Rabu, 23 Maret 2011

Secuil Perjalanan




Kalau sudah begini aku memang tidak bisa diganggu. Hanya duduk di kursi rotan atau sekedar berdiri kuda-kuda di depan jendela kayu kamar ku. Seharusnya memang tidak perlu diberi kanopi, agar hujan dapat bercumbu langsung dengan jendela diteruskan selingkuh dengan kisikisinya. Membuat luntur cat luar kamar ku. Melahirkan lumut lumut kecil disetiap tepinya. Lalu menetes turun sampai ke tanah, meresap disana, sampai cacing yang awalnya haus kini mati kekenyangan air. Ketika itu hujan dihadapkan pada banyak pilihan. Bisa meresap ke akar pohon untuk kepentingan bersama, bisa membuat genangan sia-sia, bisa juga mencari jalan ke laut lepas untuk menjadi hujan yang baru.

Enak sekali jadi hujan. Kalau aku jadi hujan, jelas aku akan memilih jalan ke laut agar aku dapat menguap lalu menetes sebagai hujan baru. Lahir kembali tanpa dosa, seperti tidak pernah punya salah, seperti segala sesuatu sudah dimaafkan, seperti dirindukan banyak orang untuk sebuah kehadiran. Kalau memang begitu aku akan berjanji, berjanji memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku buat, belajar untuk meminta maaf, belajar untuk lebih kuat, belajar untuk lebih ikhlas, bukannya sesuatu itu yang penting usahanya kan kalau hasilnya itu urusan Tuhan lagipula biar Tuhan juga punya kerjaan.

Sayangnya sebagian besar dari hujan memilih untuk membentuk genangan air. Apa gunanya sih? Paling tidak kalau hujan menyerap ke akar pohon, hujan bisa bermanfaat untuk orang lain. Atau bisa juga kembali lagi ke laut untuk menguap dan menjadi hujan baru, kalaupun dibilang egois hujan memikirkan dirinya sendiri seperti tidak masalah daripada harus menjadi sia-sia seperti di genangan air. Hujan mandi lumpur katanya biar kulitnya mulus, pakai hair mask lumpur juga biar rambutnya mengembang indah ketika dikibaskan, lalu hujan hanya akan bersandar. Ada yang bergosip ria, ada yang sambil pacaran, ada yang pasif. Yang jelas sebagian besar dari hujan sudah memilih sesuatu yang tidak berguna untuk siapapun termasuk dirinya sendiri, menurutku.

Mau bagaimana lagi, ini memang sudah perjalanan hidup masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar