Kamis, 17 Maret 2011

Robin H


Aku tidak tau hujan itu siapa. Hujan anaknya siapa akupun tidak tau. Mungkin hujan itu doyan makan, mungkin jarang mandi, mungkin alergi pakai bedak, mungkin suka teh celup, mungkin kontrakan barunya di teras belakangku, mungkin malas olahraga, mungkin ingin naik vespa, mungkin juga hujan selalu terharu ketika berbicara tentang masa depannya. Jujur aku tidak tau hujan siapa.

Selama ini belum ada hujan yang mengajak aku kenalan, sudah pasti aku tidak tau mereka. Mungkin diantara ribuan hujan itu ada yang bernama Nidaus atau Fenita yang dekat dengan Tuhan, Siti yang gemar bercermin, Lia yang sedikit ambisius, Ayuning yang eum pintar, atau mungkin ada juga Ruthana hujan yang tomboy begitu. Oh iya mungkin ada juga hujan yang suka merokok, yang suka keluar malam, yang suka gitaran, ada juga mungkin ya hujan yang labil. Ah sudahlah itu aku hanya sedang mengira-ngira saja kok. Siapa tau benar, siapa tau hujan memang punya nama, siapa tau orang tua mereka harus googling dulu untuk mendapatkan nama yang cocok.

Eh tapi aku tertarik dengan hujan yang satu itu. Itu lho yang di parkiran sana, yang mengutak-atik vespanya. Kalau tidak salah namanya Robin, di sebrang sakunya ada tanda pengenal cukup besar untuk ukuran hujan. Sebenarnya aku sudah mengajak dia kenalan kemarin. Tapi dia pasif, aku kesal. Terus tahi-semutnya itu lho paling susah dilupakan, apalagi rambutnya yang bergelombang, matanya yang berair, bibirnya lebar. Ah Tuhan memang paling bisa membuat perpaduan sempurna seperti wajah Robin itu.

Kok tiba-tiba aku jadi takut ya. Takut kalau tidak jodoh. Aku dan dia kan beda jauh, bukan karena aku manusia sedangkan dia hujan, atau karena kami beda garis jenisnya. Tetapi karena latar belakang. Aku begini dia begitu. Memang sih sebenarnya buat apa memikirkan latar belakang masing-masing kalau sudah pasti bisa membuat masa depan bersama. Tetapi disini masalahnya aku dan Robin belum pasti. Kalaupun diukur dengan pizza aku merasa 3/4 bagiannya akan gagal, sedangkan 1/4 bagiannya belum tentu sempurna ya baru semacam harapan begitu.

Wah pusing juga ya naksir hujan. Ngomong-ngomong aku tidak pernah sekuat ini untuk ukuran 'naksir'. Baru naksir saja sudah seperti 'sayang' begini rasanya. Wah jangan-jangan aku sudah benar sayang. Oh Tuhan bagaimana ini. Kan sebelumnya aku sudah pernah bilang, biarkan aku sayang pada-Mu saja ya Tuhan, karna Kau satu-satunya yang tidak pernah menyakitiku. Lalu kalau aku benar sayang dengan Robin nanti kalau aku sakit hati lagi bagaimana? Aah aku paling tidak bisa menjaga perasaanku sendiri.

Dasar Robin H!

Ah apa? Robin H? Oh iya di tanda pengenalnya namanya ROBIN H. Kira-kira 'H'nya siapa ya? Jangan jangan Robin Hood a tidak mungkin, atau Robin Hujan iya mungkin itu. Ha Ha Ha three-Ha ada-ada saja orang tuanya memberi nama imut seperti itu.

Ah apapun itu lekas kemari Robin H, meneteslah tepat di atas bibirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar