisnya. Lalu bagaimana rasanya ketika tau sedang digantung? Lebih dari teman namun juga tidak akan mungkin untuk menjalin hubungan.

Sakit! Itu saja jawaban ku kalau kamu mau tau.

Mungkin kamu tidak mau tau dengan semuanya, karena kamu takut. Kamu takut ketahuan kalau kamu pernah menggantungku. Karena kalau setiap orang yang pernah 'menggantung' orang lain mengaku dengan sendirinya, pasti penjara cepat penuh. Iya kan? Dan kamu terlalu indah untuk sekedar masuk penjara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar