Kamis, 10 Maret 2011

Puzzle


Rasanya jadi seperti anak kecil saja yang mendapatkan potongan puzzle nya kembali.

Pernah lihat anak kecil bermain puzzle? Terlihat serius tetapi tetap terkesan menikmati potongan puzzle nya yang tertata apik di atas meja. Dia menata satu per satu. Saking banyaknya sampai dia tidak sadar kalau ada satu potongan puzzle yang entah dimana. Sampai pada akhirnya anak kecil itu baru sadar kalau sepotong puzzle hilang ketia dia sudah hampir selesai menata puzzle nya. Dia menangis, kencang sekali, ibunya datang temannya juga datang menghampiri. Mereka mecari kesana kemari dan potongan puzzle itu ditemukan. Lalu anak kecil itu menyelesaikan semuanya sampai ada bentuk gambaran pemandangan indah dari puzzle tadi.

Tidak jauh beda dengan saya. Saya hampir menyelesaikan mengatur hidup saya, hidup saya hampir bahagia. Namun, sepotong hati saya tiba-tiba hilang. Mungkin tertiup angin, mungkin terselip di suatu tempat, mungkin dihanyutkan hujan, mungkin terbakar juga bisa. Sepotong hati saya hilang entah kemana. Padahal kamu sudah saya rekatkan sebagai gambar indah disana. Berarti kamu juga ikut hilang.

Lalu saya harus mencari (si)apa dulu? Potongan hati saya atau kamu yang tidak tau masih mau untuk menempel disana ataukah tidak. Yasudah saya mau mencari keduanya langsung saja. Saya mau mencari sendiri, lagipula tidak mungkinkan saya menangis manja agar mereka berdatangan membantu saya. Hei, ini hidup saya, ini hati saya, dan kamu itu milik saya. Saya memang tidak ingin ada yang ikut campur.

Setelah saya cukup lelah untuk mencari, akhirnya saya menemukan. Menemukan mu yang jauh berbeda dari yang dulu. Sekarang, jerawatmu mulai hilang, kamu sedikit putih, dan kamu yang sekarang lebih labil, ah saya tidak suka. Saya mau kamu yang dulu.

Tanpa basa-basi kamu mendekat. Oh Tuhan rasanya jadi seperti anak kecil saja yang mendapatkan potongan puzzle nya kembali, tetapi bedanya ini semua usaha saya sendiri. Kamu mendekat memberikan sesuatu. Loh itukan potongan hati saya, kenapa kamu kembalikan? Kamu pergi tanpa kalimat.

Yasudahlah tidak masalah. Saya tetap akan bawa pulang potongan hati saya yang memang sekarang hanya kertas putih kosong tanpa kamu sebagai gambar indahnya. Mau saya selesaikan semuanya agar hidup saya menjadi bahagia. Komplit sih tetapi ada yang mengganjal, aneh saja ditengah-tengah ada bagian yang gambarnya hilang.

Atau saya beli puzzle baru saja ya? Ah tidak tidak, cinta kan tidak bisa dibeli. Oh kalau begitu biar kertas putih itu saya gambari sendiri pakai pensil, biar nanti saya tetap bisa melihat gambar pemandangan yang indah, hidup saya juga akan bahagia, walau kurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar