Minggu, 13 Maret 2011

Surat Kaleng #6 untuk Pagi


Selamat pagi, Pagi.

Tidak perlu aku tanyakan kabarmu, karena sedikit banyak aku tau bagaimana keadaan mu sekarang.

Dari selentingan, Matahari diculik dari Pagi ya? Sebenarnya diculik yang lain atau memang matahari sudah tidak mau dengan mu lagi, Pagi? Jangan bilang matahari mau berpindah haluan, matahari ada di malam hari. Ah tidak bisa tidak boleh, Tuhan kan sudah menciptakan segalanya berpasang-pasangan sejak awal.

Katanya matahari tidak lagi hangat, matahari membuat pagi kepanasan. Pagi sering keringatan, sering ada yang menetes dari atas sana, itu keringat atau hujan atau jangan-jangan air mata? Wah kalau airmata berarti kita sama dong, Pagi. Aku juga lagi suka menangis.
Kita menangis untuk hal yang sama.


Kehilangan.


Pagi, kau kehilangan matahari mu dan aku juga kehilangan matahari ku. Ha-Ha lucu ya. Sekarang suasananya mendung terus. Aku sudah tidak sesemangat dulu lagi, bawannya ingin marah-marah terus. Pagi, kapan-kapan kita protes yuk. Kita bawa spanduk besar, tulisannya 'Kembalikan Matahari Ku'. Nanti kita teriak sekencang-kencangnya pakai speaker mushola, sepertinya kalau kita pinjam sebentar tidak masalah asal kita ada izin saja dengan pengurusnya. Kita bisa bakar ban bekas ditengah jalan, bisa bawa batu untuk lempar sana lempar sini, bisa melalukan apa saja untuk protes, semacam demo begitulah. Tapi Pagi, jangan sampai kita meniru mereka yang sampai menjahit mulutnya segala, itukan sakit, aku hanya tidak ingin lebih sakit. Eum bodoh sekali! Kita kan belum tau harus protes dengan siapa? Harus dengan Tuhan? Kalau setiap sakit hati harus lari ke Tuhan, kasihan kan Tuhan juga butuh waktu untuk mengobati luka hatinya sendiri. Lalu ke gedung DPR? Ke pabrik? Ke perusahaan? Ah nanti mereka kira kita karyawan yang ingin bonus semata. Kita hanya butuh cinta kan, Pagi.



Namun, ini masalah perasaan.
Perasaan tidak bisa dipaksakan.
Kalau dipaksakan nanti berantakan.
Ah berantakan sekalipun tidak ada yang memperdulikan.

Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Pagi, untuk merebut matahari mu kembali? Kamu mau diam saja, mau jalan ditempat, mau saja dilompati siang, mau terus-terusan mendung, mau membuat teh celupku lekas dingin, mau tetap melaksanakan semua rencana pasif mu itu? Kamu yakin?

Kalau boleh menyela, rencana ku sih tidak jauh beda dengan mu, Pagi. Aku mau pasif saja. Kan tadi aku sudah bilang, Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan sejak awal. Jadi kalau memang jodoh tidak akan kemana kok. Siapa tau Pagi bisa mendapatkan mataharinya kembali, dan aku bisa mendapatkannya kembali.

Yasudah kalau begitu rencana protes bersamanya gagal saja. Lebih baik sekarang kita berdoa bersama agar Tuhan mau menjodohkan kita dengan matahari impian kita masing-masing, amin.

Sudah dulu ya, sampai bertemu untuk menangis bersama di pagi berikutnya, Pagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar